Konspirasi Alam Semesta: 21

5.7K 1.3K 213

"Mas aku nanti...."

Brak!

Pintu kamar mandi langsung ditutupnya meskipun istrinya ini sudah berusaha membuang segala ego dan harga diri untuk berdamai dengan Ayah si jabang bayi dalam kandunganku.

Tiga minggu, mas Rama benar-benar memperlakukanku seperti di dalam neraka suatu rumah tangga. Kecuali ketika kami harus berhadapan dengan orang lain selain hanya kami berduaan saja. Hebatnya sudah tiga minggu juga mas Rama absen untuk pergi keluar menemui 'wanita'nya itu.

Entah apa yang terjadi dengan mereka berdua, kandunganku tidak sehebat itu kan sehingga bisa membuat mas Rama pergi meninggalkan Amithya?

Ceklek!

Suara pintu terbuka saat Mas Rama keluar dari kamar mandi dengan wajah dan rambut yang sedikit basah, ku tatap dia sekilas, bibirnya masih mengatup rapat tanpa membalas melihatku Ia jalan melenggang ke walk in closet.

"Mas.. sampai kapan Mas nggak balas omonganku?"

Masih tidak ada jawaban.

"Ini sudah tiga minggu, Mas." ujarku sedikit pelan.

Tetap hening. Hanya suara gerakan dirinya yang tengah sibuk mengambil pakaian, mengenakannya, menutup kembali lemari baju.

Seperti ucapannya yang lalu-lalu, mas Rama benar-benar tidak berencana memaafkan perbuatanku yang hendak menggugurkan kandungan ini. Ternyata memang fatal bagi mas Rama tentang apa yang kupikirkan saat itu. Aku pernah merasakan bagaimana tidak disukai kehadirannya oleh suami sendiri, tapi dibenci sedalam ini baru saja kualami.

Kalau aku diberi pilihan, lebih baik mana didiamkan atau harus melihat mas Rama sering tidak pulang, aku lebih memilih..

"Ndoro putri.. waktunya minum vitamin." Herlina masuk ke dalam kamar setelah kudengar beberapa kali ketukkan pada pintu, menginterupsi percakapan monologku.

Sundari digantikan oleh Herlina. Itu karena kanjeng Ratu merasa Sundari tidak layak merawatku yang sering sakit-sakitan. Padahal, hanya Sundari yang bisa membuatku bercerita. Lagi-lagi, rencana catur elok sekawan harus terpendam.

Herlina usianya lebih tua dibanding Sundari. Memang kerjanya lebih cekatan karena berpengalaman sedangkan Sundari masih belum bisa mengambil keputusan sendiri. Kanjeng Ratu yang hanya tahu bahwa aku sakit usus buntu tanpa tahu kehamilanku pun juga karena Herlina diperintah untuk tutup mulut oleh mas Rama, Sang Putra Mahkota. Alasannya untuk kejutan.

"Mbak Lin.. tolong sampaikan ke Pak Tomo, nanti saya harus kontrol ke rumah sakit jam satu. Tapi kalau Pak Tomo sibuk, saya pesan taksi online saja."

"Bilang Pak Tomo keluarkan mobil saya di parkir utama. Saya nanti yang antarkan ke rumah sakit, Lin." Mas Rama langsung menyela percakapanku pada Herlina dari meja kerjanya. Tanpa melihatku sama sekali. Agaknya mbak Herlina sudah mengendus ketidakharmonisanku dengan mas Rama dari lama. Tetapi apa yang bisa ku perbuat? Membungkam mulut orang satu per satu agaknya bukan tugas utamaku saat ini. Setelah mbak Lina keluar dari kamar aku buru-buru menyampaikan pendapatku pada mas Rama.

"Kalau mas Rama sibuk, aku bisa naik taksi kok..."

Brakk!

Hanya suara ponsel yang dibanting diatas meja yang aku dapatkan. Bukan balasan kata-kata seperti hubungan antar manusia kebanyakkan. Agaknya itu adalah tanda dimana aku harus diam.

Konspirasi Alam SemestaBaca cerita ini secara GRATIS!