31

205K 7.5K 29
                                    

Devano memperhatikan penampilan gadis didepannya ini. Tampaknya dia gadis yang polos, dengan bergaya childish. Rambutnya pendeknya yang dibiarkan tergerai dengan mengenakan jepitan kecil berwarna pink dirambutnya.

Seragam yang dikenakan gadis dihadapannya ini sama seperti seragam sekolahnya Putra. Berarti gadis ini satu sekolah dengan adiknya itu. Devano memang tidak terlalu banyak mengetahui tentang Putri, dirinya hanya tahu bahwa Putri ialah gadis yang akan menikah dengan adiknya karena perjodohan.

"Kenapa kau bersedih?" tanya Devano saat tadi mendapati Putri yang tengah terisak sedih.

Putri hanya menggelengkan kepalanya.

"Aku mengerti," ucap Devano

"Apa?" Putri mengerutkan dahinya

"Aku tahu kau menyimpan masalah yang berat," tebak Devano

Putri hanya menundukkan kepalanya dan diam.

Devano lalu bangkit dari posisinya dan kemudian ia ulurkan tangannya kearah Putri.

Putri melirik kearah uluran tangan pria dihadapannya. Dirinya lalu mendongak kembali dan menatap wajah pria itu dengan bingung.

"Aku akan mengantarkan mu pulang," ucap Devano menjawab raut wajah Putri yang kebingungan

"Aku akan meminta Alex saja,"

Devano lalu menurunkan tangannya kembali karena tidak mendapat balasan dari Putri.

"Yasudah kalau begitu,"

Putri lalu bangkit dari posisinya dan berjalan menuju pintu utama untuk mencari Alex dan memintanya diantarkan untuk pulang.

Setibanya dihalaman depan rumah mewah itu Putri menoleh sekeliling tidak mendapati Alex, yang dirinya dapati ialah hanya dua penjaga depan gerbang dan dua maid yang berjaga didepan pintu utama.

Putri berjalan mendekat kearah dua maid yang berjaga didepan pintu utama. Dirinya takut kejadian kemarin terulang, dimana Alex pergi meninggalkan dirinya dirumah mewah ini begitu saja, Alhasil dirinya harus pulang diantarkan bersama pria yang dirinya benci.

"Dimana Alex?" tanya Putri to the point kepada dua maid yang berjaga didepan pintu utama.

"Alex baru saja keluar," jawab salah satu maid itu

"Lagi-lagi dia meninggalkan ku huh," gerutunya kesal sambil bertolak pinggang

"Kau ingin pulang Nona?" tanya salah satu maid itu

Putri mengangguk.

"Kau minta diantarkan oleh tuan Putra saja," saran maid itu

Putri langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak untuk yang kedua kalinya,"

Pintu utama terbuka, seketika dua maid itu membungkukkan badannya sedikit sebagai rasa sopan. Putri menoleh dan mendapati Devano.

"Alex tidak ada ya?" tanya Devano kepada Putri

"I-iya, dia meninggalkan ku lagi,"

"Tawaran ku tadi masih berlaku,"

"Baiklah, Aku menerima tawaran mu tadi,"

Devano lalu tersenyum dan segera berjalan kearah mobil-mobil milik keluarga Marvel yang terparkir. Putri hanya mengikuti langkah kemana pria itu berjalan.

"Aku pinjam mobil," ujar Devano kepada Jack

"Kau akan bawa yang mana?" tanya Jack

"Itu saja," tunjuk Devano kepada sebuah mobil audi hitam yang biasanya Putra tumpangi.

Jack mengangguk lalu segera memberikan kunci mobil tersebut kepada Devano.

"Aku akan segera kembali," ujar Devano lalu masuk kedalam mobil.

Putri masih diam ditempat seakan menunggu perlakuan Devano selanjutnya.

Devano menurunkan kaca mobilnya. "Kenapa kau hanya diam disitu saja? Masuk lah," ujarnya kepada Putri

Putri pun tersadar lalu segera masuk kedalam mobil dan duduk dikursi penumpang depan.

"Dimana rumah mu?" tanya Devano sambil melirik kearah Putri saat mobil sudah keluar gerbang rumahnya.

"Jln. Merlin, Kau tahu?"

Devano mengangguk. "Tentu saja aku tahu,"

Putri diam lalu menoleh kearah kaca mobil saja melihat kendaraan yang lalu lalang.

Hening. Tidak ada yang membuka pembicaraan, Putri baru mengenal pria disampingnya ini jadi dirinya sedikit canggung.

Tiba-tiba saja suara perut laparnya berbunyi. Membuat Putri merutuki kebodohannya sendiri karena pada saat jam istirahat disekolah tidak makan tadi.

Devano yang mendengar suara perut lapar itu langsung terkekeh.
"Kau lapar ya?" tanyanya

Putri lalu menoleh. "Ti-tidak," bohongnya

"Lalu suara apa itu?" pura-pura Devano

"Perut-ku,"

"Itu tandanya kau lapar, dan perut mu sudah meminta jatah,"

Putri hanya diam tidak membalas, pandangannya menatap lurus kedepan.

Devano lalu menoleh sebentar kearah Putri dan tangannya masih memegang stir kemudi.

"Kau tidak terlalu terburu-buru kan?" tanya Devano

"Maksudnya?"

"Kau tidak ada acara hari ini?"

Putri menggeleng. "Tidak,"

Sesudah mendapat jawaban dari Putri barusan kemudian Devano segera mengendarai mobilnya menuju sebuah restaurant berkelas.

"Sepertinya kau salah jalan, ini bukan jalan arah kerumah ku," ujar Putri saat merasa saat ini Devano melajukan mobil kearah jalan lain.

"Memang bukan," jawab Devano santai

"Lalu kau akan membawa ku kemana?"

"Restaurant, untuk makan,"

"Kau ingin makan?" tanya Putri polos

"Iya bersama mu,"

Putri langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak. Aku tidak ingin makan,"

"Perutmu tetapi ingin makan,"

"Biarkan saja, ini kan sudah jalan pulang jadi aku akan makan dirumah saja,"

"hmm kau terlambat, Mobil ini sudah tiba direstaurant," ucap Devano dan segera mengerem karena sudah tiba direstaurant.

Putri meneguk salivanya dengan kaku, Pandangannya menatap lurus kedepan. Restaurant berkelas didepannya ini sangat tidak cocok untuk dirinya datangi.

"Kau saja yang makan, aku akan menunggu disini," ujar Putri

Devano lalu melepas sabuk pengamannya. "Kau juga harus ikut masuk kedalam dan makan,"

Putri menggeleng lagi. "Aku tidak akan mampu membayar satu porsi makanan direstaurant itu,"

Devano lalu terkekeh dan menatap gadis disampingnya ini. "Kau tidak usah khawatir, Aku yang akan membayar semuanya,"

Putri hanya diam seakan sedang mencerna perkataan dari Devano barusan.

Devano merasa lama menunggu keputusan dari Putri, langsung saja dirinya keluar dari dalam mobil lalu berjalan kearah pintu mobil dimana Putri duduk.

"Ayolah keluar," ujar Devano saat pintu mobil sudah dibukanya

Putri menoleh lalu dengan ragu keluar dari dalam mobil.

Setelah Putri keluar dari dalam mobil, Devano segera menutup kembali pintu mobil itu lalu berjalan masuk kedalam restaurant mewah didepannya. Putri hanya mengikuti langkah kaki Devano dari belakang, ini kali pertamanya Putri memasuki restaurant berkelas.

.
.
.
TBC

Putra, Putri, & Perjodohan [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang