[LAST] sembilan

216K 9.7K 354

Masih terlalu pagi untuk menemukan sebuah bis yang sudah mulai beroperasi. Ditambah suhu yang sangat rendah yang hampir mendekati 0° membuat Karin harus bersabar menunggu hingga pukul 5 untuk bis pertama yang akan beroperasi menuju tempat tujuannya. Sebenarnya bukan hal yang sulit menemukan taksi di sekitar bandara tadinya, namun Karin memilih berjalan ditengah dinginnya pagi ini menuju halte bus yang berada tidak jauh dari bandara. Ada juga beberapa penduduk setempat yang menawarkan tumpangan, mungkin karena penduduk terlalu ramah atau sebab yang lain, Karin menolak semuanya dengan sopan.

Dibalik dinginnya angin pagi, Karin berusaha bertahan dengan mantel tipis yang memang sejak awal ia kenakan. Dia sama sekali tidak menyangka jika cuaca di Jerman akan sedingin. Suhu itu bahkan begitu membunuhnya, membuat otaknya tak bisa memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Bahkan meninggalkan Indonesia tanpa ada yang mengetahui sudah hal tergila yang pernah seorang Karin lakukan. Mungkin dia memang sudah gila, nyatanya dia benar-benar pergi ke negara orang tanpa pikir panjang dan inilah akibatnya, dia kedinginan layaknya orang tanpa tujuan.

Karin merogoh saku mantelnya, mengeluarkan kertas yang menjadi bukti keberadaan Arka. Kertas yang akan menjelaskan apa yang akan terjadi dan kertas yang menjadi alasan mengapa dirinya sedang berada di negara orang hanya untuk membuktikan apakah kertas itu asli atau palsu

Sekitar 15 menit lagi bus yang dimaksud akan tiba. Karin segera menyimpan kertas itu kembali dan mempererat syal yang sudah melingkar di lehernya. Dia ingin menemukan tempat untuk menginap beberapa hari di hotel di sekitar alamat yang ada di kertas itu. Dengan begitu dia tidak akan kesulitan jika sewaktu-waktu ia benar-benar memastikan apakah benar jika Henry yang ada di kertas itu adalah Arka yang dia kenal. Dia perlu mengetahui mengapa Arka harus mengganti namanya dan tidak memberitahunya yang sebenarnya. Karin berhak tahu semua itu sebab dia masih istri dari seorang Arka.

Akhirnya bis yang dinantikan tiba, Karin segera merangkul tas ransel serta nembawa koper kecilnya ke dalam bus. Dia adalah penumpang pertama bus itu.

"Kenapa kau menggunakan bus sepagi ini, Nona?" tanya supir bus itu sopan dengan bahasa Jerman. Karin yang semasa SMA mempelajari bahasa Jerman sedikit mengerti maksud dari sang supir. Karin tebak bapak itu berusia 50-an.

Karin hanya tersenyum kecil, "Bisakah kita berbahasa Inggris? Saya tidak fasih berbahasa Jerman," balas Karin dengan bahasa Jerman yang terbata-bata.

Bapak itu mengangguk, "Tentu, aku tahu kau bukan penduduk lokal, Nona. Apa kau turis yang sedang berwisata kemari?"

Karin menggeleng, "Aku harus menemui seseorang disini, dia sedang sakit."

"Siapa dia? Orangtuamu? Keluargamu?" tanya bapak itu lagi. Karin sama sekali tidak terusik meskipun ditanya tentang privasinya, karena menurutnya bapak itu sangat ramah.

"Sebenarnya dia suamiku," jawab Karin singkat. Ia menantikan reaksi sang bapak. Pasti dia merasa aneh karena Karin masih terlihat terlalu muda untuk menikah.

Bapak itu tertawa, Karin tidak mengerti mengapa ia tertawa, jadi Karin hanya menunggu. "Kau mengingatkanku pada putriku yang menikah muda dengan pria Amerika. Aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang, tapi aku harap pernikahan mereka berjalan dengan baik."

Karin hanya mengangguk kecil. Matanya menjelajah pemandangan sepanjang perjalanan. Dia banyak menemukan orang-orang sudah beraktivitas di hari sedingin ini. Karin membuka map yang dia beli di bandara tadi. Dia harus berhenti di halte bus ketiga, dan dia akan mencari tempat menginap di sekitar sana.

"Jika tidak keberatan, apakah kau bisa mengatakan apa yang terjadi dengan suamimu, Nona?" Bapak itu kembali bertanya setelah beberapa saat. Karin merasa tidak masalah, tapi dia tidak tahu harus menjawab apa karena dia sendiri sedang mencari jawaban itu sehingga ia akhirnya tiba di negara asing itu.

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang