[24]-Two

338K 12.6K 278

Karin kini sudah berjalan di rombongan paling belakang. Inilah yang membuatnya malas ikut study tour sebab menurutnya itu sangatlah membosankan. Kini mereka sedang berada di Art Science Museum. Awalnya, Karin merasa jika study tour akan menyenangkan jika Arka ikut tetapi Arka malah meninggalkannya sendirian di barisan paling belakang sedangkan dia pergi ke barisan paling depan. Entah apa yang dilakukannya di barisan depan, Karin pun tidak tahu.

Lagi-lagi Karin menghela nafas panjang. Telinganya sudah cukup capek mendengar makian Vita terhadap Vico. Tetapi Vico malah semakin gencar meluncurkan gombalan maut terhadap Vita. Entah sejak kapan, Vico sudah menjadi bagian di study tour ini.

Karin berjalan lunglai, bahkan museum yang terang benderang itu terlihat samar-samar dimatanya. Karin terkesigap begitu seseorang merangkulnya. Dengan cepat ia menoleh ke samping untuk melihat siapa yang dengan lancangnya meranngkulnya.

"Egi?" katanya agak terkejut. Egi malah menyengir lebar seakan mereka adalah teman sejak lama.
Vita menyadari kehadiran Egi langsung menampakkan wajah tak suka, "Apa-apaan sih lo?" cerocosnya marah. Vico langsung mencekal lengan Vita begitu gadis itu ingin menghampiri Egi.

Karin menggeleng, "Nggak apa-apa Vit. Kami perlu bicara. Kak Vico, tolong bawa Vita."

Vita menggeleng cepat lalu menghempaskan tangan Vico, "Gue nggak bisa ninggalin lo sama cowok jahat kayak dia, Rin." Ucapnya dengan wajah khawatir.

"Tidak Vita. Percaya deh sama gue." ucap Karin meyakinkan.

Vita menghela nafas panjang lalu berjalan sembari menarik Vico. "Kalo lo diapa-apain dia, bilang ke gue! Biar gue bacok." sinis Vita saat melewati Egi.

Egi menaikkan alisnya bingung lalu menatap Karin. Dia tidak juga melepaskan rangkulannya. Untung saja, hanya dia dan Karin yang berada di belakang, bisa-bisa mereka akan menjadi the hottest topic this month di artikel sekolah.

"Bukannya gue udah bilang, kita enggak usah saling tegur sapa?" ketus Karin menjauhkan tangan Egi dari bahunya.

Egi terlihat sama saja meskipun diperlakukan dingin oleh Karin. Ia tersenyum menyerigai, "Bukannya aku sudah katakan padamu jika aku tak akan menuruti permintaanmu jika kamu tak memberitahuku alasannya."

"Apakah perlu alasan?" tanya Karin dingin, dia bahkan tak menatap Egi sedikitpun.

"Yasudah, aku tak berharap jika kamu akan memberitahunya. Sebab dengan demikian, aku masih punya alasan untuk mendekatimu," balas Egi santai. Dia seakan tak tersinggung sedikitpun akan perkataan Karin.

Karin memutar bola matanya, "Apa alasanmu mendekatiku?" kini mata mereka saling bertemu. Seolah-olah mencari jawaban disana. Sebab mata tidak akan pernah berbohong.

Egi tertawa keras, sampai-sampai air mata menyelinap di pelupuk matanya. "Karena aku mencintaimu Karin. Apakah aku tak begitu memperlihatkan perasaanku atau kamu yang tidak peka?"

Karin sama sekali tidak terkejut. Bukannya terlalu percaya diri, tetapi dia sudah tau bagaimana tatapan laki-laki jika menyukai seorang perempuan. Dari tingkah lakunya hingga caranya mendekat.

Egi tertawa lagi meskipun dia cukup kecewa dengan ekspresi yang ditunjukkan Karin. "Apakah aku belum berhasil membuatmu luluh, Karin?"

Karin tersenyum miring, luluh? Memangnya apa yang sudah kau lakukan sehingga aku harus luluh terhadapmu? Kak Arka saja yang sehebat itu belum berhasil membuatku luluh sepenuhnya, sedangkan kau? Kau bukan bagian dari hidupku dan kau hanya orang asing bagiku!

Kini mereka sudah tertinggal jauh dari rombongan, tetapi mereka tidak peduli karena mereka harus meluruskan apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Egi berusaha menyembunyikan kesedihan serta kekecewaannya sedangkan Karin tetap diam dan masih berpikir keras.

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang