[36]

254K 10.7K 439

Ѯ

Arka mempereratkan mantelnya begitu angin musim dingin menyapanya saat dia ingin berjalan masuk ke pesawat yang akan berangkat lima belas menit lagi. Bibirnya sudah memutih karena suhu pagi ini di London dibawah rata-rata suhu musim dingin biasanya. Ini masih pukul dua dini hari sebab dia dan Zoe mengambil penerbangan terpagi hari ini. Mereka akan tiba di Jakarta setelah enam belas jam penerbangan. Itu akan menguras banyak tenaganya dan lagi, setibanya di Jakarta, dia tidak akan juga bisa bersantai. Masih banyak yang harus dilakukannya.

Arka melirik jam digital otomatis di ponselnya. Dia juga melihat world clock untuk melihat pukul berapa di Jakarta saat ini. Itu kira-kira pukul delapan malam.

Setelah menemukan tempat duduk sesuai yang tertera di tiket, Arka langsung mengambil posisi siap tidur setelah mematikan ponselnya. Ada yang berbeda kali ini, entah mengapa Zoe mengambil economy class. Biasanya teman seperjuangannya itu mengambil business class.

"Apa yang membuatmu mengambil economy class?" tanya Arka akhirnya setelah dia tidak bisa menghilangkan rasa penasarannya.

Zoe tersenyum tipis, "Kau tahu, aku benci dengan wangi uang yang menyeruak dari orang-orang yang ada di business class.

Arka terkekeh pelan seraya meminta seorang pramugari mengambilkannya selimut. "Wangi uang? Apa itu?" tanyanya meladeni tingkah aneh Zoe.

Zoe mengangguk dengan wajah serius tanpa berucap apapun. Dia lantas meminta kepada pramugari yang membawakan selimut untuk Arka, "Miss, bisakah kau memberiku setengah dari lesung pipimu itu?" godanya membuat pramugari itu tersipu malu. Mendengar godaan Zoe, Arka segera menyenggol lengan laki-laki itu, "Dasar! Diamlah. Silahkan layani yang lain, Nona," ujarnya meminta pramugari dengan lesung pipi yang memang lumayan dalam itu pergi.

Pramugari dengan nama Stelle itu melenggang pergi sehingga Zoe mendengus kesal, "Hei! Apa salahnya aku berkata seperti itu?" protesnya dengan penuh rasa kesal.

"Sudahlah. Ini saatnya tidur. Jangan habiskan tenagamu itu hanya untuk menggoda wanita."

Zoe melengos, "Awas! Akan kugoda Karin sesampai di Indonesia," gumamnya dengan suara sekecil mungkin. Namun jika menyangkut Karin, seorang Arka tidak akan bisa diam.

"Hei! Jangan coba menggodanya!" Arka kembali membuka selimut yang sebelumnya sudah menutup wajahnya. Dia menatap Zoe tajam, sebab Zoe bukanlah orang yang mengucapkan sesuatu dengan sembarangan.

"Hah, akan kulakukan. Tidak akan kubiarkan kau bahagia sendiri. Tidak akan." Zoe memalingkan wajahnya kearah yang berlawanan dengan tempat duduk Arka. Dia sadar jika Arka mulai menyumpah serapahi dia dengan bermacam-macam bahasa.

"Tidurlah! Aku butuh kau yang fit nantinya." Arka menepuk bahu Zoe kemudian kembali membalut dirinya dengan selimut. Dia baru sadar jika seorang Karin tidak akan mudah tergoda meskipun dia tahu betul jika 'menggoda' disini bukanlah godaan seperti biasanya, melainkan pendekatan diri layaknya sahabat.

Zoe menurut kemudian memejamkan matanya, "Aku tidak bermain-main dengan perkataanku," ocehnya yang tidak digubris oleh Arka sedikitpun.

***

"Terjadi kecelakaan di persimpangan perumahan Citra yang diperkirakan terjadi sekitar pukul 11 malam kemarin. Satu orang tewas dan satu luka berat. Ada yang aneh dari kecelakaan ini. Mobil yang dibawa oleh korban mengalami kerusakan berat di seluruh badan mobil dan diperkirakan kecelakaan ini terjadi antara dua mobil. Akan tetapi saat ditemukan, hanya ada satu mobil di TKP yang tidak lain milik korban. Polisi masih berusaha mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi. Satu keanehan lagi, tidak ada satupun saksi mata. Polisi beranggapan jika ada pihak yang terkait dibelakang kecelakaan ini dan hal itu belum bisa dinyatakan kebenarannya," seorang reporter stasiun TV nasional mengabarkan berita yang langsung menghiasi acara berita nasional pagi ini.

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang