3. Kepingan Masalalu

90 16 2
                                    

"Aku hanyalah kepingan masalalu darimu. Yang pernah kamu beri kenangan, lalu kamu tinggalkan."

-Takdir Cinta Nadia

🕊️🕊️🕊️


Cuaca Bandung saat ini tengah mendung. Seperti perasaan Nadia yang tengah melamun. Hati Nadia kembali merasakan sakit, saat kepingan masalalunya kembali memutar dalam pikirannya.

Bukankah sebuah masalalu layak untuk dikenang? Dari masalalu, kita bisa memetik pelajaran. Tentang hidup kemarin, akan terus berjalan di esok hari.

Tanpa masalalu, kita tidak akan bisa tinggal di masa depan. Jangan juga membenci sebuah masalalu, karena tanpanya kita bukanlah apa-apa.

Jika masalalumu menyakitkan, maka jadikanlah itu sebagai pelajaran. Namun jika masalamu membahagiakan, maka kenanglah, dan simpanlah. Siapa tau, kita tidak akan bisa merasakan kebahagiaan itu lagi.

Hidup itu dibawa tenang, tidak usah tegang. Sedikit-sedikit, kita juga perlu serius menjadikan hidup sebagai tujuan utama. Hiduplah dengan cara melakukan hal yang bermanfaat, jangan terlalu menjunjung tinggi martabat. Karena itu tak ada apa-apanya.

Nadia menutup jendela kamarnya. Sore ini, udara terasa begitu lebih dingin, meskipun hujan tak kunjung datang. Yang ada, hanyalah gemuruh petir yang begitu besar.

Langkah kaki Nadia bergerak menuju tempat tidurnya. Raga Nadia ada disini, tapi pikirannya entah berkelibat kemana. Pikiran Nadia terus tertuju akan pesan email yang tersampaikan kepada Afifah.

Pesan itu, berisi sesuatu yang menyakitkan bagi Nadia. Hati Nadia sudah terlanjur sakit, ditambah dengan kiriman pesan itu. Sakit hatinya Nadia, bertambah berkali-kali lipat.

Nadia duduk melamun di tempat tidurnya, Nadia bingung harus melakukan apa. Mau tidur, tidak bisa tidur. Mau makan, tidak berselera makan. Terkadang moodnya Nadia memang seperti itu, jika tengah galau.

"Huh," helaan nafas terdengar dari mulut Nadia.

Nadia memilih untuk merebahkan dirinya, dari pada hatinya semakin bimbang. Nadia berbaring, dengan memeluk boneka bear kesukaannya.

Entah dorongan dari mana, kepingan masalalu memutar di pikiran Nadia. Tentang perkataan yang pernah dikatakan oleh orang dari masalalunya, kembali terdengar keras bagai radio yang diputar.

"Aku mencintaimu. Hari ini, esok, dan selamanya, aku akan terus mencintaimu."

"Tunggu aku datang ke rumahmu, dengan membawa keluarga yang menjadi saksi perjuanganku."

"Jangan tinggalkan aku Nadia."

"Percayalah, dan tunggulah."

"Jika aku membuatmu terluka, maka aku pantas mendapatkan karma."

"Jadilah Ibu dari anak-anakku kelak. Jadilah rumah tempatku pulang, setelah lelahnya perjalanan yang begitu panjang."

Nadia tersadar dari lamunannya. Kata-kata itu, kata-kata yang pernah diucapkan dari seseorang di masalalunya. Kata-kata yang pernah membuat Nadia terasa terbang, lalu pada akhirnya seperti dijatuhkan tanpa perasaan.

Nadia bangkit dari posisi tidurannya, ia terdiam dengan pandangan kosong. Matanya memerah siap mengeluarkan cairan bening bernama air mata.

Air mata Nadia tumpah begitu saja, dengan diiringi suara isakkan yang terdengar begitu menyakitkan. Nadia menangkupkan tangannya menutupi wajahnya yang sudah basah oleh air mata.

Takdir Cinta Nadia [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang