[Super-Extra-Part] THREE

203K 8.9K 485

Arka mengedipkan matanya berulang kali begitu mendengar kegaduhan di dalam kamarnya. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan Karin-istrinya sendiri. Arka meregangkan tubuhnya sembari mengumpul semua kesadarannya.

Dia melirik pintu kamar mandi karena itu sudah ketiga kalinya Karin terdengar bolak-balik ke sana. Awalnya dia hanya berpikir jika Karin sedang sakit perut. Namun karena kali ini cukup lama dibandingkan sebelumnya. Arka memilih menghampiri Karin yang belum juga keluar dari kamar mandi.

Arka mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban hingga akhirnya ia memilih membukanya karena dia mulai khawatir tanpa sebab.

"Karin, kamu kenapa?" tanya Arka panik begitu melihat Karin terduduk lemas di atas toilet dengan tangan memegangi perutnya, "Kamu kenapa, Sayang, hah?"

Tidak ada jawaban dari Karin membuat Arka semakin ketakutan melihat keadaan Karin yang terlihat tidak baik. "Kamu kenapa? Kamu sakit? Bayi kita kenapa?" tanyanya lagi mengulangi.

"Kak, perutku sakit," lirih Karin dengan suara lemah, "Rasanya mual Kak, badan Karin enggak enak." Tambahnya lagi seraya menatap Arka dengan mata berkaca-kaca.

"Rasanya mau muntah, tapi nggak keluar apa-apa Kak. Ini mungkin karena masuk fase trimester ya, Kak?"

Arka menggeleng tidak mengerti. Sungguh dia tidak tahu apa-apa tentang kehamilan, "Ya udah, kita ke rumah sakit kenalanku. Kita harus mastiin kamu dan bayi kita baik-baik saja." Arka langsung menghapus air mata yang mulai jatuh dari pelupuk mata Karin kemudian memapahnya berjalan. Ia segera mengambil mantel istrinya itu dan segera berlalu pergi karena dia harus tahu bahwa semuanya akan baik-baik saja.

***

"Bukannya kamu pernah belajar tentang kehamilan waktu belajar kedokteran?" tanya Arka memulai pembicaraan.

Kini mereka ada di rumah sakit tempat kenalan Arka-Fadli bekerja. Mereka harus menunggu sekitar 30 menit untuk mengatur jadwal temu. Karena ini masih pagi, belum banyak pasien yang berdatangan.

"Kami hanya belajar tentang alat produksi Kak dan fase perkembangan bayi tapi kami enggak belajar tentang gejala-gejala kehamilan karena itu sudah termasuk ke spesialis kandungan," jawab Karin seadanya. Dia terlihat lemah dan khawatir dalam waktu bersamaan.

Arka mengerti sebab wajar karena itu adalah kehamilan pertamanya. Pasti perasaan waswas itu ada.

Beberapa saat kemudian suster memanggil Karin dan Arka untuk masuk ke dalam ruangan dokter Fadli. Begitu memasuki ruangan itu, Fadli langsung terlihat sumringah melihat Arka. "Bener 'kan Arka yang ini. Gue kira Arka yang lain. Apa kabar, Bro?" sapa Fadli ramah sembari menyalami Arka.

"Baik Bro. Ini istri gue, Karin."

Fadli melirik Karin sesaat, seolah menilai lalu menatap Arka, "Hebat juga lo cari istri, cantik bener. Lo tau Dina, gue udah stress dengar omelan dia setiap hari, apalagi semenjak anak kedua kami lahir, makin kelihatan sifat aslinya cewek Bro."

"Iya Bro, kita datang kesini mau lo periksa istri gue." ucap Arka langsung ke inti, karena dia takut Fadli malahan bercerita panjang tentang istrinya.

"Dengan Ibu Karin, ya?" Karin mengangguk kecil, "Usia kandungannya kira-kira 4 minggu, benar?" Karin kembali mengangguk.

Fadli langsung meminta Karin untuk diperiksa. Setelah beberapa saat, Fadli menjelaskan pada Arka jika apa yang terjadi pada Karin itu adalah hal yang wajar di awal kehamilan. Arka yang tidak begitu mengerti hanya mengangguk paham.

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang