[28]

273K 10.8K 91

Arka berjalan beriringan dengan Karin saat mereka sudah sampai di perusahaan. Beberapa karyawan langsung menghampiri mereka untuk sekedar bertanya kabar.

"Malam Pak. Apa yang Anda lakukan malam-malam begini?" tanya seorang karyawati sesudah menunduk tanda hormat.

Arka mengedikkan bahunya, "Apakah salah jika aku kemari?" Arka menjawab tapi masih melangkahkan kakinya. Dia tidak mau menghentikan langkahnya hanya untuk menjawab pertanyaan tidak penting karyawati itu.

Seorang karyawan dari bagian Personalia yang bisa dilihat dari id card yang menggantung di depan kemejanya, menghampiri Arka dan Karin. Karin mengerutkan keningnya karena dia tidak asing dengan wajah laki-laki itu. Setelah berusaha mengingat, akhirnya Karin ingat jika laki-laki itu adalah laki-laki yang membantu Karin saat pertama kali berkunjung ke perusahaan Arka. Saat itu dia sedang dimarahi oleh karyawan wanita.

Karin tersenyum kecil begitu karyawan bernama Fendi itu tersenyum lebar padanya dan memberi hormat pada Karin dan Arka.

"Ada apa?" tanya Arka dingin. Arka mudah lupa dengan wajah para pekerjanya. Padahal selama ini mereka sering bertegur sapa saat Arka menemui manajer Personalia. Tapi wajar saja, Arka bisa saja melihat puluhan bahkan ratusan orang dalam sehari yang memiliki wajah berbeda-beda, sehingga dia tidak ambil pusing untuk mengingat wajah pekerjanya satu per satu.

Fendi itu menggeleng, kemudian tersenyum lagi, "Aku hanya mau bertanya, kemana Bapak selama ini? Apakah kalian honeymoon?" Fendi menatap Karin dan Arka dengan alis terangkat. Arka merasa jika karyawannya itu sedang menggoda Karin.

Arka mendengus kecil dan tangannya spontan menarik Karin semakin mendekat padanya, "Apa urusanmu?" tanya Arka ketus.

Karin kesal melihat tingkah suaminya itu langsung memukul lengan pria itu, lalu mencebik, "Sopan sedikit kenapa, sih, Kak? Dia ini udah pernah nolongin aku tau!"

"Jangan sensitive gitu Pak, saya hanya penasaran saja. Bukankah saya tidak salah Nona Karin?" Fendi terkekeh begitu melihat ekspresi boss-nya itu saat Karin memarahinya.

"Tidak. Kami hanya pergi ke suatu tempat." Arka menjawab seadanya.

Hanya dengan anggukan Fendi bisa menutup kepenasarannya. Sebenarnya dia belum cukup puas dengan jawaban Arka.

"Tidak ada masalah selama aku tidak ada, kan?"

Fendi mengedikkan bahunya, "Saya tidak tahu pasti tapi di bagian Personalia, saya kira tidak ada."

Arka mengangguk dan menarin Karin untuk kembali melangkah. Karin menunduk kecil saat Arka menarik tangannya tanda ia permisi pada Fendi. Senyum kecil Fendi membuat Karin yakin jika laki-laki itu tidak sakit hati melihat tingkah suaminya.

"Ini tuh yang buat aku enggak suka!" ucap Arka dengan nada ketus. Tingkah Arka itu berhasil membuat Karin kebingungan.

"Maksudnya?"

"Kamu ini sadar, sih, kalau kamu itu menarik di mata kami para pria? Andai saja tadi kamu enggak ngotot ikut, aku jadi enggak usah bersikap dingin dengan karyawanku itu, Karin."

"Kenapa karena aku, Kak? Fendi 'kan hanya memberi salam."

Arka menghela nafas panjang melihat keluguan istrinya itu, "Kamu bahkan tahu namanya. Dia itu tertarik sama kamu."

Karin memutar bola matanya malas, "Ah, Kakak ngaco. Ya, aku taulah Kak, kalau ada di id card dia."

Perdebatan kecil antara Arka dan Karin harus terhentikan begitu Hana—sekretaris Arka—  menghampiri mereka.

"Kenapa?" tanya Arka menyadari kehadiran Hana. "Kangen?" sambung sambil cengengesan.

Hana mendesis kecil. Tak lama sebuah tinju kecil melayang mengenai bahu Arka. Hana malah menjulurkan lidahnya kesal kepada Arka yang seakan-akan merintih kesakitan. "Kangen, kangen, pala lu kangen. Gue malah ngarep lo nggak muncul lagi di depan gue." cerocos membuat Arka spontan menutup kedua telinganya.

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang