10. Zaki Kalandra

36 4 0
                                    

"Ada rasa yang berbeda, saat aku bertemu dengan kamu. Aku harap, kita bisa menjadi sebuah kata yang menjadi kita."

~Zaki Kalandra

-Takdir Cinta Nadia

🕊️🕊️🕊️

                             
Pagi ini Bandung cerah. Udara yang segar masuk ke kamar tempat Nadia beristirahat karena lelahnya hari-hari kemarin. Cahaya matahari masuk melalui sela-sela kaca jendela.

Pertemuan antara Nadia, Afifah, dan Zhafira terasa menyenangkan, banyak pelajaran yang bisa ia petik, tentang kebahagiaan bertemu teman ataupun sahabat. Membicarakan hal-hal yang tidak penting pun, sudah membuat bibir tersenyum.

Jalanan kali ini tidak begitu macet, lalu lalang orang yang akan pergi bekerja untuk mencari nafkah keluarganya, atau orang yang akan pergi sekolah untuk mencari ilmu. Tidak begitu ramai, karena hari ini bukan hari senin. Mereka akan sedikit bersantai karena hari-hari biasa jam masuk berbeda dengan hari senin.

Perjalanan menuju kampus tidak membutuhkan waktu yang lama, Nadia mengendarainya dengan sedikit ngebut, bukan takut telat, melainkan karena jalanan kosong.

Nadia masih bisa mengontrol kecepatan sepeda motornya dengan rata-rata, takutnya terjadi apa-apa. Manusia tidak ada yang tahu hal apa yang akan terjadi di hari esok.

Kematian, musibah, anugerah, kebahagiaan, kesedihan. Semuanya bisa terjadi karena kuasa Allah SWT. Kita harus bisa menjalankan peran dengan sebaik mungkin, skenario terbaik hanyalah Allah.

Melihat bapak-bapak yang mengendarai motor yang terlihat sudah lama mungkin sering mogok-mogokan. Membuat Nadia sedikit teringat memori kenangan dengan Ayahnya.

Ayahnya yang seorang pekerja keras bekerja untuk menafkahi keluarganya, dia bahkan rela kepanasan dan kehujanan, demi mencari uang untuk membeli keperluan keluarga.

Ayah yang terlihat cuek namun dalam hatinya terdapat kasih sayang yang besar. Tidak ada seorang Ayah yang rela melihat keluarganya kelaparan. Ayah mana yang tega membiarkan anaknya tidak makan tidak minum.

Nadia belajar banyak dari Ayahnya, tentang hidup dan berjuang, seseorang perlu melakukan pengorbanan. Banyak yang dilalui seorang Ayah. Hinaan, cacian, bahkan direndahkan, sudah bagai angin lalu bagi seorang Ayah.

Nadia ingin sekali bisa membeli apa yang diinginkan oleh Ibu dan Ayahnya, Nadia akan berkata 'Ibu Ayah belilah apa yang kalian butuhkan biarkan aku yang membayar semuanya.' tapi itu hanya hayalan semata. Ayahnya sudah pergi menghadap sang illahi.

🕊️🕊️🕊️

"Kamu emang bener mau pergi ke yayasan?" tanya Afifah.

Siang ini, Nadia dan Afifah tengah berada di perpustakaan setelah berbincang dengan Bu Tita penjaga perpustakaan yang ramah nan cantik. Bu Tita berencana akan pergi berkunjung ke sebuah yayasan tempat tinggal anak yatim piatu.

Nadia dan Afifah juga diajak untuk sekedar melihat mereka yang kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Nadia pun sama dengan mereka, tapi ia masih punya Ibu dan adik-adiknya.

Sedangkan mereka yang tinggal bersama dengan orang asing harus memulai dan beradaptasi diri dengan orang baru.

"Mau dong, udah lama juga aku nggak berkunjung ke yayasan-yayasan." Nadia menutup buku yang sedang ia baca.

"Yaudah deh aku juga ikut, ajak Zhafira mau?" tanya Afifah.

"Iya boleh ajak siapa aja, sekalian tuh sama Abang kamu kalo mau,"

Takdir Cinta Nadia [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang