16. Benih Cinta

24 4 0
                                    

"Benih-benih cinta mulai tumbuh karena seiring berjalannya waktu, semoga cinta ini bisa dibalas oleh perlakuan yang bisa membuat candu."

-Takdir Cinta Nadia

🕊️🕊️🕊️

Lagi-lagi Nadia harus di hadapkan dengan keadaan seperti ini. Keadaan dimana dirinya harus bersama dengan Zaki. Nadia merasa canggung tempo hari Zaki mengatakan perkataan yang membuat Nadia bingung.

Bu Rumi tidak bisa pergi ke pasar di karena kan anak-anak ingin di temani belajar. Nadia lah yang menjadi sasaran untuk pergi ke pasar, karena di antara Nadia, Zhafira, dan Afifah, Nadia lah yang sering berbelanja dan tahu menahu soal bumbu dapur.

"Berangkat sekarang?" tanya Zaki.

Nadia mengangguk dengan wajah yang datar. "Masuk Nad," Zaki menyuruh Nadia untuk masuk ke dalam mobil bagian depan.

Nadia menggeleng, "Nadia di belakang aja Zak,"

"Di depan aja Nad. Lagian aku nggak akan gigit, kesannya kaya aku supir kamu. Gih masuk." Zaki membukakan pintu depan untuk Nadia, lalu dirinya berjalan untuk menyetir.

Mau tidak mau Nadia masuk juga. Dirinya tidak enak jika harus menolak.

Mobil berjalan meninggalkan halaman yayasan, besok Nadia, Afifah, Zhafira, Zaki, dan juga Bian akan pulang. Tiga hari cukup bagi mereka untuk mengenal lebih anak-anak di yayasan.

Tugas berkunjung pun juga sudah di selesaikan. Hari ini hari terakhir bagi Nadia disini. Rasanya berat harus meninggalkan anak-anak yang sudah ia anggap adik sendiri. Mereka semua butuh kasih sayang orang tua yang lengkap. Bu Rumi dan juga pekerja lainnya pasti tidak akan bisa memberikan kasih sayang yang lengkap seperti orang tua lainnya.

Suasana di dalam mobil begitu sepi. Tak ada percakapan di dalamnya, Nadia sibuk dengan pikirannya, sedangkan Zaki fokus menyetir juga merasa canggung akibat tempo hari itu.

"Nad pulang besok kan?" tanya Zaki memecah keheningan. Zaki gatal jika tidak berbicara kepada Nadia.

Nadia mengangguk dan melirik ke arah Zaki. "Iya, Bian ingin pulang lusa kan? Tapi maaf aku sama yang lain harus pulang besok. Soalnya tugas kita yang lain juga masih belum selesai,"

"Iya nggak papa Nad. Lagian Bian itu cuma alasan biar dia bisa lama-lama bareng sama Afifah. Kamu tau sendiri kan gimana Bian ngejar-ngejar Afifah,"

Nadia tertawa mengingat perlakuan dua temannya itu. Bian yang selalu berbuat jahat padahal dalam hatinya itu Bian menyukai Afifah. Sedangkan Afifah yang jutek namun selalu baper.

Suasana yang tadi begitu sepi kini mulai mencair, Zaki bisa mencairkan suasana dengan mengajak Nadia mengobrol juga mencari topik yang tidak membuat garing.

Sedikit-sedikit Nadia mulai tak memikirkan perkataan Zaki. Mungkin Zaki hanya bercanda, Nadia tau sifat Zaki yang selalu bercanda. Zaki selalu saja bisa membuat Nadia tersenyum walau hal kecil sekali pun.

"Nad kita nggak salah jalah kan?" Zaki melihat map google lalu melirik Nadia.

Nadia juga melirik Zaki. Pandangan keduanya bertemu dengan tatapan yang sulit di artikan. Detak jantung keduanya berdetak dengan kencang. Gugup melanda keduanya saat tatapan bola mata itu bertemu.

"Coba kamu cek lagi, aku juga kurang tau daerah ini," Nadia memalingkan wajahnya ke arah jendela. Pipinya terasa panas, mungkin karena cuaca. Tapi cuaca di pedesaan ini begitu dingin, tidak mungkin Nadia kegerahan.

Zaki tersenyum melihat Nadia yang sepertinya salah tingkah. Padahal Zaki tidak berbuat apa-apa, hanya pandangan bola mata mereka yang bertemu. Tapi Nadia sudah salah tingkahnya melebihi di lamar.

Takdir Cinta Nadia [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang