[13]

468K 18K 641

"Apa sudah ada perkembangan?" Tanya Rini saat menarik Karin ke pojokan. Vita dan Sasha memilih duduk di bangku tamu sampai pesta dimulai sedangkan Arka sedang berbincang-bincang dengan kolega dan sahabat dekatnya.

"Perkembangan apa ma?" tanya Karin lugu. Dia paling lemah jika ditanyai tentang sesuatu tanpa tema yang jelas.

"Apa kamu udah ada perubahan yang berarti dengan Arka? Misalnya baby atau—"

"Stop ma, aku dan kak Raka biasa saja. Dia sering pulang dan makan dirumah. Dia sepertinya masih merokok karena aku masih sering nemuin puntung rokok di saku jasnya dan lagi ma, masalah anak atau apalah itu, bukankah Karin sudah bilang  jika Karin masih fokus sama sekolah Karin dan sepertinya kak Arka juga enggak nuntut," terang Karin lengkap.

"Kamu tahu, kamu satu-satunya perempuan yang dituruti oleh Arka selain aku. Kamu pasti sudah ngerasain betapa keras kepala dan manjanya Arka, bukan?" Karin langsung mengangguk setuju. Seperti tempo hari, Arka tak mau bangun jika Karin tak mencium pipinya. Karin yang tak suka mencium orang lain memilih mengabaikan permintaan Arka. Hanya karena itu, Arka mogok makan dua hari dan ngambek enggak jelas.

"Dia hanya akan menampakkan sisi lucunya pada orang yang dianggapnya akrab atau kepada orang yang dicintainya," sambung Rini dengan senyum merekah.

Karin hanya tersenyum lebar sembari mengedar pandangan nya untuk mencari keberadaan Vita dan Sasha. Seseorang menepuk bahunya saat ia sedang celingak-celinguk. Ia berbalik badan untuk melihat siapa yang baru saja menepuk bahunya.

"Kau ingat aku nyonya Hardikusuma?" Seorang wanita dengan pakaian tipis dan kurang bahan yang terlihat seksi di tubuh langsingnya serta make up yang terkesan natural—tersenyum lebar membuat Karin mengerutkan kening heran.

Dimana aku pernah bertemu perempuan secantik ini? Aku sepertinya pernah bertemu dengannya, ucap Karin dalam hati. Dia memang paling lemah dalam mengingat hal yang menurutnya tak penting dan hanya membuat memori di otaknya berkurang hanya untuk mengingat nama dan wajah orang yang ditemuinya setiap hari.

Rini tiba-tiba menarik paksa Karin sehingga Karin tersontak kaget. "Kenapa, ma?"

"Jangan dekati wanita iblis itu!" ucap Rini dengan emosi. Matanya terlihat memerah dan air mukanya yang begitu berbeda dari beberapa menit yang lalu.

"Hei, nona Hardikusuma, ayo mengobrol sebentar," kata wanita tadi.

"Ma, dia mau bicara dengan Karin," Karin melepas tarikan Rini lembut.

"Dia itu berbahaya Karin. Dia bisa melukaimu," Rini menatap Karin memelas.

"Tidak mama, tidak mungkin kan, dia melukaiku di tengah kerumunan seperti ini? Hanya mama saja yang terlalu khawatir. Ma, percaya deh sama Karin, aku enggak bakal kenapa-kenapa." Karin berusaha meyakinkan ibu mertuanya itu. Dia bahkan tidak tahu kenapa Rini tak memperbolehkannya sekedar berbicara dengan perempuan misterius itu.

Setelah Rini memperbolehkannya berbicara pada wanita yang tak asing dimatanya itu, Karin langsung menghampiri wanita itu.

"Bolehkah saya tahu anda siapa?" Tanya Karin sopan.

Wanita itu menyesap anggur yang ada ditangannya kemudian terkekeh pelan, "Wah, sepertinya nyonya Harsikusuma ini pelupa. Baiklah nama saya Gria. Kita pernah bertemu di kantor Arka."

Karin manggut-manggut lalu tersenyum lebar, "Haha, saya memang pelupa. Ada yang perlu dibicarakan dengan saya?"

Gria meletakkan kembali gelas yang tadinya berisi anggur yang kini sudah kosong. Ia memperdekat jaraknya dengan Karin, "Aku hanya ingin bertanya, apakah kau yakin Arka akan menjadi milikmu selamanya? Hah? Jangan bermimpi! Arka itu milikku, kau hanya dijadikan sebagai mainannya saja."

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang