Sandaran

5.3K 397 72
                                    

Yuki menatap nanar pada batu nisan di hadapannya, sebuah batu nisan yang tersemat nama Sarah disana, kakak kandungnya yang meninggal tiga tahun yang lalu karena sebuah kesalahan.

Seandainya, waktu bisa diulang, Yuki ingin mengembalikan dirinya ke masa dimana Sarah masih hidup. Karena ulahnya yang terlalu kekanak-kanakan, Sarah menjadi korban.

"Hai mbak, apa kabar? Pasti selalu baik kan? Aku selalu berdoa semoga mbak Sarah disana baik-baik aja, maaf, baru bisa kesini sekarang." Hening, tak ada jawaban dari pertanyaan Yuki, hanya semilir angin menyentuh permukaan kulitnya.

"Mbak... Keyla ternyata tumbuh sehat lho! Aku aja gak nyangka ternyata Keyla bisa selincah itu, padahal kalau aku ingat dulu betapa kecilnya dia, harapan untuk hidup seakan tak ada. Tapi sekarang, aku bersyukur mbak, Keyla selalu bisa buat aku tersenyum." Yuki terduduk, membiarkan kakinya tertekuk, tangannya terulur, menabur bunga yang ia bawa dari rumah.

Bunga mawar merah yang dicampur dengan melati dan kenanga.

"Mbak, di kota, ada yang suka sama aku, tiap hari dia selalu gangguin aku, kadang aku sebel juga sih ngeliat tingkah dia, sebenarnya... gak bisa dipungkiri kalau aku juga suka. Tapi... mbak, aku takut. Dengan kondisi aku yang kayak gini, apa mungkin dia bisa nerima aku? Mbak sering bilang dulu sama aku, ibuk juga, kalau orang baik pasti juga dapat pasangan yang baik juga, menurut mbak, aku ini layak gak disebut orang baik?" Mata Yuki berkaca-kaca, meski saat ini ia berbicara pada sebuah nisan, tapi hatinya selalu merasa jika Sarah pun juga ikut mendengar apa yang ia katakan.

"Mbak, maafin aku ya mbak... seandainya dulu aku nurut sama mbak Sarah, mungkin... semua ini gak bakalan terjadi, aku... nyesel mbak. Dan... aku berjanji pada diriku sendiri gak akan mengulangi hal buruk itu lagi, sudah lebih dari tiga tahun ini aku berusaha menjauhi laki-laki, dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlalu percaya pada mereka." Terdengar bunyi tarikan nafas yang tersendat, karena hidungnya saat ini terhalang oleh selaput bening yang membuatnya susah untuk bernafas secara normal.

"Yuki...!" Gadis itu menoleh, dan melihat Adi tengah menghampirinya. Segera gadis itu menghapus sisa air mata yang sempat menggenang di pelupuk matanya,

"Tak cariin dari tadi ternyata malah disini kamu. Ayo pulang." Adi menyentuh pundak Yuki halus.

"Bentar mas, aku masih pengen disini." Yuki kembali menjatuhkan pandangan matanya ke batu nisan Sarah, suaranya terdengar parau, tapi ia masih bisa menahan agar air matanya tak lagi terjatuh.

Hening...

Dalam hati gadis itu sedang melantunkan doa untuk Sarah.

Udara sejuk khas pagi hari membuat suasana disana terasa menenangkan, apalagi makan Sarah dipayungi oleh pohon kamboja.

"Kamu kenapa tiba-tiba pulang?" Yuki terkesiap saat kedua tangannya baru saja menutup wajahnya, Adi memberikan pertanyaan yang tak pernah ia duga sebelumnya.

"Kan libur mas, minggu depan aku juga balik lagi ke Kota," gadis itu mencoba untuk mengatur gerak tubuhnya, agar tak terlihat kaku, tapi gagal, Adi bukanlah orang yang mengenal Yuki satu dua hari saja, pria itu, tahu jika saat ini Yuki sedang dilanda kesedihan.

"Kamu gak usah bohong sama aku, bapak ibuk bisa kamu bohongi, tapi aku gak bisa Yuki," Adi menatap tegas ke arah Yuki, pria itu butuh penjelasan, yang bisa membuatnya tak lagi bertanya-tanya.

"Ada orang yang pingin aku pergi mas," Yuki sudah tak bisa lagi berbohong, toh percuma, gadis itu juga butuh sandaran kan?

"Hanya karena itu kamu ambil keputusan untuk balik ke Jogja, dan ngehancurin impian kamu sejak dulu itu?" Ucap Adi tak habis fikir dengan jawaban Yuki.

HARMONIZETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang