30. Teman Asingnya

774 45 4
                                    

Setelah usaha yang begitu menyulitkan, dengan upaya di balik kepanikan, Rivan berhasil membuka kunci gerbang dan berlari cukup cepat ke arah Dila. Tanpa ia pikirkan lagi, ia segera merebut kunci mobil yang berada di genggaman Dila dan mencari paper bag untuk membantu pernapasan Dila. Seperti apa yang dilakukan oleh Herlambang.

Dengan paper bag yang sudah berada di tangannya, Rivan mengangkat Dila untuk bersandar di badan mobil. Ia tak kuasa ketika menyentuh tangan Dila yang ternyata begitu dingin dan tubuhnya yang bergetar hebat. Dalam keadaan seperti ini, ia seharusnya beristirahat seperti apa yang sudah Rivan katakan.

Bukan tetap memaksakan untuk berkerja.

Rivan dengan setengah hati menahan paper bag untuk tetap berada di sekitar hidung dan mulut Dila. Ia meyakinkan diri bahwa setelah napas Dila kembali normal, ia akan membawanya ke Rumah Sakit. Tak berdaya jika Dila terus mengalami hal seperti ini.
Ia benar-benar tak mengetahui apapun mengenai gadis kuat ini.
Tangan gemetar itu terangkat untuk menyentuh pergelangan tangan Rivan. Ia benar-benar terlihat lemas. Napasnya tak menderu seperti tadi, namun Rivan dapat melihat bahwa Dila masih kesulitan untuk mengontrol pernapasannya.

"Ri..van..."

Mata bulat itu terbuka secara perlahan. Mata sayu itu sarat akan perasaan yang tertahankan. Rivan mendekatkan tubuhnya, ia yakin Dila belum bisa melihatnya secara jelas. Ada helaan napas yang begitu berat sebelum akhirnya, yang entah bagaimana awalnya, Dila memeluk Rivan tanpa sungkan.

"Syukurlah."

Rivan tertegun. Sebagaimana rasa terkejutnya saat ia mendapatkan panggilan dari Dila, ia lebih terkejut pada kenyataan saat ini. Gadis yang merupakan calon istrinya itu tengah memeluknya. Mengatakan betapa ia bersyukur jika Rivan baik-baik saja. Namun hal yang lebih mengejutkan adalah...

'Apa aku dipeluk oleh seorang wanita? Aku rasa tulang rusukku akan patah beberapa saat lagi.'

Begitu kuat hingga Rivan mengira bahwa yang sedang memeluknya bukanlah Dila yang Rivan kenal.

Ia yang kini meyakinkan diri bahwa yang sedang memeluknya adalah Dila, tanpa ragu pun ia membalas pelukannya dan mengusap punggung Dila dengan cara yang paling halus. Kembali meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. Tak pernah ada yang tak beres. Dila mengangguk namun bisa Rivan dengar napasnya masih belum kembali normal.

BRAK!

Rivan menengok dan menemukan sosok perempuan yang berparas asing. Mengenakan dress selutut dan mengenakan mantel dengan panjang yang sama dengan dress yang ia kenakan. Wajahnya penuh dengan kebingungan lalu beberapa kali ia melihat nomor rumah Dila.

Lelaki itu mengerutkan kening, benar-benar tak mengerti apa yang dilakukan oleh orang asing -yang benar-benar orang asing- di sekitar rumah Dila. Dalam kondisi pikiran yang masih kacau, perempuan itu berlari dengan kopernya dan menghampiri Rivan.

"Aurin?! Is that you? Oh my God." Perempuan itu duduk di samping tubuh Dila dan beberapa kali menepuk pipi Dila.

'Aurin?'

"Please... can you at least put her in her bed?"

Rivan mengangguk.
Dila sama sekali tak merenggangkan intensitas pelukannya. Mau tak mau Rivan membawanya dengan cara yang cukup merepotkan. Dila tak melepaskan tautan tangannya dari leher Rivan. Sementara perempuan asing itu masuk. Seakan ini adalah rumah yang sering ia kunjungi. Rivan tak bisa melarangnya, ia bahkan tak tahu apakah perempuan itu adalah teman Dila atau bukan.

Love? Trust? Work? or Hobbies? [Dalam Revisi]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang