Konspirasi Alam Semesta: 5

3.9K 915 34

"Yun.. kira-kira kita nanti punya kisah semenarik apa ya dalam hidup?"

"Apa ya?"

"Kalau gue nanti, kisah paling menarik dalam hidup maunya bisa menikah muda terus punya anak-anak yang lucu. Maunya sih kuliah sambil ngurus rumah tangga."

"Hemm, gitu ya? Kisah menarik versi gue sih meet my spouse dengan cara yang nggak biasa."

"Nggak biasa maksudnya?"

"Ya jalan pertemuan kami nggak terduga. Gue berandai kalau calon gue kelak bukan orang biasa."

"Widih..siap lo punya pasangan bukan orang biasa?"

"Siap nggak siap. Kalau takdir mau apa?"

***
Dalam hidup kalian, apa kisah yang paling menarik versi kalian?

Aku, selama 27 tahun hidup, beberapa kisah menarik versiku seperti gagal masuk sekolah favorit, punya 3 gebetan sekaligus dalam 1 tim basket secara bersamaan, resmi berpacaran setidaknya hanya 1 kali-sisanya cuma hubungan tanpa status--dan termenarik adalah ditinggal menikah oleh mantan pacar terlama, terkasih dan tercinta.

Kisah terakhirku juga yang membentuk pribadiku sedikit berubah menjadi seperti sekarang ini.

Bertemu dengan pria asing yang berperan sebagai driver ojol untuk menjadi pengganti supirnya hanya karena jenuh, kini harus dihadapkan dengan orang lain lagi yang tidak dikenal, setelah sebelumnya digiring paksa segerombolan orang menyerupai pasmpampres.

Mungkin ini akan menjadi tambahan kisah menarikku selanjutnya.

Kadang-kadang aku rindu perasaan penuh kejutan seperti ini.

"Benar saya berbicara dengan Pembayun Paramastri Candrakirana?" Seorang pria yang usianya kira-kira mencapai 50-55 tahun sedang ada di hadapanku kini di sebuah ruangan bercahayakan lampu kuning setengah redup, ditambah ornamen-ornamen jaman dulu semakin membuatku seperti kembali ke jaman nenek buyutku.

"Anda siapa?" Tanyaku hati-hati.

"Bisa dijawab terlebih dulu dengan iya atau tidak." Balasnya lugas.

Sekitar 15 menit yang lalu aku benar-benar baru memahami bahwa saat ini sedang menghadapi seseorang yang tidak biasa.

Ralat. Dimulai dari peristiwa dijemputnya aku oleh driver ojol kala itu.

Aku mulai paham bahwa Ia bukan orang biasa dan kisah menarikku ini akan bertambah.

"Kalau saya tidak bersedia menjawab?"

"Semakin anda tidak kooperatif akan semakin lama selesainya." Ucapnya sambil tersenyum sopan padaku.

"Saya perlu tahu dulu saya berbicara dengan siapa dan atas keperluan apa saya diinterogasi begini."

"Apa benar saudara ada di TKP saat Gusti Raden terluka tangannya. Bisa diceritakan kejadiannya?"

Gusti Raden?

"Bapak mencurigai saya? Asal bapak tahu, mobil saya rusak gara-gara laki-laki yang namanya saja saya nggak ngerti lho."

"Gusti Raden Mas (GRM) Sanggramawijaya Djayanegara. Beliau Putra Mahkota Kerajaan V Solo." Terangnya kembali dan tetap sambil tersenyum.

Aku menghela nafas untuk tetap berusaha menyeimbangkan diri agar tidak terbawa rasa gugup setelah tahu identitas pria misterius itu.

"Siapapun itu yang jelas saya mau minta ganti rugi mobil saya."

"Bagaimana sebelumnya saudara bisa bertemu dengan Gusti Raden?"

Karena aku ingin bisa segera pulang, kuputuskan memilih menyerah dan menceritakan seluruhnya versi diriku. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.10 menurut jam dinding besar di hadapanku. Ponsel tidak berada di tanganku karena semua barang milikku tengah diamankan, itu membuatku merasa kikuk tidak tahu harus berbuat apa.

"Kapan ini selesai? Saya masih banyak urusan."

"Mohon ditunggu. Sampai Gusti Raden kembali dari rumah sakit."

"Lama. Saya nggak bisa lama-lama disini." Ujarku seraya berdiri hendak keluar dari ruangan tersebut.

"Saya disini."

Otakku ini aneh. Gila. Bagaimana mungkin salah satu organ di tubuhku ini bisa merekam dan menghafal dengan mudahnya suara asing itu? Belum kulihat pemilik suara itu, hatiku sudah bisa menjawab bahwa Ia disini. Putra Mahkota yang disebut-sebut tadi.

Pria bernama Rama itu pun kini berdiri di hadapanku. Dengan tanpa perintah, pria baya yang menginterogasiku tadi beranjak pergi.

Akhirnya waktu bisa membawaku bertemu dengannya kembali, bertatap muka langsung empat mata. Tanpa ada orang lain dan ini pertama kalinya aku--juga dia--menatap mata masing-masing dengan seksama.

Kamu siapa bagi hidupku? Tanyaku pada batinku sendiri.

"Maaf. Mungkin membuat kamu sedikit tidak nyaman dengan kejadian tadi. Saya rasa kamu harus menginap disini malam ini. Sudah dini hari."

Aku berusaha kembali berpijak kepada realita. Tidak ingin pria ini tahu bagaimana perasaanku saat berhadapan dengannya, bergejolak.

"Saya harus pulang, lagi pula ini tempat apa, saya nggak kenal Anda juga. Menurut anda saya mau menginap di tempat asing?"

"Menginap untuk malam ini saja. Atau tinggal disini selamanya??"

Selamanya?

"Saya nggak bisa tidur di tempat asing. Tolong jangan memaksa."

"Ayun. Dari awal ini kesalahan kamu, seandainya kamu tidak memaksa saya, membawa saya ke rumah sakit, orang-orang disini tidak akan ribut mencari tahu tentang keberadaan kamu."

"Maksud anda? Saya nggak paham."

Ceklek. Pintu di ruangan tersebut terbuka kembali.

"Saudara Ayun.. bisa ikut saya sebentar?"

"Harus apa lagi dia?" Tanya sang Putra Mahkota sedikit menahan amarah. Melihat reaksinya itu justru membuatku semakin bingung.

Bingung yang semakin ingin membuatku penasaran ingin tahu.

Konspirasi Alam SemestaBaca cerita ini secara GRATIS!