Konspirasi Alam Semesta: 2

4.6K 921 26

Kalau disuruh mengisi tes kepribadian, aku tergolong seorang ambivert, dimana bisa dipaksa menjadi seorang introvert juga extrovert tergantung keadaan. Tapi sejatinya aku ini pribadi yang cenderung introvert.

Mengingat kenyataan bahwa saat ini aku tengah mengendari ojol 'mencurigakan', aku lebih banyak diam. Biasanya di dalam ojol aku menghabiskan waktu untuk sekedar melihat feed instagram yang lucu-lucu, sehingga mampu membuatku terkikik sendirian.

Anehnya, rasa ingin tahuku lebih besar saat ini dibanding harus diam.

"Maaf Pak saya mau nanya. Kenapa orang sama mobilnya beda sama di aplikasi?"

"Kenapa baru tanya sekarang?"

Penilaian pertama. Pria yang kutaksir usianya middle 30 hampir 40 tahun ini, tidak suka basa-basi. Oke.

"Udah hopeless. Hampir empat kali saya di cancel terus." Jawabku apa adanya.

"Saya kebetulan dari hotel yang sama. Dan yang punya aplikasi ojol itu supir saya."

Supir ojol punya supir. Makin mencurigakan kan?

"Terus supirnya kemana?"

"Pulang."

"Kemana?"

"Ke rumah saya."

"Kenapa gitu?"

"Kenapa harus banyak tanya?"

Penilaian kedua. Pria ini ansos. Sama sepertiku.

"Bukannya wajar? Kan saya naik ojol yang gak sesuai di aplikasi. Kalau ada apa-apa gimana?" Serangku tidak mau kalah.

"Ya kenapa tadi bersedia?"

Tidak percaya dengan responsnya yang sungguh teramat jutek, aku menghela nafas kecil.

"Karena..saya mau cepat sampai rumah."

"Baik kalau begitu." Jawabnya

Dan kecepatan mobil meningkat dari sebelumnyam

"Pelan-pelan aja Pak. Kalau aplikasi supir Bapak saya kasih bintang satu, kan kasihan nanti di suspend, hanya karena kelakuan penggantinya?" Ucapku sarkas.

Setelah ditegur demikian, si supir ojol pun mulai mengurangi kecepatannya.

Mobil ojol berhenti di lampu merah. Ayun yang dari awal mencoba fokus melihat jalanan--kalau-kalau tidak pada track yang benar--kemudian sedikit terhentak kala mendengar pertanyaan supir ojol.

"Saya seperti pernah melihat kamu."

Penilaian ketiga. Pria ini egonya besar dan semaunya sendiri. Bawaan umur kayanya ya..

"Dimana?"

"Kamu datang di acara fashion tadi?"

"Iya. Memang ada acara selain itu di hotel tadi?"

"Siapa tahu kamu tamu hotel. Dari tampilan juga orang tahu kamu bukan asli daerah ini."

"Nggak usah asal tebak. Saya asli sini kok." Ucapku berbohong.

"Dari kota besar mana?" Pria ini tetap tidak mau kalah. Hebat.

Aku sedikit mendengus, "Banyak tanya ya."

"Kenapa marah? Tinggal jawab, selesai."

"Kenapa juga saya harus jawab pertanyaan kamu. Aneh."

"Kamu orang Jawa bukannya? Harusnya tahu panggilan kepada laki-laki yang lebih tua. Bukan panggil 'kamu' seenaknya."

"Saya orang Sunda." Jawabku asal. Makin lama makin kepancing emosi kan nggak lucu.

"Pembayun Paramastri. Dari situ saya sudah tahu kalau darah Jawa mengalir kental di tubuh kamu. Kecuali kalau nama di aplikasi ojol itu palsu."

Sedikit terkejut dan aku tidak bisa membalas ucapan laki-laki ini.

"Saya bukan orang jahat kalau kamu curiga. Saya cuma orang yang sedang jenuh saja, makanya saya rela ambil penumpang online milik supir saya." Jelasnya panjang lebar.

Aku masih tetap diam. Benar-benar bertemu dengan seseorang yang membuatmu kalah bicara itu, not fun.

Tanpa sadar, perjalanan menuju kostku sudah berakhir. Nyatanya aku sampai dengan selamat berkat pria misterius ini.

"Berapa? Eh Bapak gak pegang aplikasi ya."

"Gratis. Anggap saja saya membantu orang tersesat pulang ke rumah."

"Tersesat? Nggak ya. Ini, saya punya uang dan saya nggak mau ambil gratisan dari orang asing." Aku mengeluarkan selembar uang 50 ribu dan menjulurkannya pada pria pengemudi ojol itu.

"Kamu keras kepala juga ternyata."

"Makasih." Jawabku sambil menyodorkan paksa uang tersebut dan membuka pintu mobil untuk segera keluar.

Konspirasi Alam SemestaBaca cerita ini secara GRATIS!