[24]-Four

267K 12.6K 274

"Haaah..." Arka menghela nafas panjang sembari berjalan lunglai. Dia bahkan sudah tidak menghiraukan pandangan orang-orang kearahnya. Keinginannya hanya satu, yaitu pergi sekarang juga daripada menjadi obat nyamuk antara dua manusia yang terlihat alay dimatanya. Siapa lagi kalau tidak, Vico dan Vita. Couple alay yang bahkan sudah membuat perut Arka mulas hanya dengan melihat keduanya.

Kali ini Arka menghela nafas karena alasan lain. Alasan yang membuatnya ingin berlari dari kenyataan. Kenyataan jika dia sudah menyakiti perasaan Karin—istirnya. Sungguh dia tidak tahu siapa yang salah disini dan dia tidak berniat tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang Arka inginka hanyalah kembali ke saat dimana dia dan Karin belum menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi seperti sekarang.

Ponsel Arka bergetar sehingga sang empunya langsung mencari keberadaan benda pipih itu. Arka mendecak kesal begitu mendapati notifikasi dari group chat. Padahal dia berharap itu adalah sesuatu yang berhubungan dengan Karin. Arka membuang pandangannya keluar kaca besar pembatas antara bangunan mewah itu dengan dunia luar. Matanya membulat begitu melihat sesuatu di luar sana. Karin sedang berjalan menuju Gardens by The Bay yang bisa dilihat dari bangunan MBS. Arka langsung mengambil ancang-ancang cabut.

"Woii, gue cabut duluan, penting nih," ucap Arka berbalik arah, menuju tangga di sebelah timur bangunan itu.

Vico dan Vita menatap kepergian Egi dengan kening berkerut yang cukup jelas mengekspresikan keheranan mereka, sampai akhirnya keduanya saling bertatapan, "Dia kenapa? Lagi 'M' mendadak kali, ya?" ujar Vico membuat Vita terkekeh pelan.

"Kenapa?" tanya Vico.

Vita mendorong wajah Vico yang jaraknya sudah terlalu dekat ke wajahnya, "Modus! Eman lo kira cowok bisa 'M'? Lo kali yang 'M', lo kan banci."

"Yang penting ganteng, ya kan?"

"Cih."

Dilain tempat, Arka sudah berlari mengejar Karin yang hampir tertelan kerumunan. Langkahnya melambat begitu jaraknya dengan Karin hanya sekitar lima meter lagi. Jarak itu sudah cukup baik untuk memata-matai apa yang dilakukan Karin di taman ini sendirian.

Sendirian?

Arka merasa bodoh mengira Karin sendirian, sebab ternyata Karin bertemu dengan Egi di sana. Pemandangan Karin mendekati Egi yang sedang memunggungi Karin membuat dadanya nyeri. Arka memilih brsembunyi diantara semak bunga di samping kursi untuk bisa mengintip dari sela semak dan dapat mendengar pembicaraan antara Karin dan Egi.

"Langsung ke point utama!" ketus Karin sembari melipat kedua tangannya didepan dada.

Egi membalikkan tubuhnya sehingga kini ia berhadapan dengan Karin, ia tersenyum menyerigai, "Pertanyaan gue simple. Lo udah nikah, kan?"

Mata Karin spontan membulat, tubuhnya mulai bergetar, detak jantung terpacu cepat dan tubuhnya melemas, tetapi ia tetap terlihat tegar meskipun sebenarnya sekarang dia ketakutan.

"Lalu?"

Suara tawa memenuhi gendang telinga Karin. Egi tertawa lantang. Karin semakin takut, entah apa yang membuatnya takut.

"Gue penasaran gimana tanggapan orang-orang jika mengetahui Karin, si jenius ternyata sudah menikah dengan pria yang diperkenalkannya sebagai Kakaknya. Guru-guru pasti syok kalo tau murid emas kesayangan mereka ternyata ternyata seorang istri dari CEO Arka Hardikusuma."

Dari kejauhan, Arka tersenyum lebar, sekolah udah tau kalo Karin udah nikah, ucapnya dalam hati.

"Terus kenapa? Cuma itu yang lo mau katakan? Kalau iya, biar gue pergi." jawab Karin dingin.

Egi mendecih, "Lo jangan sok kuat!" ketusnya, "kenapa lo harus masuk ke kehidupan gue? Kenapa gue harus kenal elo, bangsat?" teriak Egi meluapkan emosinya.

"Bukannya elo yang seenaknya masuk ke kehidupan gue tanpa diundang? Dan sekarang lo nyalahin gue?" cerocos Karin sedikit emosi terima disalahkan seperti itu.

"Kenapa semuanya harus seperti ini? Karin, tinggalkan Arka, maka aku akan membahagiakanmu." Egi mencoba menarik Karin kedalam pelukannya, tetapi Karin lebih dulu mundur sebelum Egi berhasil menariknya. Arka sudah tertawa puas dibalik semak-semak yang membuat orang-orang yang berlalu lalang kebingungan.

Kau tidak ada apa-apanya dibandingkan Kak Arka. batin Karin.

Egi mengacak-acak rambutnya frustasi, kemudian menatap Karin tajam, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Karin yang tersenyum menyerigai.

"Kau sudah memaksaku untuk berbuat kasar, Karin. Kupastikan kau akan memyesal," kata Egi sebelum benar-benar pergi.

***

Karin terduduk lemah sejak sepuluh menit yang lalu. Ia menunduk sehingga wajahnya tertutupi dengan rambutnya yang mengurai kebawah sehingga Arka tidak bisa memastikan apakah Karin sedang menangis atau tidak. Arka mencoba mengirim pesan meskipun kemungkinan dibalas hanya sedikit.

ArkaKH: Mau minum kopi buat nenangin diri, nggak, Karin?

Arka memerhatikan gerak-gerik Karin dari kejauhan. Karin terlihat ragu untuk membalasnya sampai beberapa detik kemudian balasan datang.

KarinKH: Boleh juga. Dimana?

Arka tersenyum lebar lalu beranjak dari tempatnya sebelum Karin melihatnya disana. Dengan langkah cepat, Arka langsung membalas pesan dari Karin.

ArkaKH: Aku di Coffee shop di skysand disebelah resto yang kemarin

***

Lima belas menit kemudian, Karin sudah sampai di kafe yang dimaksud Arka. Dan Arka sudah duduk di pojok kafe yang berhadapan langsung dengan pemandangan negara Singapura.

Arka langsung berdiri untuk menarikkan kursi untuk Karin layaknya ratu. Arka memanggil pelayan dan memesan kopi yang biasa dibelinya di kafe sebelah perusahaannya lalu kembali duduk.

"Kamu darimana saja, sih, Karin?" tanya Arka dengan wajah dibuat-buat cemberut.

"Habis shopping." balas Karin dengan ekspresi datar.

Bohong! seru Arka dalam hati.

"Lalu kalo belanja, belanjaannya mana?" tanya Arka. Padahal itu tidak penting, tetapi basa-basi kadang diperlukan dalam beberapa situasi.

"Nggak beli apa-apa," ucap Karin dingin sembari menyesap kopi hitam yang baru saja dibawakan pelayan. Arka mengedikkan bahunya lalu menyesap kopi hitam miliknya.

Suasana terasa canggung. Sampai akhirnya Karin memulai pembicaraan.

"Apa yang membuat Kakak tetap bertahan dalam pernikahan yang tidak jelas arah ini?" 

Arka mendadak merinding. Apakah Karin akan menyanggupi permintaan Egi?

"Karena aku sudah jatuh hati padamu Karin. Jika saja kamu tidak seunik yang aku kenal sekarang, mungkin dari dulu aku sudah berniat mengakhiri hubungan ini dan lihat, tetapi aku bahkan tidak pernah berniat mengakhiri hubungan ini meski banyak masalah. Aku percaya, apapun itu, semuanya dapat diselesaikan jika kita berdua bersatu."

Karin mengusap matanya yang mulai berair, lalu tersenyum manis. Kedua matanya menatap mata Arka lekat.

"Dan aku tidak mau hubungan ini berakhir karena aku sayang Kakak."

***

Haii~~
Maaf ya kependekan dan membosankan. Ini sebenarnya gantung tapi aku cuma bisa nebeng-nebeng nulis karena perihal yang pasti sudah kalian ketahui, jadi ini cuma 1000 kata, padahal biasanya sampai
2500± kata. Aku nggak tau bakal update kapan lagi. Tapi bakal diusahain.

See you next time~~

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang