2. Sahabat

119 20 2
                                    

"Jadilah sahabat yang mampu mengubah luka menjadi tawa."

-Takdir Cinta Nadia

🕊️🕊️🕊️


Semilir angin lembut membelai kedua pipi Nadia. Menghadirkan rasa dingin yang membuatnya ingin kembali menarik selimut.

Perlahan Nadia membuka matanya dengan masih setengah sadar, ia paksakan matanya membuka dengan sempurna. Jarum jam pendek berada di angka lima, sedangkan jarum jam panjang di angka dua. Dengan susah payah Nadia mengangkat tubuhnya dari atas kasur menuju kamar mandi.

Nadia mengamati seluruh isi kamarnya, dindingnya berwarna coklat susu, dengan perpaduan warna hitam dan putih.

Nadia membuka jendela kamarnya terlebih dahulu sebelum ke kamar mandi. Terlihat awan yang masih sedikit gelap, burung-burung berkicauan, rerumputan dan dedaunan yang mulai berkembang, dan bunga-bunga yang terlihat penuh embun yang turun semalam.

Pemandangan yang sangat indah. Ditambah lagi dengan munculnya matahari perlahan-lahan yang turun ke bumi.

Nadia jadi malas untuk mandi. Ia ingin menikmati pemandangan indah ini. Sangat indah nan cantik. Nadia menghembuskan nafas, menghirup udara yang terasa segar. "Seger nya." Nadia memeluk erat tubuhnya sendiri.

Nadia mulai berjalan ke arah kamar mandi, mempersiapkan diri untuk pergi kuliah hari ini. Meski tubuhnya tak bersemangat karena kejadian kemarin dengan munculnya pesan dari email yang berisi pesan tidak penting itu. Membuat Nadia malas untuk beraktifitas.

🕊️🕊️🕊️

Matahari mulai menampakkan dirinya ke bumi, membuat sensasi kilauan. Nadia berjalan menuju lorong perpustakaan di bagian kiri laboratorium. Terlintas di kepalanya untuk meminjam buku tugas, atau sekedar membaca.

Setelah sampai di perpustakaan, Nadia melihat ada beberapa orang yang sedang membaca buku, bermain handphone atau sekedar berbasa-basi dengan temannya. Dan ada Bu Tita juga yang sedang melihat nomor-nomor buku. Nadia menyapa Bu Tita, Dosen yang memang sudah lumayan dekat dengannya.

Nadia melepaskan sepatu dan mulai berjalan ke arah Bu Tita. "Assalamualaikum Ibu." Nadia menyalami tangan Bu Tita.

"Waalaikumssalam," balas Bu Tita dengan senyuman di pipinya.

Bu Tita baru berumur kepala tiga jika dikira-kira. Ia adalah tipe guru yang disukai oleh para mahasiswa ketika di perpustakaan. Sikapnya yang baik membuat ia disukai banyak orang.

"Ibu selamat pagi, lagi ngapain Bu?" tanya Nadia yang melihat Bu Tita yang sedang duduk mengecek buku-buku yang menumpuk di mejanya.

"Pagi juga Nad. Ibu lagi ngecek-ngecek nomor buku," balas Tita.

"Asiap semangat Ibu. Nadia mau liat-liat buku dulu ya Bu. Sekalian mau minjem," Nadia izin pamit untuk meminjam buku.

"Iya monggo,"

Nadia menelusuri setiap buku-buku. Ia mencari buku yang akan ia gunakan untuk mengerjakan tugasnya.

Bau-bau buku menurut Nadia sangat enak. Karena memang ia tipe orang yang suka membaca. Tetapi bukan buku pelajaran, ia sukanya buku novel.

Takdir Cinta Nadia [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang