Konspirasi Alam Semesta: 19

4.5K 1.2K 181

Biasanya setelah aku tertekan secara emosional dan tidak bisa kutumpahkan secara jelas, fisikku langsung merasa sakit. Seperti malam ini, setelah pertemuanku dengan Jimmy bermula dan berakhir dengan tidak baik, aku menjadi demam.

Emosiku tidak terluangkan dengan baik. Maka fisikku yang harus menanggungnya.

Pukul 22.35, mas Rama belum kunjung pulang. Mungkin dia tidak pulang lagi, entahlah. Alasannya sudah jelas bukan?

Sundari bolak-balik masuk ke dalam kamarku, dan berulang kali juga aku peringatkan dia supaya tidak ada orang yang tahu bahwa aku sakit. Kuputuskan untuk membawa Sundari menginap di area khusus Putra Mahkota ini. Jarak area tempat tinggal Putra Mahkota dengan area utama tempat tinggal Raja cukup jauh. Akibatnya, saat harus menerima panggilan Permaisuri, beliau mengalah untuk memanggilku di pendopo Wedari yang letaknya di tengah-tengah antara area utama dengan area kepemilikan Putra Mahkota ini.

"Ndoro putri sudah minum obat kok panasnya ndak turun-turun ya? Lebih baik pergi ke dokter saja ndoro."

Sundari terlihat was-was dan itu sudah berulang kali. Aku hanya tersenyum sembari merebahkan badan setengah duduk di sofa panjang ruang santai yang tidak jauh dari tempat tidur.

"Nanti, Ndari. Nunggu Gusti Pangeran.."

"Iya kalau Gusti cepat pulang, kalau ndak gimana ndoro?"

"Dia pasti pulang sebentar lagi."

Karena mengantuk efek obat, aku pun tertidur.

Beberapa waktu kemudian, aku merasa posisi tidurku kurang tepat. Mataku terbuka, aku masih berada diatas sofa, ternyata ucapanku kali ini tidak terjadi. Belum ada tanda-tanda mas Rama datang dan waktu sudah menunjukkan pukul 4.15 wib.

Aku beranjak dari atas sofa dan pindah ke atas kasur. Kupejamkan kedua mataku dan mulai berpikir seperti kebiasaanku.

Apa yang harus aku lakukan setelah ini..

Belum menemukan jawabannya, kedua mataku terbuka, menemukan Sundari sudah berdiri di sampingku.

"Ndoro, sudah baikkan?"

Aku mengangguk, "Ndari, minta tolong pak Tomo siapkan mobil, saya mau pergi ke suatu tempat. Siap pukul 8 ya."

"Injih, ndoro.. tapi sudah ndak panas kan badannya?"

"Saya sudah mendingan, Ndari. Terima kasih ya, setelah ini bantu saya siap-siap di kamar mandi ya." Sundari mengangguk dan segera aku menjalankan aktifitas seperti biasa.

Setelah siap, aku langsung meluncur ke dalam mobil yang dikemudikan pak Tomo dan menuju sebuah rumah sakit.

"Pak, saya mau jenguk teman kampus dulu ya. Ada yang baru melahirkan, ditunggu ya, Pak."

Pak Tomo mengangguk. Setelah memasuki rumah sakit dan menuju meja informasi aku segera mengikuti arah dimana Dokter Saraswati bekerja. Bermodalkan googling dari internet aku sengaja untuk menemui Dokter Saraswati karena suatu hal.

"Selamat ya Bu, kandungan Bu Ayun memasuki minggu ke empat, untuk vitaminnya saya beri..." bla bla bla bla..

Selama 25 menit dari waktu tunggu dan pemeriksaan, Dokter kandungan di hadapanku ini langsung memberiku sebuah kejutan.

Apa? Aku hamil? Perasaanku beberapa waktu kemarin tidak salah? Aku hamil? Anak dalam kandunganku ini anak mas Rama? Ini lucu.

"Bu.. Bu Ayun. Ibu bisa dengar saya? Ibu pasti bersemangat sekali ya Bu, sampai hilang konsentrasi saking bahagianya. Suami bu Ayun diluar?"

Konspirasi Alam SemestaBaca cerita ini secara GRATIS!