Konspirasi Alam Semesta: 7

3.9K 899 17

Menghindari orang yang kamu benci itu mudah. Tetapi, menghindari orang yang kamu benci sekaligus membuatmu penasaran itu, sulit.

Seringkali kita dipermainkan oleh perasaan kita sendiri. Mau memilih benci? Atau memilih menyingkirkan gengsi dan terus memecahkan rasa penasaran yang ada?

Semenjak terakhir kali bertemu dengan Rama sang Putra Mahkota, satu minggu telah berlalu. Ya, aku menghindarinya.

Dalam satu hari, Ia bisa meneleponku setidaknya dua kali dan mengirim chat minimal tiga kali. Dan kesemuanya tidak ada yang terbalas.

Kalian tahu bagaimana perasaan seseorang ketika ingin mengenal orang lain lebih dalam, namun tertahan oleh rasa benci?

Aku benci dengan ucapannya yang terakhir kali. Ketika kenyataan berbicara bahwa orang tuanya lebih menyukaiku daripada dirinya sendiri, yang ternyata punya cinta yang lain.

Well..aku tahu bahwa aku merindukan masuk ke dalam suatu cerita bodoh yang menarik, tetapi tidak kusangka akan sedalam ini.

"Sejauh ini rupanya kamu menghindari saya, Ayun."

Sang Putra Mahkota tiba-tiba muncul sembari duduk santai di sebelahku. Tepatnya di ruang tunggu keberangkatan pesawat.

Pesawat yang akan menyelamatkanku dari kepenatan ini. Awalnya aku merasa sangat terkejut dan sedikit senang melihatnya ada di sebelahku tiba-tiba, tetapi begitu ingat pertemuan terakhir kami, langsung aku buang muka untuk kembali fokus pada ponselku.

Tahu darimana dia aku disini?

"Ada bakat cenayang juga rupanya."

"Pembayun.."

"Apa?"

"Kamu kenapa menghindari saya?"

"Menurut anda?"

Terdengar helaan nafas sang Putera Mahkota. "Kalau saya tahu, saya nggak perlu repot kemari."

"Tolong sampaikan pada orang tua Mas Rama, bahwa saya nggak bisa menerima keinginan mereka."

'Mas' Rama, aku memutuskan memanggilnya demikian setelah membaca seluruh chat beberapa hari lalu yang baru kubuka sekarang.

Pikirku, aku tidak akan lagi bertemu dengannya.

Sanggramawijaya Rama: Pembayun. Kamu dimana? Tolong angkat telepon saya atau kesopananmu berkurang 2 poin lagi setelah tidak memanggil saya dengan sebutan 'Mas'.

Kebanyakkan orang tua seperti dia memang haus kesopanan dan kehormatan. Jadi aku maklum menghadapi orang tua banyak mau ini.

Apa terlalu berlebihan aku menganggapnya orang tua? Dua belas tahun. Ringkasnya begini, dia sudah belajar trigonometri di bangku menengah pertama disaat aku baru dilahirkan.

"Alasannya apa, Ayun?"

"Saya tidak bisa menikah dengan orang yang tidak saya cintai dan sebaliknya. Pernikahan bukan permainan."

"Saya tidak pernah bilang tidak akan mencintai kamu. Tapi saya akan belajar."

"Mas Rama pikir mudah jatuh cinta dengan orang yang dari awal Mas sudah benci? Jangan lupa apa yang Mas katakan seminggu yang lalu."

"Dan jangan lupa apa yang pernah saya katakan sebelumnya lagi. Suka atau tidak saya harus menikah dengan Pembayun Paramastri Candrakirana."

Gila! Orang ini butuh psikiater.

"Mas orang terpelajar kan? Tahu tentang Hak Asasi Manusia nggak? Yang Mas lakukan itu pemaksaan."

Sang Putera Mahkota diam sejenak.

"Menjaga kamu sepertinya berat, ternyata membuat kamu paham lebih berat lagi."

Maksudnya?

"Terserah Mas Rama. Saya udah coba jelaskan semua ke Mas Rama. Permisi pesawat saya mau berangkat." Aku segera beranjak dari kursi ruang tunggu, dalam hati benar-benar aku tidak menginginkan bertatap muka dengannya lebih lama lagi.

Aku berjalan melalui garbarata kemudian kurasakan ponselku bergetar di dalam saku celanaku.

Sanggramawijaya Rama: saya tunggu kamu sampai minggu depan. Saya yakin kamu akan kembali ke hadapan saya.

Tidak bila alam semesta menolak menghendakinya.

Konspirasi Alam SemestaBaca cerita ini secara GRATIS!