17. Bayang-bayang Masalalu

20 4 0
                                    

"Teruntuk kamu seseorang yang pernah berada di masa laluku, terimakasih pernah membuatku mencintaimu hingga sedalam ini. Tanpamu, aku tak akan pernah berdiri tegak menghadapi masa depan yang harus aku pijak."

-Takdir Cinta Nadia

🕊️🕊️🕊️

"Del Adel,"

"Dalemmmmm sayanggggg,"

"Nggak tau kalian bukan temenku, bukan!" Nadia menggeleng sembari menjauh dari Afifah dan Zhafira.

Siang ini mereka tengah beristirahat sebentar, singgah di restoran untuk mengisi perut yang keroncongan. Shubuh tadi mereka sudah pulang dari yayasan, tangisan anak-anak melepas kepergian mereka membuat Nadia ikut merasa sedih.

Anak-anak menangis karena ditinggal pergi dan takut jika Nadia dan teman-temannya tak akan lagi berkunjung.

Nadia berlari untuk mencuci tangan, pesanan mereka belum datang, jadinya Nadia melihat-lihat pemandangan restoran Mentari ini.

Ikan-ikan terlihat di kolam yang tampak cantik itu. Berwarna dan sejuk bila di pandang. "Ibu," ucap Nadia.

Nadia merindukan Ibunya dan adik-adiknya. Selama di yayasan, tak lupa bagi Nadia sebelum tidur menelpon Ibunya. Apalagi Nadin yang selalu mengomel agar Nadia cepat pulang.

Kebersamaan dengan anak-anak di yayasan, juga kebersamaan dengan adik dan Ibunya sedikit membuat Nadia tersentuh. Nadia masih beruntung bisa berkumpul bersama dengan Ibu dan adik-adiknya walaupun tanpa Ayahnya. Tapi mereka, anak-anak yang sudah tidak orang tua, mereka terlantar begitu saja.

Tak ada kasih sayang seorang Ibu, tak ada rasa pengertian dari seorang Ayah. Mereka berkumpul dengan orang asing yang bahkan tidak mereka kenal. Diasuh oleh orang mulia seperti Bu Rumi yang bahkan tidak mengenal siapa mereka.

Hidup satu rumah dan selalu bersama dengan orang yang bahkan tidak sedarah, mereka juga bahagia, walaupun mungkin di dalam lubuk hatinya selalu bertanya. Dimana orangtuanya, dimana keluarganya, mengapa mereka di asuh oleh orang yang bahkan tidak mengenali mereka sebelumnya.

Mungkin mereka selalu terlihat tersenyum, tertawa dan bahagia. Namu siapa sangka, ada rasa sedih yang menyelubung saat yang berkunjung bukan dari keluarganya.

Untuk kamu yang masih mempunyai orang tua, jagalah mereka baik-baik. Berkata yang lembut, dan turuti lah perintahnya. Karena saat mereka sudah tiada, kamu pasti akan merasakan sepinya dunia.

Jangan pernah menyia-nyiakan orang tuamu selagi ada. Karena umur tidak akan pernah ada yang tau, selagi orang tuamu masih ada, berbuatlah baik dan sayangi lah mereka.

Di luar sana masih banyak anak-anak yang kurang kasih sayang dan juga perhatian dari orang tuanya. Ada yang terlantar, di telantarkan, atau bahkan tinggal sendirian.

Jangan pernah merasa bahwa orang tuamu galak, itu adalah cara mendidik mereka agar kamu bisa menjadi anak yang patuh. Selagi ada kesempatan, berbuatlah baik kepada siapa pun. Entah itu orang tuamu, keluargamu, temanmu, sahabatmu, atau bahkan orang lain. Berbuat baik tidak memandang siapa dirinya.

"Ibu, Nadin, Naura, Teteh akan segera pulang. Teteh bawa oleh-oleh buat kalian," Nadia berjalan untuk kembali ke tempatnya. Mungkin makanan sudah datang, karena lumayan lama Nadia berdiam diri di tepian kolam dengan merenung.

Takdir Cinta Nadia [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang