26. Mengggenggam

23 3 0
                                    

"Tangan yang kamu genggam hari ini, akan terus menggenggam sampai tua nanti. Aku percaya bahwa kamulah pelabuhan terakhir yang menjadi tempat untuk perahuku berlindung."

-Takdir Cinta Nadia

🕊️🕊️🕊️

Nadia memeluk boneka bear berwarna merah yang begitu besar pemberian dari Zaki. Hangat rasanya saat Nadia memeluk boneka itu. Serasa ada Zaki yang berada di sisinya.

Selepas acara lamaran, cintanya kepada Zaki terus bertambah. Zaki seseorang yang kadang membuatnya kesal, kini akan menjadi suaminya. Menjadi imamnya, menjadi Ayah dari anak-anaknya.

Rencana Allah itu kadang tidak di duga, kita mengharapkan sesuatu agar menjadi milik kita namun tak bisa dimiliki, lalu Allah gantikan dengan yang lebih baik.

Nadia juga tak menyangka, bahwa Zaki lah orang yang berani melamarnya di banding lelaki lain. Bukan ingin membandingkan, karena memang sebaiknya lelaki yang berani itu adalah lelaki yang berani menemui orang tua dari pasangannya.

Hubungan yang dijalin bertahun-tahun juga tak akan tentu berjodoh, bisa jadi di kalahkan oleh orang yang berani datang dengan tujuan yang lebih serius.

Sesuatu yang kita sangka endingnya akan bahagia, jika Allah tidak menghendakinya maka percuma saja. Berharap lebih kepada manusia tidaklah baik, karena nantinya kamu akan merasakan kecewa.

"Laper," kata Nadia yang merasa kelaperan.

Nadia malas untuk pergi ke bawah, dirinya ingin makan seblak. Pastinya bahan-bahan untuk membuat seblak sudah habis, karena terakhir Nadia lihat kulkas untuk perlengkapan seblak juga sudah kosong.

Jika Nadia pergi ke minimarket, Nadia malas menyetir, di tambah cuaca hari ini panasnya terasa menyengat sekali. Nadia membuka ponselnya dan lebih memilih untuk memesan goofood saja.

Namun saat akan membuka aplikasi grab, telepon dari Zaki berdering. Pipi Nadia tiba-tiba bersemu merah, ada yang salah tingkah sepertinya. Nadia mengangkatnya.

"Hai assalamualaikum calon istri yang cantiknya kaya bidadari," Suara di sebrang sana membuat Nadia tersenyum.

"Waalaikumssalam," balas Nadia dengan duduk di kursi dekat jendela kamarnya.

"Lagi ngapain Nad, udah makan?" tanya Zaki.

Nadia menggeleng, padahal Zaki tidak akan bisa melihatnya. "Belum. Ini baru aja mau pesen seblak," ucap Nadia jujur.

"Mau seblak?"

"Heem iya," Nadia menggigiti kukunya, kebiasaan Nadia memang seperti ini.

"Aku bawain ya, sekalian sama boba. Mau?"

"Eh nggak usah Zak. Orang aku mau pesen ko ini," Nadia menolak keinginan Zaki yang akan membelikannya seblak. Jika Zaki membelikannya seblak lalu mengantarkannya ke rumah, pastinya jauh. Jarak rumah Zaki ke rumah Nadia tidak terlalu dekat.

"Nggak papa sayang. Eh keceplosan," terdengar suara kekehan dari Zaki.

Nadia tertawa karena ulah Zaki yang selalu saja menggodanya. Zaki selalu saja membuat Nadia baper meskipun dengan perlakuan yang sederhana.

"Aku beliin seblak sama boba ya, jangan nolak. Sekalian mau ke kampus anterin tugas. Aku otw sekarang, siap tuan putri?"

Tangan Nadia meremas bajunya sendiri, biasa salah tingkah. "Baik deh tuan raja. Hati-hati ya dan terimakasih," bulan sabit melengkung di bibir Nadia.

"Iya tuan putri. Baiklah aku pergi sekarang, aku tutup teleponnya ya. Jangan rindu, berat, biar aku saja kamu nggak akan kuat," Zaki menirukan suara Dilan yang mampu membuat Nadia tersenyum sendiri.

Takdir Cinta Nadia [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang