[34]

234K 10.6K 299

Ѯ

"K- Karin?" suara berat yang sudah sangat dirindukannya itu kembali terdengar, membuat matanya tiba-tiba berair. Serindu itukah dirinya hingga hanya dengan suaranya saja bisa membuatnya menangis?

Sebelum menjawab pertanyaan Arka, Karin lebih dulu menekan tombol record agar pembicaraanya dengan Arka bisa selalu dia dengar dikala dia merindukan lelaki itu.

"Ya, Kak?"

"Hm..." terdapat jeda beberapa detik hingga Arka kembali melanjutkan ucapannya, "kamu nangis?"

Karin segera menghapus air matanya, "Enggaklah. Buat apa aku nangis?" jawabnya dengan suara dibuat seceria mungkin.

"Kamu udah lihat berita?" tanya pria itu lagi. Entah mengapa dia merasa sedikit canggung. Apakah itu efek dia merindukan gadis itu atau karena dia merasa bersalah, dirinya sendiri tidak tahu.

"Berita? Berita apa, Kak? Aku enggak tau," jawab Karin berbohong. Padahal dia tahu maksud Arka hanya saja dia tahu jika seandainya dia berkata 'tahu' maka spontan Arka akan mengkhawatirkannya. Dia tidak ingin merepotkan Arka dan membuat laki-laki itu jauh lebih lama darinya lagi.

Terdengar jika Arka menghela nafas lega, "Baguslah. Bagaimana ujianmu?"

"Entahlah, Kak. Aku kira aku gagal. Haah... Hanya saja aku yakin sekolah tidak akan membuatku 'tidak lulus' di izasah." Karin berkata dengan mantap, membuat Arka spontan terkekeh di seberang sana.

"Jangan sepelekan sekolah. Itu neraka. Apakah kamu belum mengantuk? Aku rasa disana sudah malam."

Karin mengerutkan keningnya, dia merasa mendapat kunci dari ucapan Arka, 'aku rasa disana sudah malam? Jadi... Kak Arka tidak berada di Indonesia sekarang? Jadi dimana dirimu sekarang, Kak?

"Iya, Kak. Disini udah jam sepuluh, ditempat Kakak?" Karin berusaha mengorek semua tentang keberadaan Arka sekarang.

"Disini masih sore."

Karin tersenyum puas, seperti biasa, suaminya tidak peka. Karin semakin bersemangat mengorek petunjuk keberadaan Arka, "Apakah Kakak enggak kedinginan?"

"Hah? Maksud kamu? Yah, disini cukup dingin." Arka berucap tanpa mengetahui jika Karin sedang berusaha mengintrogasinya. Mungkin dia lupa jika istrinya itu lebih cerdas darinya. Karin tersenyum lebar, sebab dia sudah memprediksikan jika Arka sedang berada di Inggris sekitar. Sebab ini pukul sepuluh malam di Indonesia dan Arka berkata jika disana masih sore. Spontan itu berarti jarak perbedaan waktu adalah 5-8 jam. Berarti Arka kemungkinan besar berada di Inggris dan sekitar dan bukti yang lebih menguatkan adalah, Arka berkata jika disana cukup dingin. Karin bukan hanya sekedar basa-basi bertanya keadaan disana sebab daerah Inggris dan sekitar sedang musim dingin sekarang. Dua bukti inu sudah cukup meyakinkan Karin jika Arka berada di Inggris dan sekitar.

"Kak, aku minta gantungan kunci yang gambarnya Big Ben atau bendera Inggris, yah."

"Gantungan kunci? Hei, aku bahkan bisa membawa lukisan Big Ben yang dilukis langsung oleh pelukis jalanan, Sayang..." lagi-lagi ada jeda, "maksudku, aku akan usahakan. Sebab aku tidak akan dengan mudah mendapatkannya."

Karin tersenyum miring, kena kamu Kak. Kakak belum cukup pintar membohongiku. Karin langsung yakin jika Arka sedang berada di Inggris sekarag ini atau lebih tepatnya di London. Sebab memang banyak pelukis jalanan di kota mana saja di Inggris tetapi hanya di London-lah para pelukis jalanan akan melukis Bih Ben dihadapan kita karena objek yang akan dilukis juga biasanya berada di hadapan pelukis.

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang