Konspirasi Alam Semesta: 22

6.8K 1.4K 293

Aku terbangun dengan aroma minyak kayu putih yang menyengat di tubuhku. Semalaman mas Rama mengusap pinggang dan perutku sambil membalurinya dengan kayu putih, entah sampai berapa lama dan akhirnya aku tertidur. Kudapati kamar telah kosong, mas Rama sudah tidak disini, waktu menunjukkan pukul 9, dimana keberadaan mas Rama aku pun tidak tahu menahu di saat akhir minggu seperti ini.

Mas Rama tidak lagi mengungkit tentang pil penggugur bayi itu. Meskipun belum sempat terjadi, tapi niat buruk yang sudah terlintas di pikiranku kadang membuatku sedih, mengingat aku harus menjadikannya kambing hitam untuk menangani permasalahanku dengan mas Rama.

Keberadaan bayi ini sesungguhnya membuat kondisi semakin rumit. Seandainya dia belum ada, aku bisa segera bergegas untuk lari keluar dari Keraton ini lewat Catur Elok Sekawan, di sisi lain, keberadaannya bisa menjadi senjataku agar mas Rama tidak lagi menemui Amithya. Sesederhana itu.

Menghabiskan waktu untuk mandi sekitar 20 menit kemudian, setelah itu aku berganti pakaian dan siap-siap menyambut mbak Lina untuk sarapan dan minum vitamin.

"Hari ini agak telat ya, Mbak. Kok saya nggak dibangunkan?" Tanyaku pada Herlina.

"Injih ndoro Putri, karena Kanjeng Pangeran bilang ndoro Putri kurang tidur dan sering terbangun, jadi saya diberitahu untuk tidak datang awal."

Aku mengangguk. Sebenarnya aku juga kesulitan memahami mas Rama yang terlihat seperti punya berkepribadian ganda, tapi bukan itu, aku yakin dia normal hanya saja ada sesuatu yang lain yang membuat dia begitu meledak-ledak saat mengekspresikan sesuatu. Entah sedang marah atau menyesal seperti semalam.

Setelah selesai makan dan minum vitamin, Herlina hendak undur diri, ketika itu aku menyadari diluar sana ada cukup banyak abdi dalam yang tengah berjalan terburu.

"Mbak Lin, ada apa ya?" Tanyaku pada Herlina yang sudah ada di ambang pintu.

"Mohon maaf ndoro putri saya juga ndak tahu.." jawabnya dengan ekspresi bingung.

Tanpa banyak berpikir aku mengikuti jalannya para abdi dalam itu. Entah mengapa firasatku kuat sekali ada yang terjadi hari ini.

Setelah berjalan 5 menit aku tahu ini akan berakhir dimana. Paviliun utama tempat tinggal Kanjeng Raja adalah tujuan para abdi, kemudian berbelok menuju tempat latihan prajurit jaman dulu yang kini menjelma menjadi tempat penyimpanan senjata-senjata kuno berburu. Di pintu luar semakin ramai orang, aku mendapati suara isak tangis seorang perempuan di tengah gerombolan manusia disana.

"Bu??" Aku kaget begitu menemukan Kanjeng Ratu yang sedang menangis.

"A-a-ayuunn.. tolong, Yun. Tolong.."

"Ada apa Bu??" Aku menjadi semakin histeris.

Kanjeng Ratu mengalihkan pandangannya ke arah tempat penyimpanan senjata itu, kemudian aku hendak masuk sebelum dihentikan oleh beberapa abdi dalem.

"Kanjeng Putri istrinya! Biarkan dia masuk!" Kanjeng Ratu teriak demikian. Perasaanku benar, sepertinya mas Rama ada di dalam. Kemudian para abdi dalam membuka barisannya dan memperbolehkan aku masuk.

Hal yang kudapati setelahnya adalah hal paling mengerikan yang pernah terjadi seumur hidupku dan tidak pernah sama sekali kubayangkan..sesaat aku mematung melihat Kanjeng Raja hendak mengayunkan senapan laras panjang yang sudah berlumur darah ke arah seseorang yang tergeletak di lantai.

"Bapak tidak sudi punya anak macam kamu!!" Teriak Kanjeng Raja pada seseorang yang kuamati sebagai mas Rama. Wajahnya sudah berlumuran darah, seluruh badannya sudah menjadi obyek kekerasan Kanjeng Raja, mas Rama lunglai terkapar di lantai, meskipun masih terdengar rintihannya namun aku tahu itu sisa-sisa kekuatannya.

Konspirasi Alam SemestaBaca cerita ini secara GRATIS!