Penyesalan

6.6K 478 30
                                    

Al terbangun dari tidurnya saat mendengar dering telfon di dekat wajahnya. Sejenak wajahnya menoleh kekanan dan kekiri, Al sedikit terkejut saat ternyata dia masih berada di pangkuan Yuki.

Dilihatnya jam di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul 10 pagi, artinya dia sudah tidur selama lebih dari tiga jam.

Deringan telfon kembali terdengar membuat Al beranjak darI posisinya, tak ada suara apapun selain deringan telfon yang dia yakini bukan miliknya.

Yuki, gadis itu duduk dengan mata terpejam, kepalanya tertunduk. Al sedikit merendahkan wajahnya untuk bisa melihat wajah polos Yuki.

Rupanya si penelfon lelah menghubungi handphone Yuki yang tak segara di jawab, tidak ada lagi suara ringtone HP terdengar dari tubuh Yuki.

Hati-hati Al mencolek pundak Yuki dengan telunjuknya.

Yuki tak bergeming,

Lagi, Al memukul pundak Yuki dengan telunjuknya.

1 detik
2 detik

Yuki masih tertunduk dan Al akhirnya menghela nafas panjang.

Bersamaan dengan hembusan nafas Al, Yuki mendongakkan kepalanya. Menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang susah diartikan.

Al yang melihat Yuki reflek mendongak tersentak kaget.

"Loe tu ngagetin aja" Al mengelus dadanya yang jantungnya berdetak kencang.

"Sejak kapan loe bangun?"

"Baru aja, loe kok bisa tidur sambil duduk gitu?

"Menurut loe?! Nungguin orang tidur bukan keahlian gue, aduhhh" Yuki meringis saat dirasa pahanya terasa begitu pegal ketika dia beranjak dari tempat duduknya

"Duduk aja kalau sakit, gak usah dipaksain" Ucap Al tanpa menoleh ke arah Yuki,

"Loe ni nyiksa gue namanya, kalah taruhan sih kalah, tapi gak nyiksa kayak gini juga kali" Yuki memanyunkan bibirnya sambil terus memukul-mukul pahanya yang terasa sakit,

Sekilas Al menunjukkan senyum samarnya dengan pandangan yang lurus ke depan.

~~~♥♡♡♡♥~~~

Semenjak Yuki pergi dengan Al jam tujuh tadi, Prilly sama sekali tak melihat batang hidung Yuki.

Rasa lapar yang dideranya pun akhirnya sirna saat akan menginjakkan kakinya di kantin, Prilly melihat Ali sedang antri makanan. Tak ingin di suruh-suruh Prilly pun akhirnya meninggalkan kantin.

"Eh Kuper!!" Gendang telinga Prilly terasa tergelitik saat ada seseorang dengan suara khasnya berteriak Kuper.

Berusaha acuh Prilly terus melanjutkan langkahnya dengan sedikit tergesa, dan suara itu sudah tak terdengar lagi.

Bukkk...

"Haduhh, sejak kapan sih ada tembok di sini, eh!" Prilly menyadari sesuatu, yang baru di tabraknya bukanlah tembok, tapi dada bidang milik seorang laki-laki,

"Ah, elo Boy, ngapain sih berdiri di tengah jalan" semprot Prilly sambil mengelus keningnya yang terasa berdenyut,

"Lha, elo ngapain jalan sambil nunduk, jalan tu liat ke depan" Protes Boy

Baru saja akan berkomentar Prilly merasakan pundaknya terjamah sesuatu, wajahnya langsung berubah sendu, dari bau parfumnya saja Prilly bisa tahu siapa yang menjamah pundaknya.

HARMONIZETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang