Konspirasi Alam Semesta: 16

4.3K 993 36

Hal terhebat dari tidak bisa berkata apa-apa lagi, adalah tidak bisa mengeluarkan air mata hanya untuk sekedar menangis.

Aku berlari mengikuti jejak langkah suamiku di lorong kamar inap suatu rumah sakit umum di Solo. Setengah jam yang lalu, mas Rama menerima telepon dan dikabarkan Amithya terpaksa di opname. Hal itu membuat wajah mas Rama didera kepanikkan yang selama ini bahkan aku belum pernah melihatnya.

Wajah panik itu pernah ada, kala aku terlalu capek dan mengeluarkan darah mimisan saat di kamar mandi. Tapi raut wajah itu tidak bisa dibandingkan dengan raut wajahnya saat ini.

Dan lagi, kenapa hidupku harus satu hari bahagia, satu hari nestapa?

Semalam, saat masih di rumahku di Jakarta, aku hampir tidak bisa bernafas ketika harus berhadapan dengannya. Setelah.. ya, itu.

Kami sudah melakukannya.

Tidak wajar. Karena kami hanyalah sepasang suami-istri yang berpura-pura. Tanyakanlah rasa cinta dalam diri mas Rama kepadaku, sudah pasti, tidak ada.

"Kamu pulang sekarang."

"Apa nggak boleh aku jenguk dia?"

"Buat apa? Apa ada manfaatnya?"

"Salah menjenguk orang yang sedang sakit? Aku cuma mau berempati aja.."

"Pulang sekarang, Pembayun."

Perintah terakhir itu yang kudengar dari bibir mas Rama. Bibir yang waktu itu semalaman dengan kuasa penuhnya berhasil mendarat di sekujur tubuhku.

Aneh bukan. Dan aku pasti segera menuruti ucapannya itu. Ada hal-hal tertentu yang membuatku bisa langsung menurutinya atau bahkan melanggarnya mati-matian.

Setelah perjalanan pulang ke Keraton, sesampainya di kamar, aku langsung terduduk di depan cermin meja rias. Kemudian aku memejamkan kedua mataku berpikir bahwa hidupku telah salah. Semua dimulai dari pertemuanku dengan mas Rama.

Apa memang benar, skenario alam ini bentuk dari takdir Tuhan? Apa memang Tuhan setega ini? Apa menurutNya aku memang kuat untuk melewati semuanya?

Tok..tok.

Terlihat sosok Sundari. Ia membawakan kereta dorong kecil yang sudah pasti isinya adalah tumpukan beberapa makanan. Mulai makanan pembuka-utama-penutup.

"Makan sama saya ya, Ndari.."

Sundari pun mengangguk. Awalnya Ia terpaksa, benar-benar harus kupaksa untuk mau makan bersamaku, setelah kuceritakan panjang lebar apa yang kurasakan saat makan hanya sendirian, Sundari mengerti. Rasanya aku punya adik yang tinggal di dekatku selama disini.

Makanan yang disajikan setiap hari tidak pernah sama. Kali ini suapan pertama aku hendak mengambil kuah sup buntut kesukaanku.

"Bapak dan Ibu apa belum kembali?" Tanyaku pada Sundari.

"Belum, kira-kira dua hari lagi ndoro putri."

Tenggorokanku tiba-tiba terasa gatal dan aku terbatuk, terdengar sedikit ada lendir di dalam sana yang membuat batukku terkesan berlebihan.

"Ndoro! Ndoro batuk ya?? Waduh..alamat nanti saya dimarahi lagi sama Gusti Pangeran.."

"Tersedak. Siapa yang batuk sih. Berlebihan kamu."

"Duh ndoro..jangan sakit lagi ya. Yang susah saya ndoro, saya dianggap ndak becus ngurusin kesehatan ndoro putri. Gusti pangeran bertitah, ndoro jangan sampai sakit bahkan itu cuma sakit flu biasa."

Cih..bisa-bisanya putra mahkota bermain drama kepedulian.

"Kapan Gusti bilang gitu?"

"Ya setelah lihat ndoro putri mimisan. Gusti bingung dan marah-marah terus. Semua kena marah, Ndoro.."

"Hal-hal yang kamu dengar itu belum tentu seperti yang kamu lihat, Ndari.. dan juga sebaliknya."

Sundari terdiam. Tidak tahu harus merespon perkataanku yang tidak jelas ini.

"Oh iya. Apa permintaan saya sudah bisa kamu penuhi?"

Lagi-lagi Sundari terkejut tetapi hanya bisa diam, wajahnya sedikit pias.

"Kamu menolak apa yang saya perintahkan?"

"B-bukan begitu ndoro putri. Saya sedang mengusahakannya."

"Kapan bisa segera dilaksanakan?"

"Dua hari lagi, ndoro putri.."

"Baik. Saya pegang kata-kata kamu. Janji ya."

Sundari pun mengangguk pasrah dengan titah yang kuberikan beberapa minggu lalu padanya. Aku penasaran, apa setelah itu terwujud, aku bisa menemukan duniaku kembali, atau justru mas Rama semakin mengekangku.

Konspirasi Alam SemestaBaca cerita ini secara GRATIS!