[2]

601K 28.8K 1.3K

"Kak, bangun." Seru Karin menepuk wajah Arka pelan. Karin sungguh bingung kenapa Arka bisa tidur disofa sepertinya. Sebenarnya dia ingin membawa Arka kekamar karena takut Arka akan sakit mengingat dia adalah CEO, orang penting di perusahaan, tapi apalah dayanya yang hanya punya tubuh kecil sedangkan Arka bertubuh kekar.
"Hm?" Arka mengeliat pelan lalu terduduk. Dilihatnya Karin sudah berseragam lengkap.

"Kamu sekolah?" Tanya Arka sambil mengacak-acak rambutnya. Itu pasti akan terlihat sexy dimata para hawa tapi tidak berlaku untuk Karin yang hanya bungkam.

"Iya kak, Karin berangkat ya, sarapan ada di meja, Karin nggak tau itu enak atau enggak karena Karin memang enggak pandai masak." Karin berdiri, mengambil ranselnya kemudian memakai sepatu sekolahnya.
Arka menahan tangan Karin "Tunggu, berangkat bareng aku. Sekolah kamu dekat sama kantor aku." Ujar Arka bangkit lalu pergi kekamar. Karin tetap diam terpaku. Memainkan ponselnya untuk mengusir rasa bosan menunggu Arka.

Begitu banyak pesan line di ponselnya, salah satunya dari Sasha--sahabat dekatnya dari sd. Hanya Sasha dan Vita yang mengetahui jika dia sudah menikah, bahkan kemarin mereka berdua datang ke acara resepsi yang hanya dilakukan keluarga dan teman terdekat saja.

Sasha: lo sekolah hari ini Rin?

Karin tersenyum kemudian membalas pesan line dari Sasha.

KarinKH: Sekolah kok Sa, moga-moga kita satu kelas semester ini.

Cukup lama terlarut dalam acara chatting-an dengan dua sahabatnya, Karin tidak sadar jika Arka sudah berdiri dihadapannya.

"Udah?" Tanya Karin gugup. Arka mengangguk.

"Sarapan yang kamu buat enggak bisa dimakan. Aku baru telfon mama, nanti sore dia bakal datang ajarin kamu masak. Bisa-bisa kamu racunin aku." Arka menarik Karin untuk mengikutinya.

***

"Nanti malam aku lembur, kamu tidur duluan lalu jangan tidur di ruang tamu, tidur di kamar, nanti aku usahain berhenti ngerokok meski aku nggak yakin bisa." Jelas Arka saat mereka sudah sampai di gerbang sekolah Karin.

"Iya." Balas Karin.

Karin keluar dari mobil mewah Arka, tak seperti pengantin baru yang jika berpisah akan ada cium pipi, dahi, tangan, atau kata sayang. Tapi mereka lebih mirip ayah yang mengkhawatirkan putrinya.

Arka melajukan mobilnya, tak lama Sasha dan Vita muncul.
"Pagi nyonya Hardikusuma." Goda Vita dengan cengiran khasnya.

"Gimana? Enak gak jadi istri CEO yang tampan dan sexy seperti Arka?" Sambung Sasha.

"Ah, apaan sih?" Sungut Karin melepaskan rangkulan dua sahabatnya itu.

"Karin, first night kalian gimana?" Bisik Vita sambil menarik Karin ke dekat tempat parkir.

"Apa first night?" Tanya Karin polos.

"Ya Tuhan, lo udah kelewat polos untuk jadi istri Rin." Sasha menjitak kepala Karin gemas.

"Itu loh. Bayi loh—" Jawab Vita dengan memperhalus kalimat.

"Bayi? Emangnya kenapa? Yang jelas lah Ta." Keluh Karin bingung.

Vita menghela nafas pelan, dia sudah terlalu sabar akan sifat sahabatnya yang sudah kelewat polos untuk anak SMA.


"Hoi, lo cewek tapi malah cerita bokep." Suara khas pria terdengar. Karin, Vita dan Sasha menoleh ke arah suara. Disana berdiri cowok tinggi, mata hitam, rambut acak-acakan, kacamata tanpa minus, serta seragam berantakan layaknya berandalan.

"Egi?" Jerit Sasha dan Vita serentak. Egi Yudha adalah cowok the most wanted yang jarang masuk sekolah karena terlalu sering di skors.

"Ih, dasar cewek. Gue kira cewek gimana gitu, ternyata otak bokep juga." Remeh Egi menggelengkan kepalanya.

Karin yang bingung memilih pergi karena tidak mengerti arah pembicaraan mereka.

"Tungguin Rin." Teriak Salsha dan Vita sembari mengejar Karin yang sudah pergi lebih dulu.

***

"Rin, makanya jangan belajar mulu. Masa lo bisa sepolos itu sih?" Gerutu Vita sambil meminum tehnya.

"Iya Rin, lo nggak kasian sama Arka?" Sambung Sasha seraya mencoret bukunya.

"Emangnya bokep itu apa sih?" Tanya Karin pelan, dengan tampang tak berdosa mengingat kalimat cowok bernama Egi tadi pagi.

Vita tersenyum iblis "Lo pengen tau?"

Karin mengangguk.

"Oke nanti kita kerumah gue. Hari ini kita cepet pulang, lo harus pulang jam berapa?" Vita bertanya.

"Jam satu siang, soalnya mama Arka mau ajarin gue masak." Jawab Karin menatap Vita.

"Ok, nanti gue kasi tau apa itu 'bokep'." Ucap Vita tersenyum licik.

***

"Oke, ayo kita cari apa itu bokep" semangat Vita membuka laptopnya. Sasha ikut duduk setelah mengunci kamar Vita agar tidak ada yang masuk.

Mata Karin membulat saat melihat apa yang dicari Vita "Apaan sih yang lo cari Ta? Kok lo mau liat video orang enggak berbusana kayak gitu." Ucapnya menutup mata dengan dua tangannya.

"Ini yang namanya bokep." Vita mengatur ukuran video. Sasha membuka paksa tangan Karin yang menutup matanya.

"Ih, apaan sih. Itu jijik tau." Protes Karin.

Vita tertawa lantang "Dah tau, nanti malam lo harus ngelakuin ini sama Arka."

"Gak bakal." Dengus Karin berlari keluar kamar Vita. Saat berlari diluar kamar, Karin berpapasan dengan Doni--kakak laki-laki Vita yang sepertinya ingin ke kamar Vita.

"Udah mau pulang dek? Vita masih didalam ya?" Tanya Doni menatap Karin.

"Kak Don, itu Vita lagi nonton film bokep didalam." Adu Karin kemudian berpamitam pulang.

"Apa? Vitaaaa....."

***

"Beneran bro? Lo belum nyentuh Karin?" Histeris Vico—teman seperjuangan Arka. Jika mereka bukan di diskotik mungkin mereka akan malu. Tidak, karena di diskotik tidak ada kata malu. Right?


"Hm, gue gak tega nyentuh gadis polos kayak dia." Jawab Arka menegak alkohol ditangannya.

"Padahal Karin itu sexy lo."

"Arka.." wanita sexy dengan pakaian terbuka menghampiri Arka lalu menciumnya ganas.

Arka mendorong wanita itu "Gria, aku sudah menikah, sudah punya istri. Kita sudah putus. Jadi jangan ganggu aku lagi."

"Tapi aku jamin kau tidak mencintainya Arka, kau menikah karena dijodohkan bukan? Apa dia tidak bisa memuaskanmu? Biarkan aku yang memuaskanmu " ucap wanita bernama Gria itu kembali mencium Arka paksa.

"Tidak Gria." Teriak Arka mendorong Gria menjauh dari tubuhnya hingga wanita itu terjatuh lalu pergi dengan emosi yang meluap-luap.

"Kau akan menyesal Arka" histeris Gria.

***

Mohon voment anda.

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang