6. Al-Kahfi

68 8 0
                                    

"Bacalah Al-Qur'an sekali-kali. Karena ialah yang akan senantiasa menerangi. Jangan terlalu banyak membaca chattan bersama doi yang sudah menghilang ditelan bumi."

-Takdir Cinta Nadia

🕊️🕊️🕊️

Nadia merapikan letak jilbabnya yang terasa tak benar. Peniti yang ia simpan di meja belajarnya entah kemana. Kadang peniti suka hilang begitu saja. Dan hal itu membuat Nadia merasa kesal.

Nadia bukan tipe orang yang bisa memakai jarum. Dirinya lebih bisa memakai peniti yang simple. Jika memakai jarum, Nadia ngilu takut tertusuk.

"Selesai," ucap Nadia yang sudah selesai merapikan letak jilbabnya.

Nadia mengambil tas yang berada di lemarinya, lalu keluar kamar untuk pergi ke rumah Afifah. Rencananya hari ini adalah akan rapat untuk pergi ke sebuah yayasan.

"Bu Nadia pergi dulu." Nadia menyalami tangan Nada saat sudah sampai di lantak bawah.

Nada tengah duduk di ruang tv sembari merapikan kue untuk disimpan di toples.

"Hati-hati Teh,"

"Iya Bu." Nadia berjalan keluar.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumssalam,"

Nadia membuka pintu pagarnya, lalu menjalankan sepeda motor miliknya. Setelah itu Nadia menutup kembali pintu pagarnya.

Dengan kecepatan sedang, Nadia menjalankan sepeda motornya. Hari ini Nadia tidak kuliah, dikarenakan tidak ada Dosen yang masuk. Alhasil Nadia dan kedua sahabatnya berencana mendiskusikan tentang kepergiannya ke yayasan.

Kampus tempat Nadia kuliah, ada kegiatan pergi ke yayasan. Mau pergi silahkan, tidak juga tidak papa.

Nadia pernah berada di posisi lagi enak-enak ngebut, lalu tiba-tiba langsung pelan. Karena kepikiran.

"Aku masih mau hidup."

"Aku masih belum lulus kuliah."

"Aku belum bisa banggain orang tua."

"Aku masih ingin ngejar karir."

"Aku pengen bahagiain dulu keluarga."

"Aku belum nikah."

"Aku ingin ngerasain dulu bahagia."

"Udah ya aku jangan ngebut-ngebut."

Nadia pernah merasakan hal seperti itu. Saat pikirannya sedang kacau, kadang Nadia melampiaskannya dengan cara mengendarai sepeda motor seperti orang kesetanan.

Tapi saat keadaan marah, Nadia dengan cepat beristigfar mengingat Allah. Dirinya takut terjadi hal yang tak diinginkan jika keadaan dirinya tengah mengebut. Bukankah Allah akan mentakdirkan apa saja kepada manusia?

Allah bisa saja mengambil usia manusia saat dalam keadaan apa pun dan dimana pun. Mau orang muda atau tua, tidak ada batasan umur untuk menghadapi kematian. Mau orang sakit atau sehat pun. Allah maha kuasa atas segalanya.

Takdir Cinta Nadia [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang