[40]

292K 11.8K 1.3K

Ѯ


Vita masih saja gelisah, sejak tadi gadis itu berjalan mondar-mandir, menunggu seseorang di sana menerima teleponnya.

"Gimana Vit? Kak Vico angkat?" tanya Karin bangkit dari duduknya. Karin melangkah nendekati sahabatnya yang berada di pojok ruangan.

Sejak tadi Vita mencoba menelepon Vico, tetapi pria itu tidak menerima panggilannya sejak beberapa hari terakhir, atau tepatnya setelah berita kematian Arka diumumkan.

Karin sebenarnya ingin sekali menemui Vico lalu menanyai segala hal yang belum dia ketahui, tetapi dia tidak mau pergi ke perusahaan karena dia belum siap mendengar kata-kata penyemangat yang diberi karyawan Arka nantinya, seolah pria itu benar-benar telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.

"Vita, jawab aku..." lirih Karin karena sejak tadi Vita belum menjawab pertanyaannya.

"Diamlah Karin! Aku juga cemas!" ucap Vita setengah membentak.

Karin terdiam. Vita benar jika bukan hanya dia yang cemas sekarang, melainkan semua orang. Karin merasa egois, dia hanya mementingkan dirinya tanpa memperdulikan orang lain yang senasib dengannya meskipun yang paling kasihan adalah dirinya karena berharap terhadap orang yang sudah tiada.

"Maaf..." cicit Karin pelan dengan wajah nenunduk, tanda jika dia merasa bersalah.

Vita menghela napas panjang, tangannya menjauhkan ponsel dari telinganya, dia sudah lelah, "Maafkan aku," Vita membawa Karin ke dalam pelukannya.

Dia merasa bersalah membentak sahabatnya itu sebab semua orang tahu, pihak yang paling menderita adalah Karin. Dibandingkan dengan dirinya, dia masih beruntung menunggu orang yang masih hidup. Menunggu dia yang ada saja membuat Vita frustasi, apalagi Karin yang menunggu orang yang tidak akan pernah kembali lagi.

***

Jantung ini terasa sudah berhenti. Tidak ada lagi tanda kehidupan lagi di raga ini.

Karin menepuk dadanya, rasa sesak itu masih ada. Masih sangat terasa nyata kala kabar itu tertangkap oleh indra pendengarannya.

"Aku benci dunia ini... benci," gumaman kecil lolos dari bibir kelu gadis itu, jarinya terus mengusap layar ponselnya, menatap memori yang sempat diabadikan.

Air matanya sepertinya sudah kering, tidak ada tanda-tanda akan membasahi lagi wajah pucat itu.

Karin masih sangat ingat, di mana Arka akan memberikan semangat kala dia down. Karin masih sangat ingat bagaimana marahnya Arka melihatnya hampir gila saat kematian Sasha. Tamparan pria itu menyadarkannya bahwa dia tidak sendiri, sebab pria itu akan selalu bersamanya.

Tapi mana?

Pria itu malah pergi. Tidak ada kata perpisahan, kecupan terakhir, dan senyuman terakhir. Yang ada hanya rasa sakit tak berujung. Kini tidak ada lagi yang akan memeluknya di saat dia menangis, memarahinya di saat di salah, menciumnya dengan penuh kasih sayang, dan tidak ada lagi yang akan tersenyum kala dia membuka mata di pagi hari.

Semuanya tinggal kenangan.

Senyum getir tercetak jelas di bibir Karin. Gadis itu tidak tahu apa yang sedang dia rasakan sekarang. Semuanya hambar dan abu-abu... tidak jelas.

Matanya memejam, mencoba mengingat percakapannya tadi dengan Vico.

Tangan gadis itu terasa kelu saat kulitnya menyentuh permukaan pintu besar yang pernah menjadi saksi awal pertemuannya dengan Gria. Dulu dia masih bisa menemukan sosok pria itu di balik pintu itu, sekarang dia takut, dia tidak menemukan pria itu lagi.

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang