Konspirasi Alam Semesta: 10

3.7K 887 38

Dari awal aku sudah tahu ini semua tidak mudah. Kalau kebanyakkan perempuan sehabis menikah memiliki momok sesosok ibu mertua, justru suamiku sendiri adalah masalahku.

Hari ini dia pulang larut lagi. Ini sudah genap enam hari semenjak kami menikah.

Aku pikir itu memang ritual kebiasaannya. Bekerja hingga larut malam.

Sampai pada dua hari sebelumnya, aku memergokinya bersama seorang wanita di satu pusat perbelanjaan di Solo. Saat itu aku tengah ditemani Sissy, seorang asisten pribadi yang ditugaskan hanya untuk bersamaku.

"Sissy, arah jam lima kamu, seperti pernah lihat saya. Tamu pernikahan kemarin bukan?" Tanyaku berpura-pura.

Saat itu Mas Rama tengah duduk membelakangi kami, aku berharap Sissy tidak tahu bahwa itu Putra Mahkota, karena sebelum keduanya masuk ke dalam kafe aku terlebih dulu melihat Mas Rama. Tanpa sepengetahuan mereka, juga Sissy.

"Mana ya mbak? Oo, yang pakai batik loreng itu? Itu sih kenalan Gusti Raden, makanya wajahnya familiar mbak. Namanya Amithya."

Dari situ aku tahu sosok Amithya seperti apa.

Cerita awal Mas Rama padaku, bahwa dirinya terang-terangan mengakui bahwa masih mencintai seorang wanita bernama Amithya, kutanam begitu jelas di pikiran. Keterbukaan memang menjadi salah satu perjanjian pernikahan kami.

Ternyata setidak-menyenangkan ini ya? Meskipun aku sadar belum mencintainya, tapi perasaan bersaing dengan Amithya sudah muncul.

Menghabiskan waktu 20 menit untuk berpikir di balkon kamar, membuatku tidak sadar sang Putra Mahkota sudah kembali.

01.15 wib.

"Belum tidur?" Tanyanya dengan nada beratnya.

"Aku boleh tanya, Mas?" Ucapku di ambang pintu antara balkon dengan ruang tengah.

Ketika pertanyaan dijawab dengan pertanyaan, maka timbulah raut wajah berpikir dari Mas Rama.

"Ada apa?"

"Beberapa hari ini apa yang Mas lakukan berdua dengan Amithya?"

Wajah itu terlihat sedikit terkejut. Sampai Ia bisa sedikit mengendalikan reaksinya, sembari berganti pakaian membelakangiku, mas Rama menjawab. "Kami berbincang saja."

Mas Rama yang dengan sesuka hatinya, berganti pakaian di hadapanku, bahkan ketika tidur tidak mengenakan atasan Ia jawab dengan santai, "Meskipun kita tidak berhubungan seks, setidaknya kita sudah suami-istri sah kan?"

Aku tidak menanggapinya lagi saat itu, karena memang benar adanya.

Pernikahan yang pada akhirnya kusetujui, semata-mata hanya karena status. Sebelum menikah, aku kerapkali bertanya pada diri sendiri, apa aku ini sudah siap untuk berumah tangga?

Ah belum.

Sudah. Pasti.

Dalam kurun waktu tersebut aku gelisah, apa semua akan baik-baik saja ketika aku sudah menikah nanti dan sebagainya.

Hingga aku memutuskan untuk setuju dipersunting oleh pria asing bergelar Putra Mahkota ini, semua pertanyaanku dulu sedikit demi sedikit mulai terjawab.

Pernikahan tidak semudah yang dibayangkan.

Setelah mendapatkan jawaban dari Mas Rama bahwa yang Ia lakukan dengan Amithya hanya berbincang, lalu kuputuskan untuk tidak terlalu dalam mencampuri urusan pribadi mereka berdua.

"Besok pagi saya antar kamu ke acara kampus itu."

Aku yang tengah berbenah diatas kasur untuk menata bantal dan selimut, mulai mengedarkan pandanganku pada 'suami' ku itu.

"Aku bisa pergi sendiri, Mas. Lebih baik Mas Rama dirumah saja."

Laki-laki dengan mata sendu dan tatapan yang tajam itu kemudian memandangku, sesaat setelah dia keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang basah berbilas air.

Tampan dan menggoda. Iya dia suamiku, tetapi dia bukan milikku.

"Terserah kamu saja kalau begitu." Balasnya sambil kemudian berjalan menuju ke arahku, maksudku kasur kami.

Perasaan hati yang berdegup karena harus tidur bersama dengan mas Rama, lambat laun mulai berkurang.

Di hari pertama, badanku terasa panas-dingin. Meskipun aku tahu, kami berdua sudah memiliki perjanjian untuk tidak berhubungan badan layaknya suami-istri, tapi wanita normal mana yang bisa tenang bila di sebelah tempatnya tidur ada pria yang sah untuk dirinya?

Terlebih dia pria normal, atau aku kurang menggoda di matanya? Bagaimana bisa dia tidak sekalipun pernah menggodaku?

Ah.. Amithya.

Keputusan untuk menikahi mas Rama adalah yang terberani dalam hidupku. Aku terlalu berani, hanya untuk mengetahui kemana akhirnya permainan hidup ini membawaku.

"Ayun.." panggilnya di sebelahku.

Aku tetap di tempat, tidak bergerak masih di posisi yang sama membelakanginya yang tengah bermain ponsel.

"Hm?"

"Ibu bicara apa lagi hari ini?"

"Masih sama."

Terdengar suara dengusan dari Mas Rama. "Masalah itu biar saya yang selesaikan. Kamu harus ingat, bahwa perjanjian hanya di antara kamu dan saya. Jangan pernah kamu melakukan sesuatu diluar perintah saya, paham?"

Kini giliranku yang menghela nafas. "Ya.."

"Mas.." ucapku lagi memanggilnya.

"Ya?"

"Selain karena restu orang tuamu, alasan apalagi yang membuatmu tidak memperjuangkan Amithya untuk berada di sisimu?"

Hening. Tidak ada jawaban. Namun, mataku masih terbuka, berharap suara favoritku itu terdengar kembali.

"Saya terlalu mencintainya, Yun, sampai-sampai saya mencegahnya untuk tidak masuk ke tebing tinggi Kerajaan ini..."

"..."

"..saya hanya tidak ingin dia tersiksa karena hidup serba diatur seperti saat ini. Karena saya tahu Amithya suka kebebasan."

Mendengar penjelasannya barusan ada perasaan kecil menyubit relung dadaku. Lantas aku kembali mengingat bahwa pernikahan ini atas kemauanku sendiri.

Tidak ada yang harus disesali, semua harus dijalani sampai nanti aku menemukan ujung cerita ini.

Konspirasi Alam SemestaBaca cerita ini secara GRATIS!