Sabarlah Hati

5.1K 460 29
                                    

Pernyataan cinta Al membuat Yuki gundah, dalam hati yang terdalam sebenarnya ia bahagia, tapi kenangan pahit di masa lalu membuatnya seakan tak membiarkan Yuki untuk merasakan kebahagiaan.

Flashback on

"Makasih ya Ki" Seringai lebar muncul dari wajah Esa saat melihat Yiki meringkuk di balik selimutnya.

Perasaan bersalah, tetiba menghantui perasaan Yuki, baru saja mereka melakukan suatu hal yang membuat Yuki sudah merasa Esa harus benar-benar menjadi laki-laki yang menikahinya nanti.

Rasa cinta yang terlalu bodoh membuat banyak manusia terjerumus semakin dalam pada dosa. Kenikmatan sesaat yang di alami Yuki membuat gadis itu lupa jika kenikmatan itu malah justru akan membawanya ke dalam lembah kehancuran.

Seperti yang dikatakan oleh pepatah, wanita memiliki peran penting dalam dunia, jika ia hancur maka bumi ikut menangis.

"Udah gak usah sedih gitu donk, sayang, gak bakalan terjadi apa-apa, tenang aja" Esa meraih kepala Yuki dan mengecup kening gadis itu lama, ada perasaan tenang menyeruak dalam hatinya, saat ternyata laki-lakinya bisa membuat Yuki merasa tenang.

"Janji kamu bakalan tanggung jawab kalo terjadi apa-apa sama aku?"

"Janji sayang, tapi yakin deh sama aku, kamu gak bakalan kenapa-kenapa" Esa mengeratkan genggaman tangannya pada tangan gadisnya.

Flashback off

Yuki terisak, saat ia mengingat kembali kejadian itu, sungguh itu adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan dalam hidupnya di masa lalu.

Apa yang dialami Yuki adalah sebagain kecil masalah yang saat ini dialami oleh banyak anak remaja diluaran sana. Terlalu asyik dengan kenikmatan semu membuat lupa jika hal itu malah justru akan membuat nilai seorang wanita menjadi rendah dan menjijikan.

Dia sudah berjanji tak akan melakukan hal itu lagi, apalagi setelah adanya Keyla dan meninggalnya Sarah, Yuki memiliki tekad tak akan terjerumus dalam lembah yang paling kelam.

Tak ada yang tahu masalah ini, sejak lama ia menutup rapat semuanya, pada Prillypun ia hanya menceritakan sebagian kisahnya, tanpa memberitahu kebenarannya, ia malu.

Perasaan takut jika laki-laki hanya memiliki nafsu dan bukan cinta membuat Yuki seakan menutup rapat pintu hatinya. Dia sudah terlalu jauh dekat dengan Al, dan itu malah akan membuat hidupnya semakin tersiksa. Kalaupun memang Al benar mencintainya ia merasa tak pantas mendapatkan itu semua.

Apa mungkin Al bisa menerima dia apa adanya? Menerima kekurangan dan tak sempurnanya dia?

Yuki ragu. Al bukan malaikat yang bisa memiliki hati yang lapang, apalagi bukankah laki-laki baik juga akan mendapatkan wanita yang baik pula?

Yuki menahan isak tangisnya kala ia mendengar seseorang dari luar bilik kamar mandi memanggil namanya.

"Yuki, elo di dalam kan? Elo gakpapa kan Ki?"

Prilly yang cemas karena Yuki tak juga kembali ke kelas membuat gadis itu mencari keberadaan Yuki, dan setelah ada yang mengatakan jika Yuki di toilet, Prilly segera memghampirinya.

Yuki menghapus jejak air matanya, ia tak ingin membuat temannya itu bertanya-tanya tentang keadaannya.

"Ehemm,...." Yuki mengatur suara yang akan keluar dari tenggorokannya, "Iya Prill, gue disini, bentar ya masih mules" Yuki mengatur suaranya agar terdengar biasa, kemudian menekan tombol air di toilet duduknya, membuatnya mengeluarkan suara bising.

Perlahan Yuki membuka pintu bilik kamar mandinya, dan dengan senyum yang dibuat senatural mungkin Yuki menyambut Prilly yang saat ini tengah menatapnya khawatir.

HARMONIZETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang