Konspirasi Alam Semesta: 6

4K 948 45

Setelah sejenak aku bertemu dengan pria yang ternyata identitasnya adalah seorang Putra Mahkota, kini aku sudah duduk di depan pria baya berusia kurang lebih 68-70 tahun dan wanita di sampingnya yang terlihat sedikit lebih muda, mungkin sekitar 44-46 tahun.

"Kamu benar namanya Ayun?" Ucap sang wanita membuka percakapan lebih dulu.

"Iya."

"Nama lengkapnya?" Kali ini yang pria bertanya.

"Pembayun Paramastri Candrakirana." Jawabku tenang.

Sesaat kedua pasangan baya itu terdiam. Hening menyelimuti atmosfir di sekitarku.

"Nak Ayun tinggal dimana?"

"Saya kost Bu. Di dekat slamet riyadi."

"Aslinya?"

"Orang tua saya di Jakarta. Meskipun dua-duanya asli Surabaya."

Lantas sang wanita mengangguk pelan pada pria di sampingnya.

"Sudah menikah nduk?" Ucap pria baya tersebut padaku to the point.

"Belum Pak." Jawabku sekenanya. Sambil menepis kemungkinan-kemungkinan di kepalaku yang seringnya benar terjadi.

"Maaf sebelumnya kalau saya lancang. Sebenarnya ini ada apa?" Tanyaku memberanikan diri. Setelah sekian waktu aku berusaha diam, mengikuti 'permainan' semesta ini.

Sang wanita baya pun tersenyum manis dan anggun. "Nak Ayun sudah bertemu dengan Gusti Raden?"

"Gusti Raden? Hemm...Putra Mahkota yang namanya Rama?"

Wanita itu mengangguk.

"Sudah."

Jeda beberapa waktu. Malam ini angin cukup dingin. Berbicara di ruangan terbuka menyerupai pendopo membuat suasana makin terhanyut. Aku menatap kedua pasangan baya di hadapanku, pun sebaliknya. Diiringi ocehan binatang malam yang sibuk bersahutan.

"Ayun.. Saya Djayanegara penerus tahta Kerajaan V Solo, melamarmu untuk menikah dengan anak saya Gusti Raden Mas Sanggramawijaya Djayanegara. Detik ini juga, disaksikan oleh leluhur-leluhur diatas langit. Saya yakin mereka merestui kamu, Pembayun Paramastri Candrakirana menjadi bagian dari keluarga kami."

***
"Ma coba cerita tentang pengalaman waktu mama hamil aku dulu."

"Hamil kamu dulu mama makin cantik. Semua orang suka lihat mama makin seger pas hamil kamu."

"Mama maunya punya anak laki-laki ya waktu itu?"

"Laki-laki atau perempuan sama aja yang penting sehat. Hamil kamu emang seperti tanda-tanda punya bayi laki sih.."

"Oh.."

"Belum lagi. Pas sehari sebelum melahirkan kamu, eyang putri yang memang mata batinnya terbuka, waktu itu lihat mama jalan dari belakang seperti diikuti laki-laki berbaju beskap ala pangeran. Eyang putri kan kejawen banget, jadilah makin yakin kalau kamu itu bayi laki-laki. Eh tetep ya kuasa Tuhan nggak bisa ditentang kalau yang keluar bayi perempuan."

***
Tiga hari yang lalu aku merasa masuk ke dimensi lain. Dimensi mimpi namanya.

Sepulang dari acara 'lamaran' sepihak itu, aku tidak bisa memejamkan mata untuk tidur. Segala macam pekerjaanku terabaikan. Untungnya orang-orang terdekatku mengerti ketika aku bilang butuh waktu istirahat karena sakit.

Saat ini, aku sudah harus dihadapkan kembali dengan pria bergelar Putra Mahkota itu. Di antara meja kayu, dua gelas ice americano dan lagu galon alias gagal move on.

Kami berdua saling pandang tanpa mengucapkan sepatah kata pun, berjalan hampir 6 menit.

Mungkin pikirnya beradu diam siapa yang lebih dulu mengajak berbicara akan kalah. Terlebih aku, yang pada dasarnya anti melihat mata seseorang dalam waktu lama dan sebaliknya ketika orang melihatku.

Pada akhirnya pria itu mengalihkan pandangannya dariku, mata sendunya yang tajam itu seakan menertawakanku, diiringi senyuman tipis sesaat setelah Ia melepaskan pandangannya itu.

Entah kenapa aku merasa tersinggung.

Tidak sadar aku menghela nafas kesal. Meskipun tipis tapi aku tahu bahwa Ia tahu.

"Apa kabar?" Ucapnya sebagai pembuka.

"Seperti yang anda lihat, saya selamat dan sehat saja setelah dikepung oleh beberapa anak buah anda dan diinterogasi habis-habisan."

Aku pikir waktuku disini terlalu berharga untuk dibuang-buang, maka dari itu aku tidak ingin basa-basi.

"Mengenai yang terjadi di kediaman saya saat itu, ada yang ingin kamu tanyakan?" Tanyanya tepat sambil menatap tajam kedua mataku.

Matanya..

Ya, kedua matanya itu yang membuat hatiku berdegup tidak karuan semenjak pertemuan pertama kami.

Dari segi fisik yang lain, tidak ada yang spesial dari pria ini. Malah diluar sana banyak pria lebih tampan dibanding dia, termasuk mantan pacarku dulu.

Pria sang Putra Mahkota ini punya tinggi badan yang standar, rambutnya hitam dan tebal, kulitnya kuning langsat cenderung cokelat, hidungnya mancung dan berbibir bawah yang tebal. Giginya rapi, terlihat ketika waktu itu Ia meringis kesakitan dan mataku menangkap reaksi wajahnya.

Dari semuanya, kedua matanya adalah senjata pamungkas bagiku. Kedua, suaranya. Ketiga, caranya Ia berbicara yang seringkali tidak bisa kubalas.

"Bukannya seharusnya saya yang tanya?"

Lagi. Pria itu menyinggungku kedua kalinya dengan senyuman tipis dan pandangan mata yang meremehkan.

"Boleh saya jujur Ayun?"

Aku diam mendengar pertanyaannya barusan. Takut akan apa yang menjadi pernyatannya dan ingin segera mendengar kejujurannya, saling berebut dalam pikiranku.

"Saya benci. Benci dengan kenyataan bahwa kedua orang tua saya jatuh hati pandangan pertama dengan kamu. Kenapa harus kamu?"

Tiga. Aku tersinggung ketiga kalinya tanpa harus mendengar alasannya.

"Apa yang membuat anda merasa begitu?" Tanyaku kembali dengan mencoba sabar.

"Karena saya sampai kapan pun tidak bisa menolak keinginan kedua orang tua saya, termasuk keinginan mereka yang mana saya harus menikahi kamu."

Kini giliranku, mencemoohnya dengan pandangan meremehkan disertai senyuman tipis.

"Anda pikir saya bersedia?"

"Itulah. Bersedia atau tidaknya kamu saya nikahi, itu harus terjadi."

Gila.

"Coba anda pikirkan, dalam kondisi seperti sekarang, harusnya saya yang benci anda. Bukan kebalikannya."

Sang Putra Mahkota mendadak terdiam.

Sebelum akhirnya berbicara dengan nada sedikit bergetar. "Bagaimana bisa saya tidak membenci kamu--yang orang tua saya sukai--disaat yang saya sukai tidak sedikitpun mendapat tempat di mata mereka?"

Oh..kini aku tahu. Pria ini terjebak cinta tanpa restu.

Konspirasi Alam SemestaBaca cerita ini secara GRATIS!