Konspirasi Alam Semesta: 9

4.4K 849 28

"Tumben telepon.."

Belum ku mulai aba-aba berhitung mundur, rupanya Mama sudah tidak sabar untuk menyindir anak keduanya ini.

"Mau bicarain hal penting, Ma."

"Apa? Eh, Yun. Gimana perkembangan kamu sama laki-laki Bogor itu??" Tanya Mama agak sedikit berlebihan.

Sepertinya Mama lebih tertarik tentang hubungan tidak jelasku dengan seseorang yang aku kenal melalui Tinder. Namanya Erick, usianya terpaut 10 tahun denganku.

Masih lebih tua mas Rama 2 tahun.

Dia bekerja sebagai corporate trainer. Saat ini dia tinggal di Bogor. Kami melakukan percakapan via chat, telepon, berujung dia ingin bertemu denganku.

Sejujurnya aku tidak seserius itu menanggapi Erick. Waktu kuputuskan untuk pulang ke Jakarta, tanpa memberitahunya, kemudian Erick mengirimkan pesan kekecewaannya tentang aku yang tidak serius untuk diajak bertemu.

Lama-lama aku hilang feeling karena dia terlalu baper.

"Nggak ada kabarnya, Ma. Ma, aku mau bicara serius nih."

"Iya apa?"

"Ada laki-laki namanya Rama, mau main kerumah kenalan sama Mama-Papa. Bisa nggak weekend ini?"

"Pacar kamu? Kenal dimana? Umur berapa, kerjanya dimana?"

Sudah barang pasti pertanyaan ini menjadi list pertanyaan wajib Mama.

"Dikenalin. Belum lama sih, cuma dia udah mau serius karena umurnya nggak muda lagi. Umur 39 dan dia pengusaha."

Hening. Aku yakin Mama tengah berpikir keras di benaknya.

"Kamu yakin di usianya sekarang dia belum punya anak dan istri?"

Belum Ma, tapi dia punya perempuan lain yang sangat dicintainya.

"Aku yakin Ma. Orangnya baik dan tanggung jawab. Dia udah nggak mau main-main lagi, karena orang tuanya sudah mau dia segera menikah dan..."

"...apa?" Sahut Mama.

"Aku udah ketemu sama orang tuanya, Ma. Justru orang tuanya yang pertama kali nunjukkin rasa sukanya sama aku."

"Jadi kamu sudah seserius itu Yun? Kok kemarin nggak cerita? Apalagi sudah bertemu orang tuanya. Ya sudah, datang Sabtu ini, Mama siapkan semuanya."

"Oke Ma. Makasih ya. Sama...ehm, satu lagi."

"Apa, Yun?"

"Ma, Mas Rama bukan laki-laki biasa. Dia Putra Mahkota Kerajaan V Solo yang bakal meneruskan tahta Raja."

Telepon di seberang sana hening. Tidak ada respon dari Mama.

"Ma..kok nggak ada suaranya?"

"Yun.. yang di ramalkan di masa lalu akhirnya terjadi juga."

Aku terdiam. Menebak-nebak apa maksud perkataan Mama. Tanpa meminta penjelasan lanjut aku segera pamit untuk memutuskan sambungan telepon.

Karena apa? Hatiku tidak sanggup menerima kejutan-kejutan lain yang bisa memporak-porandakan segalanya.

***
Sabtu pun tiba. Anehnya, aku tidak gugup sama sekali. Mungkin karena aku tahu bahwa hubunganku dengan mas Rama ini tidak nyata.

20 menit yang lalu mas Rama tiba dengan Ibunya, Budhe, Pakdhe dan beberapa kerabat lain yang selalu disebut dengan para sesepuh.

Awalnya aku tidak menyangka mas Rama juga membawa beberapa kerabatnya, aku kira dia hanya seorang diri. Dan itu membuat Papa dan Mama agak canggung, karena dirumah hanya ada keluarga inti yakni kakakku dan suaminya beserta kedua anaknya, adikku dan istrinya beserta seorang anaknya.

"Yun." Senggol kakakku tepat di lengan kiriku saat aku tengah menyiapkan minuman penutup bernama es teler.

"Apa?"

"Yakin dia belum punya anak-istri? Udah tua lho. Ganteng sih, tapi tetep aja."

"Belum. Percaya deh."

Kakakku diam. Akhirnya kakakku itu pergi melenggang setelah tidak mendapatkan jawaban sesuai keinginannya. Beberapa menit kemudian adik iparku bergabung.

"Mbak Ayun. Ganteng banget calon unclenya Al. Nemu dimana Mbak? Bibit unggul nih. Gak ketuaan kok mbak, gak usah dengerin kata orang."

Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan adik iparku itu. Buat apa aku harus capek-capek menjelaskan calon suami pura-puraku.

Prosesi lamaran pun berjalan lancar. Keluarga mas Rama memintaku kepada orang tuaku dituntun dengan seorang sesepuh berbahasa jawa halus—yang kadang beberapa kalimatnya tidak aku mengerti—kemudian pihak mas Rama memberikan aku satu set perhiasan sebagai penanda bahwa aku sudah resmi menjadi tunangannya.

Saat para keluarga tengah menikmati hidangan yang telah disiapkan, aku memilih untuk melipir ke taman belakang. Rumah orang tuaku ini cukup besar, meskipun orang tuaku bukanlah golongan yang bisa disebut kaya raya, tapi mereka dengan susah payah membangun rumah bertingkat dua ini lengkap dengan kolam renang dan taman kecil.

Aku duduk di salah satu kursi dekat kolam renang, memandang daun-daun hijau yang tersaji di taman yang terawat di dalam rumah ini. Dulu, aku dan saudara-saudaraku suka sekali bermain petak umpet disini.

Kenapa gue jadi mellow? Apa ini bawaan para calon pengantin?

"Langkah selanjutnya sudah siap, Pembayun?"

Aku tersentak. Kemudian kutolehkan pandanganku ke sumber suara itu.

Dasar. Seharusnya gue nggak melamun. Bisa sampai sekaget ini.

"Siap nggak siap, memang ada jalan untuk saya kabur?"

"Saya rasa kamu juga sudah tahu jawabannya. Rumahmu luas sekali, Ayun. Saya suka dengan layoutnya."

"Iya. Orang tua saya memang tergila-gila dengan desain-desain rumah."

Kini pria itu sudah duduk di kursi di hadapanku, pandangannya menyapu aliran air kolam renang yang tertiup tipis oleh angin.

"Manfaatkan waktumu sebaik mungkin disini. Saya harap saat kamu jadi istri saya nanti, tidak ada kata rindu rumah atau ingin pulang. Karena selamanya kamu harus mendampingi saya di Pura Kerajaan."

"Saya bukan anak kecil. Saya tahu diri. Saya akan pulang kalau benar-benar penting dan dibutuhkan."

"Bagus. Saya pegang kata-katamu, Ayun. Dan untuk pekerjaan...."

"...saya masih harus bekerja, Mas. Apapun yang terjadi." Entah kenapa aku harus segera memotong pembicaraan mas Rama.

"Ya, saya hanya ingin mendiskusikan satu hal. Saya tahu pekerjaanmu sebagai dosen dan saya sudah memikirkannya, sebaiknya dalam satu semester kamu bisa mengajar maksimal dua mata kuliah."

"Apa?? Itu sama aja saya jadi pengangguran dong, Mas."

"Itu persyaratan dari saya selama kamu memang ingin tetap bekerja. Begini Pembayun..tugas seorang istri Putra Mahkota itu tidak mudah. Saya hanya khawatir kamu tidak bisa membagi prioritas utama dengan hal yang lain."

"Apa saya terlihat seperti pribadi yang begitu? Mengajar hanya dua mata kuliah itu sangat nggak wajar, Mas."

Mas Rama menghela nafas, "Apa kamu bisa memikirkan akibatnya kalau orang lain melihat seakan-akan kamu masih bekerja keras? Saya akan dicap sebagai suami yang gagal karena seharusnya saya bisa memberi apapun yang kamu ingin tanpa kamu harus bekerja."

Aku terdiam. Seharusnya memang aku sadar konsekuensinya menikah dengan seorang ningrat.

"Lagipula, saya tidak berniat membuat kamu berhenti untuk menulis. Saya tahu pekerjaanmu yang lain. Bagi saya justru menulis adalah pekerjaan yang paling tepat saat kamu nanti sudah resmi menjadi istri saya. Saya rasa kamu perlu berpikir matang sekali lagi."

Dan Mas Rama pun meninggalkan aku yang tengah berdiam diri, memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi dan keputusan akhir seperti apa yang akan aku ambil.

Konspirasi Alam SemestaBaca cerita ini secara GRATIS!