Konspirasi Alam Semesta: 20

4.3K 1.2K 228

Mungkin saja keimananku sedang diuji. Tidak ada benteng yang bisa menahan amarahku untuk mengancam mas Rama dengan bayi di rahimku.

Pil yang bisa memicu kontraksi dini, kini sudah ada di tanganku. Semenjak kepergian mas Rama di hari pertama untuk menemani Amithya, aku sudah sibuk memikirkan cara-cara agar mas Rama kembali padaku.

Aku tahu, kenyataan bahwa aku hamil 4 minggu benar-benar sudah diluar rencanaku. Alih-alih menebus vitamin yang diresepkan dokter padaku, justru aku meminta pil tersebut. Tidak sulit ternyata, dengan membayar seorang suster muda di rumah sakit tersebut, aku mendapat obatnya. Niatku kali ini dilancarkan.

Botol kaca kecil itu sudah ada di tasku seharian. Memikirkan skenario terbaik yang bisa aku berikan untuk mas Rama, apa aku harus mengikutinya?

Perutku kembali mulas. Ini hari ketiga dan mas Rama juga tidak kunjung kembali seperti janjinya. Sepeninggalannya pun nafsu makanku menurun drastis, demam ringan langsung menyerangku beberapa menit setelah mas Rama hilang dari pandanganku.

Di malam hari pun aku suka menggigil. Apa ini gejala orang hamil?

Tapi.. aku masih terus merutuk kesalahan-kesalahan yang aku buat sendiri.

Kesalahan pertama adalah dimana aku menyetujui berhubungan badan padahal dari awal kesepakatan teratas yang aku ungkit adalah tidak melakukannya.

Kesalahan kedua menghasilkan 1 nyawa yang kini bersarang di rahimku.

Kesalahan ketiga..

Ckit!

"Ahh!" Aku meringis pelan. Rasanya seperti ada yang menyubit organ dalamku. Entah itu lambung, usus atau bayiku? Ini sudah berulang kali semenjak kepergian mas Rama, mungkin saja bayi ini tidak mau dipisahkan dengan Ayahnya.

Beberapa menit ke depan yang tidak pernah aku sangka adalah rasa seperti dicubit berkali-kali itu kian intens. Keringat dingin bercucuran dari kepala hingga kakiku terasa dingin.

Beberapa menit kemudian aku memuntahkan seluruh isi perutku dan itu mengundang kepanikkan Sundari kembali, selanjutnya aku tidak ingat apapun selain semuanya menjadi gelap.

***
Telingaku sayup-sayup mendengar percakapan dua orang.

"Tindakan, Dok?" Ujar suara seorang wanita.

"Sudah hubungi suaminya?" Terdengar balasan suara seorang pria.

"Belum bisa Dok. Bagaimana?"

"Siapa yang mengantar kesini?"

"Asistennya Dok."

"Ck. Mana bisa asisten memutuskan tindakan atau tidak? Keluarganya yang lain?"

Aku membuka kedua mata dan melihat dua orang mengenakan kostum pekerja di rumah sakit. Satu dokter dan satu lagi suster. Masuk seorang lagi suster untuk memberikan apapun itu yang tidak menjadi fokusku.

"Dok.." aku memanggil dokter itu dengan lirih.

"Ibu, sudah sadar? Saya harus ambil tindakan, Bu. Ibu terkena radang usus buntu. Tapi.."

"Operasi saja, Dok."

"Iya. Saya hendak melakukan operasi kecil laparoskopi atau dengan kata lain bukan operasi bedah dengan sayatan besar. Tapi saya harus menghubungi suami Ibu terlebih dulu.."

"Dok.. ada keluarga pasien diluar." Satu suster menyela pembicaraanku dengan dokter. Aku sungguh tidak berharap bahwa orang yang dimaksud adalah mas Rama. Sangat tidak kuinginkan dia melihat keadaanku yang seperti ini, terlebih lagi aku menyembunyikan fakta yang tengah mengandung.

"Oh, suaminya ya?"

"Bukan Dok. Asisten suaminya."

Adrian.

"Dok, tolong jangan bilang kalau saya sedang mengandung. Bilang saja saya hanya terkena usus buntu dan dokter bisa menanganinya."

"Maaf, Bu. Saya harus ceritakan seluruh kondisi pada wali Ibu."

"Dia bukan suami saya, Dok! Atau saya harus menggunakan cara lain supaya dokter mematuhi saya?"

Setelah berdebat 10 menit, Dokter pun keluar ruangan untuk berbicara dengan Adrian. Tentu, dengan kondisiku yang sudah diberi obat anti nyeri dan identitasku yang terpaksa kukeluarkan untuk sedikit mengancam sang Dokter.

Dokter pun menyetujui keinginanku, namun dia tetap menunggu persetujuan mas Rama untuk melakukan operasi.

Keesokan paginya, aku terbangun dengan serangan sinar matahari yang masuk melalui jendela ke ruang perawatan di rumah sakit ini. Tubuhku masih lemas, untuk membuka mata saja aku harus mengumpulkan tenaga besar. Nampaknya dokter benar-benar memberikan dosis besar sebelum operasi dilakukan.

Pintu kamar inap terbuka. Dengan jelas aku menangkap kehadiran seseorang yang aku nanti-nanti. Sang Putra Mahkota.

Jujur saja aku tidak bisa menghilangkan degup jantung yang tidak karuan ketika harus berhadapan dengannya, entah sampai kapan. Namun kondisiku yang masih lemah membuatku meresponnya kembali dengan menutup mata.

Aku merasakan ranjang rumah sakit ini bergerak karena ada sesuatu yang menimpanya, aku merasakan mas Rama duduk di samping kananku. Tidak ada sentuhan, genggaman yang sudah sewajarnya diberikan kepada orang sakit. Maka dari itu aku memilih membuka mata saja untuk menantang langsung kedua mata milik mas Rama.

"Kamu tahu Ayun? Selama melangkahkan kaki dari parkiran mobil ke kamar ini saya mencoba mengumpulkan tenaga..."

Dia memberi jeda untuk berbicara.

"...untuk bisa memukuli kamu sampai sadar."

Apa..sekarang pun dia ingin menggunakan kekerasan?

"Pukul aku sampai kamu puas, Mas. Tapi setidaknya beri aku alasan kenapa kamu memilih untuk memukulku dibanding berbicara baik-baik.." suaraku pasti terdengar tipis tapi aku rasa mas Rama pasti mendengarnya karena jarak kami yang begitu dekat.

Bukan kata-kata balasan yang aku dapatkan melainkan pandangan matanya yang jatuh tepat di perutku.

"Kamu benar-benar mengancam dokter itu supaya menyembunyikan kandunganmu dari suamimu? Kamu sehat, Ayun?"

Aku menelan ludah. Sedikit banyak terkejut dengan perkataan mas Rama yang to the point.

"Aku..aku..nggak bermaksud menutupinya Mas. Hanya menunggu waktu yang tepat. Lagipula kamu sedang fokus ke hal lain bukan, Mas?"

"Haha. Menutupi sampai kapan? Sampai kamu membunuh sendiri janin itu?? Iya,
Yun??! Ini apa?!!" Mas Rama berteriak dengan lantangnya.

Mas Rama menunjukkan botol kecil berisikan pil itu, kemudian Ia lempar dan botol itu pecah dengan isinya yang berhamburan. Air mataku meleleh begitu saja, jelas, aku belum siap melihatnya semurka ini. Bahkan membayangkan saja tidak terbesit.

Kenapa? Apa anak ini begitu berharga untuknya?

"Tahu kamu apa yang akan Kanjeng Raja lakukan kalau tahu rencana pembunuhanmu ini? Mungkin kamu akan dipasung dan dipenggal di dalam Keraton dan tidak seorang pun tahu keadaanmu setelahnya."

"..kamu hendak mencelakai keturunan raja, Ayun. Itu adalah kesalahan besar."

"..jangan harap saya bisa memaafkanmu untuk hal ini. Kamu boleh membenci saya sebesar yang kamu mau, tapi rasa benci saya padamu atas peristiwa ini lebih besar dari itu. Ingat itu, Ayun."

Konspirasi Alam SemestaBaca cerita ini secara GRATIS!