[15]

431K 16K 218

Sore ini cukup indah untuk hari dimusim hujan. Langit berwarna ke-oranye-an dengan semilir angin yang menusuk hingga lapis kulit terdalam. Pemandangan itu sangat mudah ditangkap dari ruangan Arka. Dengan kaca besar menampakkan deretan bangunan tinggi yang sedikit menyilaukan tetapi masih sangat terlihat indah.

Karin sesekali menyungging senyum dengan tangan yang masih mengelus puncak kepala Arka yang masih terlelap di pahanya. Ia menghela nafas panjang karena kakinya mulai kram semenjak Arka terlelap dua jam yang lalu. Ruangan itu sangat terasa sunyi, mungkin karena berada di lantai paling atas.

Karin memainkan jemarinya di rambut hitam legam milik suaminya itu. Tangannya mulai menyelusuri wajah tampan Arka, mulai dari alis, mata, hidung dan berakhir pada bibir merah muda milik Arka. Bagi Karin, Arka terlihat lebih tampan saat terlelap. Ia tak pernah bosan melihat wajah Arka yang bahkan setiap hari dilihatnya, pria itu punya daya tarik tersendiri yang Karin saja bingung apa itu.

Tok..tok..

Karin menjauhkan tangannya dari wajah Arka saat mendengar pintu diketuk. Ia berusaha menormalkan detak jantungnya yang terpacu tanpa sebab, "Masuk," jawabnya.

Hana muncul dari sisi pintu, lalu tersenyum lebar pada Karin, "Karin, katakan pada Arka jika aku pulang lebih dulu. Katakan saja aku pergi berkencan jika dia bertanya kemana aku pergi, okay?" Hana mengedip-kedipkan matanya seakan memaksa Karin untuk berkata 'ya'.

Karin mengangguk pelan, "Tentu," jawabnya santai.

Hana terlihat sangat senang lalu mengedipkan sebelah matanya, "Beristirahatlah, aku tahu kamu lelah karena yang tadi,"

Karin mengerutkan keningnya, kemudian menghela nafas berat setelah pintu kembali tertutup. Tangannya kembali meraba bibir Arka, tanpa ia sadari, ia sesekali menyungging senyum lebar.

Karena keasikan dengan pikiran sendiri, Karin tidak menyadari jika Arka sudah terbangun.
"Karin, apa yang kamu lakukan dengan bib—AWW—" Sebelum Arka menyelesaikan kalimatnya, Karin sudah lebih dulu mendorong tubuh Arka sehingga kepalanya terbentur di lantai.

"Kak, maaf ya kak, Karin enggak sengaja," ucap Karin sembari membantu Arka berdiri.

Arka meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terbentur lantai. "Karin," kata Arka.

"Hm..a-apa kak?" tanya Karin gugup. Kini dia sudah siap akan dimarahi oleh Arka.

"Apa yang kamu pikirkan hingga kamu mendorongku sekuat itu? Apa aku salah jika bertanya apa yang kamu lakukan dengan bibirku, memangnya apa yang kamu lakukan dengan bibirku dengan wajah berseri seperti itu?" keluh Arka.

"Hm-, aku-aku cuma mengelap debu di bibir kakak," jawab Karin asal.

Arka tersenyum menyerigai, lalu mendekati Karin perlahan. Karin hanya bisa melangkah mundur sampai kakinya menyentuh sisi sofa sehingga ia terduduk seketika. Arka mengunci Karin dengan menempatkan kedua tangannya diantara Karin.
"Apakah cuma itu alasannya?" tanya Arka dengan tatapan menggoda.

Karin menelan ludah susah payah, "I-iya kak,"

"Benarkah?" tanya Arka mengulangi

Karin langsung menjawabnya dengan anggukan kepala.

"Apakah kamu ingin menyicipi bibirku? Apakah kita harus berciuman?" goda Arka memperdekat jarak antara wajahnya dengan Karin.

"K-kak," gumam Karin dengan wajah memelas.

Arka menggeleng, "Kenapa Karin? Aku suamimu dan aku berhak atas ini," ucap Arka menunjuk bibir Karin.

Karin hanya bisa menahan nafas, ia tak tahu harus berkata apa lagi jika keadaan sudah seperti itu. Arka menatap raut pasrah Karin, ingin sekali ia tertawa tetapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk bercanda.

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang