21. Komitmen?

21 4 0
                                    

"Akan ada saat dimana aku menunggu seseorang yang aku cintai, atau menerima seseorang yang mencintaiku."

-Takdir Cinta Nadia

🕊️🕊️🕊️

Nadia terbaring lemah di ranjang miliknya. Badannya masih belum sehat, di tambah dengan hatinya yang tengah rapuh.

Nadia masih setia memejamkan matanya, sudah dua jam dirinya tertidur. Dan juga Afifah, Zhafira, Zaki masih setia menunggu Nadia terbangun.

Kumandang adzan magrib tadi juga Nadia masih belum terbangun. Matanya masih setia menutup. Nadia jatuh pingsan tak sadarkan diri karena dirinya terlalu stres memikirkan masalah yang sempat ia pendam sendiri.

Kenyataan yang Nadia alami sedikit membuatnya trauma akan masalah cinta. Bukan Nadia berharap bisa kembali dengan Asraf, hanya saja saat melihat wajah Asraf, bayangan cinta yang Asraf miliki untuknya semakin membuat Nadia lemah.

Pasti banyak orang yang mengalami apa yang Nadia alami. Terluka hanya karena bertemu dengan orang di masalalu. Bukan karena pertemuannya, tetapi karena kenangannya.

Posisi Nadia untuk menjadi istri dari Asraf tak akan pernah terwujud. Sudah ada seseorang yang menggantikan Nadia dari hati Asraf. Lantas bagaimana bisa Nadia melupakan itu dalam sekejap, jika Asraf kembali dan terlihat di pandangan Nadia.

Sedangkan Zaki tidak tau masalah apa yang di alami oleh tiga sahabat ini. Sedari tadi Afifah maupun Zhafira tidak ada yang mau menceritakan kejadian yang sebenarnya. "Fah, Ra, Nadia kenapa?" selidik Zaki.

Afifah berdehem dan mencoba menghiraukan Zaki. "Udah mau malem Zak. Sono pulang," usir Afifah dengan cengiran.

Zaki melotot tak terima dirinya di usir oleh orang kampret seperti Afifah. "Lu ngusir gua?"

Afifah tertawa dan menggeleng, "Iya. Eh," balasnya.

"Kampret lu!" sewot Zaki.

Zhafira hanya terdiam di tepi ranjang Nadia. Zhafira tak mau ikut campur antara perdebatan Zaki dan Afifah. Sedari tadi Zhafira masih terus memegangi tangan Nadia yang terasa dingin.

Tadi Nada sempat ingin memanggil Dokter, namun Nadia terbangun dan mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa. Hanya sedikit kelelahan dan kurang enak badan.

"Ceritain yang sebenarnya. Atau gue nikahin Nadia sekarang juga," tegas Zaki secara tiba-tiba.

Perkataan Zaki membuat Afifah dan Zhafira terkejut. "Lu gila!" sewot Afifah.

"Gue nggak gila. Gue masih waras nggak kaya lu." Zaki mengambil handphone miliknya entah akan menghubungi siapa.

Zhafira melirik Afifah yang masih kesal dengan ucapan Zaki. "Zak jangan bercanda," ucap Afifah.

"Gue nggak bercanda. Kalau kalian berdua masih nggak jelasin apa yang terjadi. Gue akan coba hubungi keluarga gue, untuk melangsungkan lamaran sekarang juga." Zaki mengacungkan handphonenya dengan bangga. Zaki bukan tipe orang yang main-main. Jika dirinya sudah serius, maka serius.

"Eh Zaki lu gila ya!" Afifah memukul Zaki dengan bantal milik Nadia.

Zaki mencoba menghindar dari pukulan orang gila baginya. "Dengan cara lu nggak mau ngomong-ngomong gue nggak main-main. Okey waktunya hubungin bokap gue," Zaki mencoba menghubungi nomer keluarganya. Tapi Afifah menggeleng.

"Okey gue ceritain! Asal lu jangan ngomong lamaran-lamaran segala, apalagi lu mau bawa keluarga lu!" kesal Afifah dengan memukul Zaki lebih keras.

Untung saja Zaki bisa menghindar. "Cepet cerita!"

Takdir Cinta Nadia [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang