Harmonize

4.8K 418 29
                                    

Anyeong... 52k readers, trimakasih sudah mau membaca HARMONIZE, nggak nyangka! Seperti mimpi tau gak ?!

Awalnya saya mau update kalau votenya nyampe 10k, tapi sepertinya itu mustahil. Hahhaa...

Maaf untuk keterlambatannya.

Don't forget to vote and comment, biar bener2 bisa nyampe vote 10k. Saya MAKSA! Hhahaha..

Enjoy it.

***

Sekolah Pursand hari ini lebih berisik dari biasanya, di samping karena acara ulang tahun SMPursand yang akan diselenggarakan dua hari lagi, ada berita lain yang menjadi tranding topic pagi ini.

Cynthia, anak bungsu dari Purwasandika pindah ke Jerman karena alasan yang ditutupi, dengan tiba-tiba. Banyak yang berkomentar jika Cynthia pindah karena masalahnya dengan Yuki tempo hari, ada juga yang mengatakan jika Cynthia sudah tidak mau lagi tinggal di Indonesia karena cintanya tertolak.

Banyak spekulasi tak jelas yang mereka bicarakan perihal kepindahan Cynthia.

Bagi lima sekawan yang menyebut dirinya NG (Baca: ÉnJi) yang merupakan singkatan dari New Generation, kepergian Cynthia merupakan suatu anugerah yang tak pernah mereka kira sebelumnya.

NG adalah group baru yang merupakan gabungan dari Duo Dirgantara dan The Troubles. Mereka sepakat akan memakai nama itu untuk nama panggung mereka nanti.

"Akhirnya hidup gue bebas!" Yuki berteriak girang, Al, Prilly, dan Ali tertawa dibuatnya.

Kali ini mereka tengah berada di rooftop sekolah. Menghabiskan waktu istirahat dengan melihat gumpalan kapas putih yang menggantung di atas sana. Rasanya sudah lama sekali awan biru bertabur kapas putih itu tak terlihat. Angin semilir sepoi pun membuat hirupan napas mereka menjadi lebih  bersih dari biasanya.

"Gue terima kasih banget sama kalian. Akh... rasanya gak pernah gue ngerasa selega ini seumur hidup gue." Yuki menatap ketiga orang penting dalam hidupnya itu bahagia. Bahkan sejak tadi senyum tak pernah pudar dari wajah cantiknya, dan hal itu, membuat Al terasa amat senang.

Prilly mendesah. "Gue juga ngerasa lega."

"Lega karena cinta loe udah gak bertepuk sebelah tangan? Hngg?!" Yuki memicingkan matanya ke arah Prilly.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya, tak terima. "Cinta gue itu, gak pernah bertepuk sebelah tangan kali. Ali udah dari lama suka sama gue. Cuma dianya aja yang sok gak peduli dan lebih mementingkan gengsi." Prilly tersenyum bangga, padahal dalam hati ia mendesah lega. Perjuangannya untuk mendapatkan cinta Ali sungguh tak pernah ia sangka akan berakhir seperti sekarang.

Sedang Ali dan Al hanya tertawa renyah menanggapi pernyataan Prilly yang asal tebak itu.

"Cih... Pede banget sih buk." Yuki menoel pipi gembil Prilly.

"Bukan pede tapi kenyataan." Ucap Prilly kekeh tak mau merasa kalah.

Ali tersenyum melihat kedua gadis itu. Perlahan tangannya terangkat dan mencubit hidung Prilly gemas.

"Ih ... ! Kok dicubit sih? Sakiiiit."

"Manja banget sih?" Ujar Ali seraya mengusap puncak kepala Prilly.

Al dan Yuki tertawa, rasanya setiap beban yang mereka rasakan terasa lebih ringan, atau mungkin beban itu telah memuai menjadi sepaian udara yang tak kasat mata.

Al menatap Yuki dengan senyum tipis yang masih tersemat di bibirnya. Perlahan, tangannya terangkat dan menyingkapkan helaian anak rambut yang mencuat nakal di sekitaran telinga Yuki.

HARMONIZETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang