[LAST] d u a

234K 9.7K 834

∈∋

Minggu pagi Karin sempatkan untuk bersantai ria di rumah, jauh dari tugas kuliah dan lainnya. Jemarinya sedang menari di atas benda pipih berwarna silver, sedang mengetik. Kadang Karin tertawa lantang dan kadang memaki seseorang tanpa disebutkan namanya.

Sebenarnya Karin merasa muak kepada Angga perihal laki-laki itu seakan-akan menyembunyikan sesuatu darinya. Jelas sekali ada yang terjadi kemarin saat laki-laki itu mengantarnya ke rumah. Entah apa itu, Karin dibuat kesal olehnya.

KarinKH : Gue serius, lo bisa sih serius juga Ga?

Angga-ra : Serius lho beb, aku nggak nyembunyiin apa apa kok, cius

KarinKH : Cih, alay. Btw, lo bisa masuk ke apartemen gue gimana caranya?

Angga-ra : Gue sulap:v btw, gue mau nanya, KH dibelakang nama lo itua artinya apa?

KarinKH : Kepo:v

Angga-ra : Gue serius kali rin

KarinKH : Gue juga serius dari tadi

Angga-ra : Cape deh ngomong sama lo

KarinKH : Kita chatting kawan, bukan ngomong:v

Angga-ra : Serah dah-_-

Tidak berniat melanjutkan chat receh dengan Angga, Karin beranjak dari duduknya kemudian berlalu ke dapur, mencari sesuatu yang bisa dimakan. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi dan Karin belum juga sarapan. Itulah sebabnya penghuni perutnya mulai berdemo meminta jatah. Karena tidak menemukan satupun makanan di dapur, Karin bergegas ke kamar, mengambil dompet dan ponselnya, berniat pergi ke supermarket untuk berbelanja.

Sesudah mengambil dompet dan ponsel, Karin tiba-tiba terpaku di depan lemari kecil di sebelah ranjang. Sebuah frame photo putih menarik perhatiannya. Foto pernikahannya dengan Arka. Pernikahan yang di mulai dengan rasa canggung dan harus berakhir dengan menyakitkan.

Karin tersenyum miring, Kak, apa kabar kakak di sana? batinnya lalu berlalu pergi sebelum kenangan yang tidak diinginkannya kembali membuatnya lemah.

***

Lantunan lagu perfect dari Ed Sheeran memenuhi kamar yang bernuansa sepak bola. Seseorang di dalam kamar itu ikut bernyanyi, mencoba membuat suaranya terdengar merdu seperti penyanyu aslinya. Namun sekeras apapun usahanya, suaranya jauh lebih parah daripada suara piring kaleng jatuh.

Merasa bosan, Angga memilih menghabiskan hari Minggu-nya dengan bermain play station di kamarnya. Bahkan kakaknya sudah memanggil namanya lebih dari tiga kali, tetapi the power of mager lebih kuat dibandingkan rasa masakan Kakaknya yang terkenal hambar.

"Dek, sarapan! Udah kakak masakin buat kamu," ucap Vana-Kakak satu-satunya yang Angga punya- masih mengenakan celemek.

Angga mendengus, "Apanya sarapan kalo rasa hambar gitu. Udah deh kak, kakak butuh les masak, soalnya masakan kakak merusak lidahku," cibir Angga masih fokus dengan game tanpa sedikitpun melihat ke arah kakaknya.

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang