19. Jejakmu

26 4 0
                                    

"Kepada siapa hati ini akan berlabuh, tetap saja ketetapan darimu lah yang akan membuatku patuh. Semua tentang waktu yang sudah di gariskan, cepat atau lambat masing-masing dari kita akan menemukan pasangan."

-Takdir Cinta Nadia

🕊️🕊️🕊️

Pikiran yang sudah kacau, hati yang sulit untuk di kendalikan, perasaan yang mudah di goyahkan, kenyataan yang menyakitkan, harapan yang tidak terkabulkan.

Semua hal itu terjadi pada Nadia, gadis itu kini tengah duduk menyendiri di dalam kamarnya. Sejak pulang dari yayasan, mood Nadia sedikit berbeda dan lebih terlihat murung. Ibunya mungkin memaklumi bahwa Nadia tengah kelelahan.

Namun bukan itu yang terjadi pada Nadia, hatinya saat ini kembali merasakan sakit setelah dua tahun lamanya ia mencoba melupakan. Seharusnya Nadia tak perlu risau, namun entah mengapa masih ada rasa sedikit rasa tak ikhlas dan juga harapan pada diri Nadia.

Bukankah kita bebas mencintai siapa pun? Tetapi jangan sampai salah tempat. Mencintai orang yang sudah memiliki pasangan cukup berat. Sebisa mungkin untuk melupakan, tapi justru semakin dalam mencintai.

Harapan yang pernah Nadia impikan, harus kandas akibat kata pamit yang tidak jelas. Orang itu membuat Nadia terluka untuk kesekian kalinya, padahal Nadia sudah berusaha untuk melupakannya.

Pintu terbuka menampakkan Nada Ibu Nadia yang membawa nampan berisi makanan dan susu hangat. Sejak kemarin malam Nadia tidak turun dan tidak menyentuh makanannya sedikit pun. Hal itu membuat Nada merasa khawatir, dirinya takut jika Nadia tengah sakit.

Nada menghampiri Nadia yang tengah berbaring memunggunginya. "Teh bangun, makan dulu gih." Nada menyimpan nampan di meja lalu membangunkan Nadia.

Nadia hanya memejamkan matanya, tidak tertidur. "Hem nanti Nadia makan Bu," Nadia malah menutupi tubuhnya dengan selimut.

Nada membukakan selimut yang menutupi Nadia, "Makan dulu ah nanti sakit. Sejak kemarin Teteh nggak turun-turun, bilangnya nggak mau di ganggu dan mau istirahat. Kenapa sih Teh, Teteh nggak enak badan? Atau ada masalah? Sini cerita sama Ibu," Nada membangunkan Nadia dengan kelembutan.

Dengan tak bersemangat Nadia terbangun, rambutnya terlihat berantakan. Seharian ini dirinya belum mandi. Biasa perempuan hobinya rebahan dan jarang mandi.

Nada mengambil nampan dan menyuapi Nadia, jika tidak di suapi maka Nadia tidak akan makan. "Buka mulutnya," perintah Nada.

Nadia membuka mulutnya dan mengunyah makannya dengan tak berselera. Makanan ini capcay dan daging ayang suir, lalu nasi uduk adalah makanan paling enak bagi Nadia, jika Ibunya yang membuat. Tapi kali ini rasanya hambar, Nadia tak berselera untuk makan.

"Teteh kenapa sih, kalau emang ada masalah cerita Teh," Nada terlihat khawatir akan keadaan Nadia. Dirabanya kening Nadia, tidak demam sama sekali. "Nggak panas ah,"

"Emang siapa yang sakit?" tanya Nadia dengan wajah yang datar.

"Ibu kirain Teteh sakit, mungkin Teteh lagi patah hati ya?"

Nadia tercengang akan pertanyaan yang di lontarkan oleh Ibunya itu. Mengapa Ibunya bisa tau bahwa hati Nadia saat ini sedang tidak baik-baik saja. "Mana ada," Nadia mengambil gelas agar bisa menutupi kegugupannya.

Takdir Cinta Nadia [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang