[LAST] s a t u

296K 10.1K 725

∈∋

Setahun kemudian

Terik matahari membuat keringat tidak henti-hentinya mengucur dari pelipis perempuan itu. Ini sudah ke dua kalinya dia harus bolak-balik dari  lab anatomi menuju ruang Profesor Aldi untuk memberikan laporan hasil kerjanya beserta teman-temannya yang lain. Jarak dari ruang Profesor Aldi dengan lab cukup jauh, sekitar ±500 meter dan harus melewati lapangan outdoor yang sangat panas.

Karin menyeka keringatnya kemudian mengikat rambutnya asal. Bahkan pakaian praktek-nya lupa ia lepaskan sebelum menemui Profesor Aldi. Jika keadaan kampus sedang ramai, dia pasti sudah malu. Tetapi tidak malu juga sih, sebab tidak ada anehnya jika mahasiswa fakultas kedokteran mengenakan perlengkapan lab. Semua orang tahu jika anak kedokteran akan berkutat dengan benda-benda aneh.

Karin berjalan dengan lesu, berniat kembali ke lab untuk mengambil tasnya yang tertinggal. Setelah ini dia harus ke perpustakaan untuk mencari bahan tugas bulanannya. Kalian pasti tahu buku anak kedokteran itu jarang sekali ada yang tipis dan Karin harus mencari sumber-sumber yang jelas untuk tugasnya kali ini.

Setelah selesai merapikan semua peralatan lab yang digunakan ke tempatnya, Karin segera mengambil tas dan bergegas keluar lab. Langkahnya melambat ketika dia menginjakkan kaki di taman fakultas kedokteran, angin terasa sejuk menyapu rambutnya. Karin tersenyum kecil dan memilih duduk di salah satu bangku besi di taman itu untuk menenangkan pikirannya yang kacau perihal tugas kampus.

Suasana di sekitar taman sangat sepi, hanya beberapa anak laki-laki kedokteran yang sepertinya baru bermain voli di lapangan belakang lab sedang berjalan menuju kamar ganti dengan wajah penuh keringat. Salah satu di antara orang-orang itu menoleh ke arah Karin dan berbicara kepada teman-temannya, entah apa yang dikatakannya, Karin tidak bisa mendengarnya.

Laki-laki itu melambaikan tangan kepada teman-temannya yang mulai pergi sedangkan dia berbalik arah dan berjalan menuju tempat di mana Karin duduk. Karin hanya bisa menghela napas tanpa berkata apa-apa. Laki-laki itu tersenyum lebar.

"Lo ngapain di sini? Nungguin gue, ya?" tanya laki-laki itu dengan pede-nya. Bukan pede sih sebenarnya, karena yang dikatakannya benar adanya jika Karin memang sedang menunggunya.

"Gue pikir lo bercanda tadi pagi. Gimana? Lancar?" tanya Karin sembari mengisyaratkan laki-laki itu untuk duduk di sebelahnya.

Laki-laki itu mengangkat bahunya, lalu duduk di sebelah Karin, "Entahlah, kayaknya bakal hancur, soalnya Prof Deni belum mau nandatangani berkas itu." Laki-laki itu menghela napas panjang.

Karin mengangguk tanda mengerti. Suasana kembali diam, hanya suara dedaunan dan ranting-ranting pohon tertiup angin yang terdengar. Hingga akhirnya laki-laki itu kembali buka bicara.

"Terus setelah ini lo mau kemana?" laki-laki itu menatap Karin sambil menegak air mineral yang baru saja dibukanya hingga tandas.

"Ke perpus, lo mau nemenin?" Karin balas menatap laki-laki itu. "Karena lo pasti ada gunanya dibawa," sambung Karin sambil terkekeh kecil.

Laki-laki itu mengacak rambut Karin, membuat Karin langsung menatapnya penuh kemarahan, "Dimanfaatin nih yee," laki-laki itu lantas bangkit dari duduknya setelah puas mengacak rambut Karin. "Tapi apa sih yang enggak buat lo, Rin."

Karin mengerucutkan bibirnya tanda kesal, "Sana kalo nggak ikhlas," ucap Karin ketus. Laki-laki itu bukannya sakit hati tetapi malah tertawa kuat.

"Iya, iya, gue bantuin. Tapi gue mau ganti baju dulu, ntar kalo gue pakai baju kayak gini ke perpus, cewek-cewek ntar malah pada terangsang, iya, kan?" laki-laki itu berkata dengan percaya diri. Karin mengaku jika laki-laki itu terlihat sangat menarik dengan kaos putih yang sudah setengah basag karena keringat dan celana hitam, membuatnya terlihat sangat dewasa.

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang