[37]-TWO

230K 10.9K 342

Ѯ

Arka ragu.

Ragu akan pilihan yang akan diambilnya. Antara dia menghentikan rencananya sejak lama demi Karin atau melanjutkan rencananya dengan mengorbankan Karin. Dua hal itu sungguh berlawanan dengan hati dan pikirannya sekarang. Kedua pilihan memiliki keuntungan dan kerugian di waktu yang sama.

"Apa yang kau tunggu? Lakukan atau Karin mati!"

Suara itu kembali terdengar dari benda pipih ditangan Arka. Tangannya sudah mengepal kuat. Tanda jika emosinya sudah mencapai batas.

Dengan langkah pasti, Arka mendekati meja dengan sebuah telepon diatasnya. Sebenarnya dia ragu, tapi dia tetap harus memilih, selama apapun dia berpikir. Gagang telepon itu terasa sangat dingin di permukaan tangan Arka. Seakan meminta tangan Arka menjauh darinya, dan jangan memegangnya. Tetapi Arka harus.

Arka mulai mencari nomor Zoe di ponselnya. Mulai menekan tombol angka di telepon itu. Mendekatkan gagang itu ke telinganya. Jantungnya terpacu cepat saat suara tanda Zoe menerima panggilannya terdengar.

"Hello, Zoe's speaking," suara khas Zoe terdengar membuat Arka semakin ragu dengan pilihannya.

"Hallo? Ini siapa?" ulang Zoe karena tidak mendengar suara apa-apa.

Arka menghela napas panjang, "Ini aku Zoe, Arka."

"Ada apa? Apa Karin baik-baik saja?"

Arka diam. Mengumpulkan segala keberanian untuk mengatakan pilihan yang sudah terpatri di pikirannya. Hanya saja segala kemungkinan buruk mulai menghiasi pikirannya. Mata Arka tidak henti-hentinya melirik suruhan Gria yang sudah berada di sekitarnya. Dengan tatapan siap membunuh.

"Jalankan rencana dengan baik, dan tunggu aku!" Arka memutuskan sambungan dan melempar gagang telepon itu hingga terpental di lantai.
Suruhan Gria mulai terlihat serius. Tinggal menunggu kapan majikan mereka memerintah.

"Apa yang kau lakukan Arka?!" Suara Gria membentak kembali mengisi indra pendengaran Arka tetapi pria itu malah tersenyum menyerigai, ia menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan."

Seperti yang Arka duga, Gria memerintahkan para suruhannya untuk membawanya ke tempat dimana wanita itu berada. Dan dengan demikian, maka Arka akan mengetahui dimana Gria menyekap Karin.

Senyum miring menghiasi wajah Arka kala para suruhan Gria memegang tangannya paksa dan menariknya menuju mobil yang terparkir di luar bangunan tua itu.

Kau terlalu bodoh untuk bersaing denganku, Gria.

***

Ruangan bercat cream itu terasa menganehkan. Semenjak Gria beserta suruhan membawanya ke kamar tidur mewah itu dua jam yang lalu, sejak itu juga Karin belum mendengar suara apapun. Awalnya Karin berpikir jika dia berada di tempat yang jauh dari kerumunan, tapi yang Karin lihat, di luar jendela banyak bangunan tinggi.

Pikiran Karin teralih sejenak saat dia mendengar suara pintu diketuk. Itu spontan membuatnya menoleh ke arah pintu yang berada di sebelah kirinya. Disaat itu juga emosi dan semua perasaannya tercampur aduk.

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang