Chapter 15 Part 1

2.7K 158 2
                                    

Sylva menghentak-hentak sepatunya. Sudah hampir setengah jam ia berdiri di pintu gerbang, dan sosok yang ia tunggu itu belum juga hadir. Raven masih belum tiba di sekolah. Sylva melirik jam tangannya, 7.12. Dahi Sylva berkerut dalam. Kenapa ia masih belum tiba?

"Sylva."

Mendengar ada suara yang memanggilnya, Sylva langsung tersenyum lebar lalu menoleh dengan cepat. Pasti itu adalah Raven!

"Rave—"

Ia terdiam. Lantas wajahnya langsung datar. Bukan, bukan Raven. Ia masih belum datang, sebab orang yang memanggilnya–yang kini berekspresi kaget–adalah Tio.

Tio–setelah tersadar dari kekagetannya–dengan wajah yang bingung menatap Sylva. "Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kamu masih belum masuk? Mana Raven?"

Sylva mendesah dengan berat. "Justru itulah aku berdiri di sini. Raven belum datang, Yo," sahutnya resah nan gelisah. Alis Tio semakin berkerut.

"Terus? Memangnya kenapa?" Tio tidak mengerti kenapa Sylva bisa gelisah seperti ini. "Mungkin saja dia terlambat? Kenapa pula kamu bisa khawatir berlebihan seperti ini?" tanyanya lagi kebingungan. Terus terang Tio tidak bingung. Ia itu cemburu. Ia ingin juga merasakan bagaimana ditunggu oleh pacarnya, oleh Sylva lagi. Hais, hanya angan-angan.

Sylva mendesah lagi lebih panjang. "Kalau ia memang terlambat sih tidak apa-apa, tapi masalahnya semalam ia bertingkah aneh."

"Aneh?" Kali ini Tio beneran kebingungan. "Aneh seperti apa maksudmu?"

"Waktu pulang sekolah, ia tiba-tiba loncat keluar gitu bilang ada urusan, dan sampai sekarang aku tidak tahu kabarnya.Apa urusan itu urusan yang serius? Apa dia baik-baik sa—"

"Apa yang kalian lakukan di sini?"

Sylva tersentak. Serentak ia dan Tio menoleh dan matanya langsung terbelalak. "Raven?" serunya tidak sangka. "Kamu beneran Raven, bukan?" lanjutnya panik seraya menepuk-nepuk sekujur tubuh Raven, memastikan keasliannya.

Wajah Raven yang kini sudah tertutup oleh plester dan obat itu mengangkat sebelah alisnya. "Aku beneran Raven kok," jawabnya sembari menurunkan tangan Sylva yang hendak menyentuh wajahnya. "Emangnya ada yang salah denganku?"

Sylva yang ditatap penuh selidik oleh Raven itu sempat membatu sekilas dan ia buru-buru menggeleng diiringi dengan senyuman yang lebar. "Ti, tidak ada apa-apa kok. Ayo masuk, sudah hampir telat nih!" serunya lalu ia buru-buru masuk, merasa malu.

Di kala Sylva yang buru-buru melangkah masuk ke dalam gedung sekolah itu, Raven yang diam di tempat pun menoleh menatap Tio lalu melangkah mendekatinya yang kebingungan.

"... Apa terjadi sesuatu?" tanya Tio pelan. Ternyata ia memang bisa merasakan perubahan di dalam diri Raven. Soalnya, sedaritadi Raven tidak bisa berhenti tersenyum dan itu sangat janggal.

Raven tersenyum lebar lalu menepuk pundak Tio sekali. "Untuk sebelumnya, maaf sudah membuatmu khawatir, dan maaf juga atas tindakan pengecutku tempo hari. Tapi yang lebih pentingnya, terima kasih banyak atas pukulanmu waktu itu, Yo. Berkatmu, aku bisa juga memilih keputusan yang tepat. Thanks banget, bro."

Raven melangkah menuju ke dalam gedung setelah itu, membiarkan Tio kebingungan sendirian di sana. Apa yang Raven ucapkan tadi? Maaf untuk? Terima kasih untuk? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Benar-benar deh, Tio tidak mengerti sama sekali. Tapi ... ada satu hal yang ia mengerti. Raven dan ia sudah kembali bersahabat. Ya, Tio tidak meragukan yang satu ini.

***

"Apa kamu sibuk akhir pekan ini?"

Raven yang sedang sibuk melihat daftar pembagian kelas tambahan di mading itu pun berhenti lalu menoleh menatap Sylva dengan wajah datar. Sejak kapan Sylva pernah bertanya tentang sibuk atau tidaknya dirinya kalau diajak jalan?

Rage in Cage (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang