Konspirasi Alam Semesta: 3

4.5K 890 9

"Bu Ayun. Presentasi hari ini bisa berapa kelompok?"

Aku melihat jam di pergelangan tangan kiriku. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.35.

"Kamu kelompok terakhir ya? Kalau begini gimana? Saya ada janji dengan editor jam empat sore di HOB. Kalau kamu ada teman yang bisa menemani, boleh kok ketemu saya disana."

"Wah.. bener Bu?? Bisa.. kok bisa Bu. Terima kasih ya Bu. Saya nggak tahu gimana bisa maju minggu depan kalau belum ketemu bu Ayun sekali aja."

Aku tersenyum melihat reaksi mahasiswiku itu. "Terpenting adalah kamu harus mantap dan yakin dengan diri kamu sendiri. Saya yakin kalian semua bisa kok."

Tak lama setelah pertemuanku dengan mahasiswi waliku, segera aku bergegas menuju HOB untuk pertemuan dengan editorku.

1 jam pertemuan dengan sang editor, 20 menit menemani mahasiswiku untuk melihat presentasi ujian, tidak lantas aku ingin langsung kembali pulang. Ku habiskan waktu di kafe ini untuk segera merevisi naskah yang sudah diberi deadline oleh Putra, editorku.

Paramastri Ayun: orang2 disini eneg liat gue berjam2, Put. Dan smua gr2 elo.

Putra Prawira: ada yg ngajak kenalan gak? Pasti gak ada yg seganteng gue kan?

Aku tersenyum geli melihat balasannya. Menulis novel merupakan bagian dari quality time dengan diriku sendiri. Menjadi seorang dosen memang bukan satu-satunya yang aku kehendaki, hanya saja itu tuntutan. Jikalau dipikir dengan akal sehat dan benar-benar keinginan sendiri, aku hanya ingin menjadi seorang penulis.

Paramastri Ayun: Cover Put.. jgn bikin gue galau.

Putra Prawira: yoi. Besok gue putusin. Makan gih, ntar sakit lho.

Perhatian Putra padaku memang sedikit banyak membuat hatiku tergelitik. Hanya saja aku lebih banyak tidak ambil pusing.

Menghabiskan 2 minuman green tea latte dan 2 potong croissant hangat, membuatku mulai bosan. Rambut tebalku yang digulung ala kadarnya dengan jepitan badai, membuat beberapa helai diantaranya tergerai.

Seorang pelayan segera menghampiriku untuk menginformasikan last order.

Pukul 22.25.

Pantes udah mulai sepi.

Tanpa tambahan pesanan apapun, aku tetap melanjutkan pekerjaanku di layar laptop.

"Mbak, permisi. Mbak yang bawa mobil hrv hitam nopolnya 8055?"

"Iya. Kenapa mbak?"

"Bisa keluar sebentar mbak untuk lihat mobilnya."

"Oke. Ini saya titip laptop saya ya." Pelayan kafe pun mengangguk dan aku segera pergi menuju parkiran.

Ada dua orang sedang berbincang di dekat mobilku yang sedang terparkir. Dan aku terkejut melihat keadaan pintu sebelah kanan mobil milikku.

"Astagaaa. Kenapa ini??!"

Dua orang yang sedang berbincang tadi, satu diketahui tukang parkir dan satu lagi seorang pria dewasa yang penampilannya eye catching itu......

"Lho??" Aku terkejut melihatnya.

"Kamu?" Tanya pria itu.

"Iya. Bapaknya driver ojol waktu itu kan?"

"Nah..ini mbak. Mas nya tadi bikin penyok mobil mbak nya. Silahkan diselesaikan ya mbak. Kalau bisa damai aja lah mbak. Kasihan Mas nya, tangannya luka mbak. Hehe."

Lah make ketawa ini mas-mas parkir. Ini penyok mass mobil guee.

"Mobil saya kenapa bisa gini?? Dan itu...." aku bergidik, segera cepat tersadar melihat tangan kanan pria driver ojol itu yang sudah berdarah-memar biru, tentu saja aku tidak sanggup melihat terlalu lama.

"Jangan bilang Bapak yang mukul mobil saya terus jadi begitu?? Salah apa mobil saya??"

"Kamu banyak bicaranya ya. Besok datang kerumah saya. Saya ganti kerugian mobil kamu."

"Tunggu saya disini sebentar."

Aku bergegas masuk kembali ke dalam kafe. Kubereskan barang-barang milikku dan keluar kembali beberapa saat kemudian.

"Saya antar ke rumah sakit." Dorongan yang entah darimana memasukiku untuk menolongnya. Mungkin rasa penasaranku terhadap pria ini belum sepenuhnya tuntas.

"Nggak perlu. Saya bisa obati sendiri."

"Ngeyel banget ya ini orang. Saya tuh diliatin dari tadi sama tukang parkirnya, saya setega itu lihat orang luka di depan mata dibiarin? Udah masuk aja."

Aku tidak peduli lagi apakah pria ini mengikutiku ke dalam mobil atau tidak, hanya saja instingku kali ini terlalu kuat untuk menolong pria tersebut.

Gue dijampi-jampi kali ini sama si om. Payah!

Konspirasi Alam SemestaBaca cerita ini secara GRATIS!