68. Menatapnya

240 22 2
                                    

“Pidato yang luar biasa.” Bisik Herlambang di telinganya.

Dila tak menjawabnya, hanya sebatas tersenyum dan kembali menaruh perhatiannya pada penjelasan mengenai prospek kerja perusahaan kedepannya. Dila sudah menghapal pidato tersebut sejak dua hari lalu. Ia tak bisa mengatakan semua hal itu dengan lancar jika ia tidak menghapal naskah yang di buat oleh Lina.

Ia merasa lebih beruntung ketika ia hanya perlu berdiri sebentar. Kakinya gemetaran karena tidak cukup kuat menopang berat tubuhnya. Terlebih ia menggunakan high heels, itu kian mempersulit keadaan. Dengan gesture yang halus, ia memijit kakinya yang semakin terasa lemah. Ditambah dengan ia yang harus kembali berhadapan dengan orang banyak. Semua ini menciptakan tekanan kuat pada tubuhnya yang belum pulih sempurna.

Dila yang mengangkat pandangan pun terpaksa harus tetap tersenyum ramah seperti dirinya yang dulu. Semua orang di sini mengenalnya, maka ia harus bertindak seperti dirinya yang biasanya. Dila menyantap potongan buah-buahan di depannya sembari mendengarkan apapun yang sedang dipresentasikan.

Sebetulnya ia tidak peduli apa yang sedang di presentasikan. Tugasnya sudah selesai.

Memikirkan hal itu, Dila menggelengkan kepalanya dan menatap sekeliling ruangan agar ia tidak merasa bosan. Ini adalah hal terakhir yang Dila inginkan jika dalam kondisi mendesak.

Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Rivan yang secara teliti memandangnya. Sesuatu yang perih dan tumpul seakan menusuk dadanya. Menciptakan kondisi sesak namun masih bisa ditolerir. Ia tak melemparkan senyuman atau hal-hal lain yang mengandung keramah-tamahan. Ia hanya menatap Rivan dengan tatapan datar yang tak mengartikan apapun.

Tapi apa alasan ia menahan tatapan itu? Entahlah. Ia ragu.

Dari jarak yang tak terlalu jauh, ia bisa melihat Rivan dengan leluasa. Pria itu mengenakan setelan jas yang belum pernah ia lihat. Kacamata masih membingkai wajah tampannya, rahangnya seperti biasa terlihat tajam dan menawan. Rambutnya ia tata dengan rapi ke belakang memberikan kesan bersih dan fokus. Matanya masih memandang Dila dan dirinya pun tak keberatan untuk dipandang seintens itu oleh Rivan. Terakhir kali ia memandang mata Rivan, ia bersikap malu-malu dan lebih memilih menghentikan kontak mata mereka.

Tapi lihatlah sekarang.

Pria itu bahkan bergeming dan terus menahan kontak mata mereka.

Pandangan mata yang dulu ia ingat terlihat malu-malu, kini berubah pada pandangan yang sulit diartikan. Apakah itu rindu? Kesakitan? Mengasihani?

“Dila.”

Ia terlonjak ketika Herlambang menyentuh bahunya. Posisi pria itu yang sudah berdiri membuatnya bingung. Lalu ia melihat rombongan evaluator sudah bangkit untuk meninggalkan ruangan, bergerak melakukan tugas mereka pada setiap divisi. Maka, mau tidak mau Dila harus ikut bangkit untuk melakukan pengecekan keseluruhan. Ia berdiri perlahan dan dengan santai membawa tas tangannya.

“Oops, berhati-hatilah. Mantan rekan kerjamu akan segera kemari.”

Mendengar hal itu, Dila menatap ke belakang dan menemukan Desi juga Terra yang terbirit-birit kearahnya. Terlihat begitu mengharukan karena mereka yang berpakaian formal namun tidak mencerminkan ke profesionalan dengan menunjukkan ekspresi yang berlebihan.

“Bu Dila!”

Secara bersamaan mereka memeluk tubuhnya yang kini sangat ramping. Salahkan dirinya yang sempat koma selama enam hari.

Pelukan yang datang secara beruntun dan tiba-tiba itu membuat tubuhnya goyah. Dengan sekuat tenaga Dila menahan dirinya agar ia tak terjatuh dan mempermalukan dirinya sendiri. Sebisa mungkin ia tetap tersenyum walaupun kini ia merasa gundah.

Love? Trust? Work? or Hobbies? [Dalam Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang