Keputusan Terbaik

4.8K 411 32
                                    

Yuki merentangkan kedua tangannya, sejenak gadis itu melupakan semua yang ia alami beberapa bulan ini, meski baru kurang dari lima bulan dia di Ibukota, tapi saat ini ia sudah menginjakkan kakinya kembali.

Setelah bergulat dengan pemikirannya, Yuki akhirnya mengambil suatu keputusan, dia akan keluar dari kota mengerikan ini, dia akan pulang. Yuki sudah tak peduli dengan semua yang ada di kota ini, persetan dengan mimpi dan cintanya, toh dia memang tak berhak mendapatkan itu semua.

Semua sosial media ia non aktifkan, termasuk no handponenya, ia akan menghilang. Ia akan kembali ke tempat dimana seharusnya ia berada.

"Mas Adi...." Yuki memeluk kakaknya itu sayang.

"Kangen aku sama kamu." Adi mengelus puncuk kepala Yuki, kemudian mengambil alih koper yang dipegang oleh Yuki.

"Keyla udah nunggu kamu, dia seneng banget kamu pulang."

"Kok gak diajak sekalian aja si mas, kan aku juga kangen sama Keyla."

"Lagi kurang enak badan dia, kasihan, tadi minta gendong terus sama ibuk. Siap-siap aja kamu nanti, digelayutin Keyla pas udah sampai rumah." Mereka terkekeh, sambil berjalan menuju parkiran.

~~~♥♡♡♡♥~~~

Prilly sedari tadi tak melepaskan pandangan matanya ke pintu kelas. Sejak tadi pagi gadis itu menunggu kehadiran Yuki, tapi gadis itu sama sekali tak muncul, handponenya juga tidak aktif, semua yang berhubungan dengan Yuki seakan tak terlacak.

Perasaan tak tenang tetiba membuat Prilly cemas, apa yang terjadi dengan Yuki. Padahal gadis itu sudah bilang jika hari ini akan masuk sekolah, tapi kenapa sekarang malah menghilang.

"Kakak ipar kenapa sih?"

"Masha Allah, loe tu bener-bener ya, idup loe bikin gue kaget terus, heran gue kenapa Niki bisa suka gitu sama elo, padahal tiap hari kerjaan loe tu cuma gangguin gue doang, gue tu..."

"Cep... syutt, kakak ipar berisik, ngomong kayak gak ada titik komanya." Boy mendekap mulut Prilly, membuat gadis itu langsung menarik tangan Boy yang separuhnya menutupi hidung.

"Loe habis kencing ya, pesing banget tu tangan." Prilly melengos.

"Tau aja kalau gue dari kamar mandi, tadi lupa cuci tangan." Boy cekikikan, sengaja dia ingin menggoda Prilly, karena entahlah menurutnya Prilly itu lucu, seperti boneka annabelle yang ngegemesin tapi nyeremin kalau diajak bercanda.

"Iuhhhh,, jorok banget sih loe! Jijik gue, jauh-jauh loe, ni pake tissu basah buat ngelap tangan jorok loe itu, ihh,, oeekk." Setelah melempar tissu basah ke wajah Boy, Prilly melenggang pergi, berniat untuk mencuci wajahnya yang terkontaminasi bakteri.

Diperjalanan gadis itu tak berhenti menggerutu, apapun yang ada diotaknya ia keluarkan begitu saja, hingga membuat beberapa murid yang tak sengaja berpapasan dengan Prilly menatapnya aneh.

"Apa loe liat-liat gue? Mau gue colok tu mata pake jari gue?" Prily mengacungkan dua jarinya saat ia melihat seorang murid perempuan memandangnya sambil melotot tak suka.

Murid perempuan itu bergidik ngeri, kemudian berlari meninggalkan Prilly.

Prilly berjalan sambil terus menatap nyalang ke arah murid-murid yang dilihatnya, gadis itu memang selalu bersikap aneh jika sedang mengalami kecemasan.

Bugghh...,

"Siapa yang mindahin tembok kesini sih? Sakit banget." Prilly mengelus jidatnya yang terasa nyeri.

HARMONIZETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang