Konspirasi Alam Semesta: 1

10K 1K 34

Pernah atau tidak kalian merasa kesepian, padahal di sekitar kalian banyak sekali orang? Mereka yang sedang berbincang, berteriak, berfoto, berjalan melenggang kesana-kemari, tetapi kamu merasa hanya ada kamu seorang diri?

"Aduh Ibu.. jangan ngelamun dong. Ini tempat ramai buukk. Bisa kali ajak kenalan sebelahnya gitu. Basa-basi kek!"

Tika. Sahabatku sedari SMA, kini tengah berada di sampingku untuk melihat pagelaran fashion sahabat kami lainnya bernama Adri.

Ini sudah tahun kedua aku diundang olehnya. Katanya biar aku keluar dari kandang. Well, aku memang se-ansos itu semenjak lulus kuliah. Lebih tepatnya setelah ditinggal menikah oleh sang mantan pacar.

Ditinggal? Kurang lebih setragis itu. Ketika dalam suatu hubungan tidak ada seorang pun yang menginginkan berjuang, buat apa dilanjutkan?

Hasilnya, sekarang aku merana. Sedangkan dia? Hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.

Terkadang melakukan hal yang kata orang-orang positif, justru membawa kerugian dalam hidupmu. Dimaksud disini adalah cerita hidupku. Semenjak itu aku jarang mau mendengarkan orang lain. Aku makin keras kepala dalam menjalani hidup, termasuk memilih pasangan.

"Ntar bareng gue ya.. lo kan gak bawa mobil, Yun?"

"Gue naik ojol aja. Gak usah ribet lo. Ditungguin kan sama suami." Jawabku sekenanya.

"Napa siihh? Si Hendra itu udah kodratnya jadi supir gue seumur hidup. Gapapa kok dia anterin lo sampe kosan."

"Atikaa, jangan maksa ya."

"Iye-iye. Ngalah deh gue. Asal dengan syarat selama perjalanan lo kudu chatting gue. Jangan telfon, ntar fokus lo mecah dibawa abang ojol kemana lo gak ngerti."

Aku tersenyum mendengar perhatiannya. Jadi begini, punya teman-teman yang memasuki fase menikah dan punya anak adalah hal terburuk yang pernah kualami. Kenapa?

Karena aku belum mengalami proses tersebut disaat yang lain sudah. I know, pasti kalian mau bilang kalau hidup orang beda-beda. But somehow karena kita hidup selalu berstandarkan kultur budaya dimana wanita berusia diatas 25 tahun wajib hukumnya untuk segera menikah, perempuan mana yang acuh untuk perihal itu? Including me as well.

Peragaan busana Adri sudah memasuki setengah acara. Tiba-tiba saja di depan kursi ku ada seorang pria baru saja datang yang menarik perhatianku.

Secuek ini seorang Ayun, tentu tidak mau terlewatkan bila melihat pria se-eye catching itu. Aku memang punya standar tinggi.

I have excellent taste in people.

"Ganteng ya buk. Sayang gandengannya lekong juga."

"Hah?" Aku tidak bisa menutupi rasa kecewaku. Anehnya setelah itu aku masih saja sibuk melihat pria itu dari belakang. Bagaimana punggungnya yang kata anak-anak jaman sekarang, sandar-able.

Ada magnet tersendiri dalam diri pria berjaket kulit berwarna hitam itu sehingga mataku terus fokus padanya hingga akhir acara terpaksa aku menyudahinya ketika Tika mengajakku bertemu dengan Adri.

"Dri.. congrats ya. Acara lo sukses besar. Join lo kali ini oke lho." Ucap Tika.

"Thank you kalian udah mau hadir. Gimana? Udah nemu yang kece lo?" Tembak Adri padaku.

Adri dan Atika sama-sama sekongkol untuk membuatku keluar kandang agar bertemu jodohku, kata mereka.

"Ngaca lo, Dri."

"Dih. Gue mah laki, santai dong."

"Udaaah kalian mah sesama jomblo jangan saling menghina. Yuk makan dulu keburu kemaleman nih si Ayun."

"Kenapa? Sekarang punya jam malam Yun?" Tanya Adri padaku.

"Gak bawa mobil gue. Malas macet."

"Elah ini bukan Jakarta or Surabaya sayy.."

"So so lah.."

Berbincang ringan sesampainya di tempat makan hingga akhirnya kami harus saling berpamitan, aku menuju lobi hotel yang mulai sepi untuk memanggil ojek online.

Atika Laras: udah dpt ojolnya? Cewek or cowok? Tua gak? Ato msh muda?

Paramastri Ayun: di cancel mulu drtd. Heran.

Atika Laras: tuh! Gue blg jg apa. Gue anter yah. Masih deket kok nih sama hotel.

Paramastri Ayun: gak usah darl. Ini hp gue udh geter notif masuk request an ojol gue diterima. Pulang dlu yee.

Padahal tidak ada satu pun yang masuk ke aplikasi ojol milikku.

Sampai 2 menit kemudian aplikasi ojol inj menerima requestku.

Priambodo Adi.

Dari foto di aplikasi pria driver ojol ini berumur separuh baya, menggunakan kacamata dan mengendari mobil yang memang khas ojol.

Beberapa saat kemudian telepon yang kutunggu berbunyi.

"Halo.."

"Malam. Dari Grab. Mbaknya benar di Adiwangsa?"

"Iya Pak.. lama nggak? Saya udah di cancel terus daritadi."

"Dekat mbak. Tapi saya mohon izin, saya sedang tidak pakai kendaraan yang sesuai di aplikasi. Gimana?"

Sesungguhnya aku orang yang se-waspada dan se-antipati itu. Mungkin karena keadaan yang kepepet daripada tidak pulang, akhirnya kuputuskan menerima satu-satunya ojol ini.

"Nggak papa deh Pak. Daripada gak dapet lagi. Saya tunggu...."

"..saya udah sampai mbak. Mbaknya yang pakai kemeja putih?"

"..."

Sebuah kendaraan mewah muncul di hadapanku.

AD 555 SD. Lexus rx200t.

Sesosok pria muncul di balik jendela mobil yang dibuka setengahnya. "Dengan mbak Ayun?"

Konspirasi alam semesta pertama. Ini kan laki-laki yang pakai jaket kulit tadi??

Konspirasi Alam SemestaBaca cerita ini secara GRATIS!