[38]

245K 10.8K 1.2K

Ѯ

Sudah lebih semenit mata Karin berfokus pada langit ruangan berwarna serba putih itu. Ruangan yang sangat Karin benci karena aroma obat-obatan yang selalu menyapa penciumannya setiap berada di tempat itu.

Karin memejamkan matanya, mencoba mengingat sesuatu yang tidak juga muncul di otaknya. Mencoba mencari sesuatu yang sejak tadi mengganjal pikirannya.

Entah mengapa suara Arka tergiang di pikirannya. Karin tidak tahu apakah itu efek karena sudah lama tidak melihat sosok pria itu atau karena rasa rindunya sudah mencapai batas, Karin tidak tahu apa itu.

Dan yang lebih membuatnya bingung, mengapa dia berada di ruangan itu. Seingatnya, dia berada di kamar mewah. Kemudian Egi datang dan membiusnya dengan suntik. Setelah itu, dia tidak ingat apa-apa lagi. Dan lebih dua menit yang lalu, dia baru tersadar dari pingsan-nya yang entah sudah berapa lama.

Karin menolehkan wajahnya ke arah pintu ruangan itu setelah mendengar suara kenop dibuka. Seseorang yang sangat menghantui pikirannya akhir-akhir ini kini berjalan kearahnya dengan wajah sendu. Hanya kesedihan yang Karin temukan dari mata itu.

Rini yang memakai pakaian pasien seperti yang Karin gunakan—yang tidak begitu dihiraukan Karin— tersenyum tipis. Sangat tipis sehingga Karin ragu apakah itu bisa dikategorikan sebagai sebuah senyuman. Rini duduk di kursi kecil di sebelah Karin. Wanita itu menghela napas panjang sambil menarik tangan kiri Karin kedalam genggamannya.

"Karin baik-baik saja?" tanya Rini beralih mengelus pipi Karin.

Karin menggeleng, dia tidak bisa berpura-pura baik sekarang sebab dia memang tidak baik adanya, "Karin tidak baik selama Kak Arka enggak disini, Ma."

Rini menunduk, tidak membalas ucapan menantunya itu. Hatinya sangat sesak mengingat fakta menyakitkan yang baru saja didengarnya kemarin.

"Tapi Ma, sudah berapa lama Karin pingsan?" Karin bertanya.

Rini mengangkat wajahnya, menatap menantunya itu lekat. Wajahnya sudah menggambarkan secara sempurna bagaimana perasaan wanita itu sekarang.

"Sudah dua hari. Ceritanya panjang."

Karin mengerutkan keningnya, tidak menyangka jika dia sudah tidak sadarkan diri selama dua hari.

"Tapi Ma, bukannya Mama sama Papa diculik sama mereka?" Karin ingat apa yang dikatakan Egi, bahwa Papa dan Mama mertuanya itu diculik oleh keluarganya.

Rini mengerutkan keningnya, tapi kerutan itu sirna begitu saja, beralih menjadi linangan air mata yang siap jatuh. Tubuh wanita itu bergetar, suara isakan tangis mulai menghiasi ruangan yang damai itu.

"Maafkan Mama, Karin. Ji-jika saja kami bergerak lebih cepat, ma-maka dia tidak akan seperti sekarang," isak Rini yang tidak Karin mengerti maksudnya.

Karin memaksakan tubuhnya untuk mengubah posisi tidur menjadi duduk. Dia mulai mengendus keanehan disini.

"Maksud Mama apa?" Karin balik menggenggam tangan Rini yang bergetar hebat.

Rini menggeleng disela isakannya. Wanita itu terus menangis seakan memendam sesuatu yang berat sendirian.

"Andai saja kami tidak lambat, maka semuanya pasti baik-baik saja. Ka-Karin, di-dia su..." tangisan Rini kembali pecah bersamaan seseorang pria jangkung berambut pirang yang tidak lain orang asing memasuki kamarnya. Karin sudah tidak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang