9. Siapa Dia?

38 5 0
                                    

"Jangan memberikan harapan palsu kepada orang yang dicinta, takutnya dia kecewa dan akan meninggalkan kamu begitu saja."

-Takdir Cinta Nadia

🕊️🕊️🕊️

                       
Nadia berangkat kuliah dengan motor kesayangannya. Kedua adiknya pergi dengan Ibunya yang akan pergi ke pasar.

Jalanan hari ini tidak semacet pekan lalu, Nadia terus mengendarai sepeda motornya dengan perasaan yang senang. Awali pagimu dengan bismillah dan senyuman. Karena dipagi hari mood-mood akan kembali segar.

Parkiran di kampusnya belum terlalu banyak, jadinya Nadia bisa leluasa memilih tempat untuk menyimpan motor kesayangannya.

"Assalamualaikum Nad." seseorang tiba-tiba menepuk pundak Nadia.

"Waalaikumssalam, ih kamu ngagetin aja Fah," balas Nadia. Ternyata orang itu Afifah.

"Hehe, tumben kamu nggak terlambat?" tanya Afifah.

Nadia dan Afifah berjalan ke arah kelas. Suasana kampus di pagi hari belum terlalu ramai, karena jadwal yang memang berbeda.

"Nggak dong, jalanan Alhamdulillah nggak macet, jadi ya aku nggak terlambat," balas Nadia.

"Eh beli gorengan dulu ya," ajak Afifah.

Nadia mengangguk, "Bole,"

🕊️🕊️🕊️

Suara ribut di kantin sudah terbiasa terdengar di telinga mahasiswa, segerombolan mahasiswa dan mahasiswi berhamburan menghampiri penjual makanan dan minuman.

Mereka saling berebut tempat duduk, berhamburan memesan makanan saling dorong mendorong. Kejadian inilah yang akan membuat rindu sebagian mahasiswa Tunas Bangsa.

Nadia dan Afifah yang saat ini sedang memakan mie ayam dan jus jeruk di tengah-tengah teriknya matahari. Kerongkongan yang kering langsung lega ketika meminum jus jeruk buatan Bi Maya.

"Panas banget nih," suara Afifah nyaring tidak terdengar karena suara ributan mahasiswa yang ribut karena makanan.

"Iya serah deh," Nadia kesal dengan ocehan Afifah yang mengomel-ngomel tidak jelas. Panaslah, sempitlah, dan sebagainya dia bicarakan.

"Si Zhafira kemana sih katanya mau nyusulin, sampe sekarang kagak dateng-dateng," Omelan Afifah terdengar nyaring lagi, membuat kepala Nadia pusing.

"Nanti juga dateng Fah, mungkin lagi ada kelas tambahan, tinggal kamu chat aja, nanti siang ketemu di kafe mentari kita refreshing." Nadia meminum jus jeruk yang tersisa sedikit lagi, mie ayam mereka sudah tandas habis tak tersisa.

"Aku ikut kamu ya Nad," kata Afifah.

"Tiap hari kamu kan numpang Fah," ujar Nadia cengengesan. Afifah memang terbiasa pergi berdua dengan Abangnya, terbilang jarang sekali dia membawa sepeda motor.

"Hehe," sudut bibir Afifah terangkat dan tersenyum dengan cengiran yang lebar.

"Nggak usah nyengir," kata Nadia sambil menggeser tempat duduk dan mendekati Afifah.

"Apaan?" tanya Afifah terheran-heran karena Nadia menggeser posisi duduknya.

"Cowok yang lagi di situ anak baru?" tanya Nadia karena memang ada sesosok makhluk asing. Sesosok makhluk? Memangnya hantu. Dia sepertinya mahasiswa baru, karena dari postur tubuh dan wajahnya, menurut Nadia seperti orang baru.

"Nggak tau,"

"Ishh Fifah orang belum juga dilihat udah maen nggak tau nggak tau!" caci Nadia kesal.

Takdir Cinta Nadia [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang