// what a day

3.2K 202 38
                                    

"Ini bekal buat kamu, ini sarapan harus dimakan, harus habis semuanya,"

Aku mengangguk dalam senyum melihat mama Alma di dapur Apartemenku. Aku tidak sempat ke rumah mama Alma dan selalu bila aku tidak ada waktu, mama Alma akan berkunjung di pagi hari dan kembali pulang. "Iya, Mah, makasih ya,"

Mama Alma tersenyum, menghelus lembut rambutku sementara aku memakan sarapan buatan mama Alma. "Eh, Mama kemarin lagi bersihin rumah ketemu parfum nya Cam, sama ada kaosnya dia kayaknya bagus buat kamu deh," ujarnya seraya memberikan sebuah paper bag kepadaku.

Aku meraihnya dan melihat isi dari tersebut, "Di lemari masih banyak barang Cam, Mah?"

Sudah dua tahun Cameron pergi aku masih belum siap melihat kamar Cameron, bahkan melihat foto lama saja air mataku turun tanpa diminta. "Masih tuh, mau ngambil?"

Aku tentu menggeleng, itu membuat luka lama kembali. "Nggak ah, ntar Anna sedih lagi,"

Mama Alma menepuk bahuku dalam senyum, "Kamu berhak bahagia kok, Na. Mungkin memang Cameron bukan yang terbaik buat kamu, maafin Cameron ya, sayang sekali lagi Mama sedih kalau kamu masih sedihin Cam," ucapnya sendu.

Aku hanya tersenyum, aku tidak bisa membuka suara. Mama Alma selalu meminta maaf padaku ketika aku bersedih karena Cameron, dan aku merasa tidak berdaya akan ucapan Mama Alma. "Mama sehat-sehat ya, maaf Anna nggak bisa mampir ke rumah. Mama nggak usah pikirin Anna, aku selalu cari cara buat ikhlas. Terimakasih Mah."

Setelah Mama Alma pulang akupun bersiap pergi ke kampus. Kakiku terhenti saat mendapati Gaffriel duduk di Loby, aku menyampiri untuk memastikan bahwa itu Gaffriel. "Lah, kok ada elo?" tanyaku terheran.

Gaffriel berdiri dari duduk dengan senyum, "Lagi mau baik sama lo. Yuk, gue antar ke kampus,"

"Hah?" Gaffriel menarik lenganku ke parkiran tempat lelaki itu memarkir mobil. "Apa, sih kok tiba-tiba gitu?"

"Iya, gue mau ketemu lo aja,"

"Kangen jangan-jangan?"

"Enggak, ngapain?"

Aku mendengus, benar juga. Akupun menyengir, "Iya, ya, apa banget gue," ujarku dalam tawa.

Sekitar sejam perjalanan mobil Gaffriel sampai di kampusku, aku turun begitupun Gaffriel yang tidak kuketahui untuk apa ia keluar dari mobilnya. "Kalau sakit jangan maksain, pulang aja dosen juga nggak peduli-peduli amat. Gue duluan ya, lagi ada perlu juga,"

Aku mengangguk, "Hati-hati, makasih tumpangan nya!"

Gaffriel mengangguk, memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan kawasan kampus. Baru berbalik aku bisa melihat jelas Keera berdiri di belakangku dengan tatapan seram yang kutidak mengertikan arti tatapan tersebut. "Jadi lo mau yang mana, sih?"

Aku memutar bola mata malas memilih mendahului Keera. "Seriusss.... lo sama Arden cocok, sama Gaffriel... lo yakin? Arden tapi lucu kan, dia juga seru gitu, Na,"

"Apa siiih... gue nggak ada niat kesana kok,"

"Sama siapa?"

Aku menggidik bahu membuat Keera mendelik, ia menarik tanganku agar berbalik menatapnya. "Gue sebagai sahabat yang baik memberi pesan bahwa Arden suka sama lo, jadi jangan bilang kalau lo nggak ada niat apa-apa. Lagian lo kalau nggak ada niatan bisanya nggak sampe jalan bareng, kenapa sama Arden jalan bareng? Gaffriel juga lagi," Keera tampak mendengus kesal.

Bila ditanya aku tidak tau. Tidak tau arah hubungan ini, aku saja belum benar-benar meninggalkan Cameron dan juga tidak mungkin aku menjalin sebuah hubungan bila perasaanku saja belum bisa sepenuhnya untuk orang baru. Aku yakin hubungan seperti itu tidak akan berjalan baik, bahkan teralu memaksakan yang berujung sakit hati. Untuk kali ini aku belum siap untuk memulai untuk kembali patah hati, dan untuk sekarang ini aku akan mencoba untuk benar-benar melupakan Cameron untuk memulai lagi tapi, itu semua butuh waktu panjang. Aku mendesah keluh, "Lo tenang aja, gue mau jalanin aja dulu,"

Metanoia Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang