Hai guys 👋, maaf ya kalau ada penggunaan kata atau kalimat yang salah. Serta typo yang bertebaran dimana-mana, dan juga maaf kalau penulisannya masih berantakan, terbelit-belit, serta ada penyusunan kata/kalimat yang kurang tepat. Kalian bisa komen salahnya dimana, nanti saya perbaiki.
Happy Reading
Setibanya di kamar, Qila menangis sesegukan dengan posisi tengkurap di atas kasur dengan wajah yang di tutupi oleh sebuah bantal. Qila selalu mengingat-ingat bentakan-bentakan yang di lontarkan Alzio padanya.
Qila merasa jika hari ini Suaminya berbeda. Qila mengaku salah perihal tadi, tetapi Suaminya tidak mau memaafkannya dan memilih untuk pisah ranjang dengan nya.
"Hiks maaf". Ucap Qila dengan sesegukan.
Qila merasa jika sekarang perutnya lebih nyeri di bandingkan tadi. Qila memegangi bagian perutnya yang nyeri dan memilih untuk berbaring miring ke samping dengan memeluk boneka besar pemberian Alzio sembari terus memegang perutnya.
"Perutnya sakit". Adunya pada boneka di pelukan nya. Menganggap jika yang ia peluk saat ini adalah tubuh Suaminya, bukan boneka.
" Kamu kenapa marah-marah terus sama aku?, padahal bisa bicara hiks baik-baik. Kamu juga bentak-bentak... Aku gak suka hiks". Ucapnya dengan air mata yang terus mengalir. Membuat bantal yang ia gunakan menjadi sedikit basah karena air matanya.
"Aku cuma pengen nasi goreng buatan kamu, tapi kamu malah marahin Aku. Kamu juga bilang kalau aku ngerepotin hiks. Jahat banget kamu ngomong begitu ke aku hiks".
" Maaf kalau aku ngerepotin hiks, maaf sudah buat kamu marah, capek sama sikapku. Tapi hiks.. Aku gak tau kenapa aku begini. Rasanya aku hiks pengen deket-deket sama kamu terus. Aduh perutku sakit banget ".
"Cuma karena handphone kamu sampai diemin aku begini, kamu bentak-bentak aku padahal kamu tau aku gak suka di bentak hiks".
" Hiks perutnya sakit hiks. Mas tadi kamu denger aku jatuh kan?, kenapa kamu gak datang?. Bahkan kamu gak peduli sama aku".
"Mas sini perutku ini sakit hiks". Perlahan-lahan Qila menutup matanya dengan air mata yang masih mengalir dan tak lupa juga suara sesegukan yang semakin hilang.
•••
" Sayang kamu sudah bangun? ". Tanya Alzio saat melihat Qila baru saja membuka matanya secara perlahan-lahan.
Qila merasa asing dengan tempat ini. Ini bukan kamar yang ia tempati saat terakhir kali ia tidur, dan saat bangun ia sudah berada di tempat lain. " Mas ini dimana? ". Tanya Qila dengan pelan.
" Rumah sakit sayang. Gimana kamu sudah enakan? ". Tanya Alzio sesekali mengecup kening Qila.
" Rumah sakit?, memangnya aku kenapa? ". Tanya Qila bingung.
~Flashback On~
Di subuh hari, saat Alzio ingin menjalankan ibadah shalat subuh. Alzio bangun dan langsung ke kamar untuk membangunkan Istrinya itu dan mengajak untuk shalat subuh berjamaah.
Saat Alzio membuka pintu kamar, Alzio melihat sang istri yang masih tertidur sembari memeluk boneka pemberian nya. Alzio pun mendekati Qila dan mencoba untuk membangun kan Qila dengan sangat lembut. Namun, Qila sama sekali tidak merespon dan tetap menutup matanya dengan wajah yang sangat sembab karena habis menangis.
Alzio terus membangun kan Qila dengan berbagai cara, di mulai dari mengapit hidung Qila, mencium seluruh permukaan wajah Qila, mengguncang tubuh Qila dan menyipratkan air ke wajah Qila. Namun, Qila sama sekali tidak ada respon.
Tidak biasanya Istrinya seperti ini saat di bangun kan. Biasanya Alzio cukup dengan mengapit hidung sang Istri atau tidak menciumi seluruh permukaan wajah Istrinya. Tetapi sekarang semua itu sama sekali tidak mempan.
Melihat wajah pucat sang istri membuat Alzio panik dan khawatir akan keadaan Istrinya saat ini. Tanpa pikir panjang lagi Alzio langsung mengambil hijab instan Qila dan memakai kan nya pada Istrinya itu.
Kemudian Alzio membawa Istri kecil nya yang sudah tidak sadar diri ke rumah sakit terdekat agar Istrinya segera mendapatkan penanganan dokter dengan cepat.
Sesampainya disana, Alzio membawa Qila ke UGD dengan seorang dokter dan dua suster yang membantunya untuk memeriksa keadaan Istri kecilnya.
"Maaf Pak, anda tidak boleh masuk". Larang salah satu suster disana saat Alzio ingin ikut masuk ke dalam UGD.
" Tapi saya suaminya sus, dia istri saya". Ucap Alzio marah dan sedikit berteriak. Dirinya benar-benar khawatir sekarang, entah kenapa tiba-tiba Istrinya sudah pingsan di subuh hari. Padahal malamnya Istrinya itu baik-baik saja.
"Maaf Pak, tolong jangan teriak-teriak di rumah sakit. Silahkan anda tunggu disana". Ucap suster itu dan langsung menutup pintu UGD.
Alzio pasrah dan terus mondar-mandir di depan pintu UGD dengan perasaan tak tenang, cemas, khawatir dan resah akan keadaan sang istri. Matanya sudah berair dan menyesal atas perbuatan nya semalam. Ia tak menyangka jika Istrinya akan seperti ini.
Jika waktu bisa di putar Alzio akan menuruti permintaan Sang Istri dan mencoba untuk lebih sabar lagi untuk tidak memarahi Istri kecilnya itu. Alzio teringat akan permintaan Qila yang meminta dirinya untuk membuat kan nasi goreng.
"Sayang mau nasi goreng buatan mas ya? ". Air matanya jatuh begitu saja. Dengan cepat Alzio mengusap dan selalu berdo'a agar istrinya baik-baik saja.
Tak lama pintu UGD terbuka, memperlihatkan seorang dokter wanita yang baru saja memeriksa keadaan Istrinya. Dengan cepat Alzio menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan Qila. "Gimana keadaan Istri saya dok? ". Tanya Alzio dengan wajah khawatir.
"Bu Qila hanya kelelahan saja Pak, Bu Qila kekurangan nutrisi dan itu sangat berdampak besar pada ibu hamil. Bisa menyebabkan anemia dan kelainan pada fisik dan saraf dari janin hingga menyebabkan kematian". Ucap dokter itu yang menjelaskan tentang kondisi Qila saat ini.
Sedangkan Alzio tiba-tiba diam dan terkejut saat mendengar kata 'Ibu Hamil' yang di ucapkan oleh sang dokter yang memeriksa keadaan Istrinya.
"Ibu hamil? ". Tanya Alzio memastikan jika dirinya tidak salah dengar.
" Loh Pak Al gak tau? ". Alzio menggelengkan kepala nya pelan dengan jantung yang masih berdegup kencang. Tangannya seketika menjadi dingin karena mendengar penjelasan yang di katakan oleh sang dokter.
" Jadi gini Pak, Bu Qila saat ini sedang mengandung ". Mendengar penuturan sang dokter, perlahan-lahan sebuah senyuman terbit di wajah tampan Alzio.
Hatinya begitu gembira dan merasa jika semua ini hanyalah mimpi baginya. Ia hanya tidak menyangka jika saat ini dirinya akan menjadi seorang Ayah dari wanita yang sangat amat ia cintai, belahan jiwanya dan juga hidup nya.
"Ini benar kan dok?, saya akan menjadi seorang ayah? ". Tanya Alzio sekali lagi.
" Iya Pak, selamat atas kehamilan Bu Qila ". Ucap dokter itu memberikan selamat.
" Alhamdulillah ". Saat ini Alzio ingin sekali menangis karena terharu mendengar kebar gembira yang di ucapkan oleh dokter tadi. " Istri saya baik-baik aja kan dok?, Sekarang usia kandungan Istri Saya sudah berapa bulan dok? ".
" Istri bapak baik-baik saja, Hanya kekurangan vitamin dan nutrisi. Untuk usia kandungnya lebih baik Pak Al periksa ke dokter yang lebih ahli di bagian kandungan. Di sana Pak Al bisa mengetahui usia, kesehatan ibu dan bayi, dan melihat perkembangan janin". Ucap Dokter itu menjelaskan panjang lebar. "Baik Pak Al kalau begitu saya permisi dulu". Pamit nya pada Alzio.
" Terima Kasih Dok".
"Sama-sama Pak ". Setelah itu, dokter wanita itupun pergi dan meninggalkan Alzio di depan UGD.
Alzio segera menemui istri kecilnya yang sedari tadi belum siuman dari pingsannya. Alzio mencium kening Qila lama dan mengusap kepala Istrinya lembut dengan senyuman yang senantiasa terbit di wajahnya. "Sayang ayo bangun, kenapa kamu gak bilang kalau kamu hamil Sayang. Sebentar lagi kamu jadi Ibu". Ucap nya sembari mengelus kepala Qila dan mencium kening Qila sejenak.
Cup
Sorot mata Alzio melihat ke arah perut sang Istri yang sedikit buncit. Perlahan-lahan tangannya menyentuh perut istrinya yang terlihat sedikit buncit dan mengelus lembut. " Assalamu'alaikum anak Ayah... Sehat-sehat terus ya di dalam sana".
Cup
Alzio mencium perut Qila sedikit lama dan mengelus lembut perut Qila. Ia teringat jika 2 hari yang lalu Istrinya itu terus saja mengeluh jika dirinya gendutan dan perut nya menjadi buncit. Alhasil Alzio pun menjaili sang Istri dan mengatakan jika perut Qila seperti perut badut. Qila pun menjadi marah pada ucapan bercanda dari suaminya dan memilih untuk mendiamkan suaminya itu selama 6 jam lamanya.
"Jadi yang Ayah ejek setiap malam ini kamu ya Sayang hm?. Maafin Ayah ya nak, Ayah gak tau kalau kamu tumbuh di dalam perut Mama". Ucapnya yang sesekali mencium perut Qila lagi.
~Flashback Off~
" Kenapa gak kasih tau kalau kamu hamil hm? ". Tanya Alzio lembut.
" Aku?, h-hamil? ". Bingung Qila pada ucapan Alzio.
" Iya sayang. Kamu gak tau hm? ". Qila menatap Alzio dengan raut kebingungan di wajahnya. Alzio pun mengarahkan tangan kanan Qila ke perut sang Istri sembari mengatakan. "Di dalam sini ada anak kita sayang. In Syaa Allah sebentar lagi kamu akan jadi Mama dan Mas jadi Ayah". Ucap Alzio dengan wajah berbinar sembari menatap sayu Qila yang juga menatapnya tak percaya.
" Mas serius? ". Alzio menganggukkan kepalanya sembari tersenyum bahagia. " Huwaa Mas kenapa ada bayi di perut ku". Ucap Qila yang langsung memeluk Alzio dengan sangat erat.
Alzio mengerutkan dahi bingung, apa maksud Istri nya 'kenapa'. "Kamu gak senang mau punya anak Sayang? ". Tanya Alzio yang melepaskan pelukan itu dan menatap lekat mata sang Istri.
" Bukan gitu Mas, Aku seneng bakal jadi ibu. Tapi yang aku heran kok cepet banget sih Mas". Ucapnya heran. Pasalnya Qila pikir jika ingin mempunyai anak harus menunggu 2 tahun dulu baru bisa memiliki anak.
"Mas juga gak tau Sayang, nanti kita periksa ke dokter kandungan ya".
" Gak mau". Tolak Qila cepat.
"Kenapa hm?, biar kita tau tentang kesehatan anak kita Sayang". Ujar Alzio sembari merapikan hijab Qila yang berantakan.
" Nanti kalau aku di suntik gimana? ". Sejak kecil, Qila selalu menghindari yang namanya dokter dan saat dirinya sakit pun Qila selalu menolak untuk ke dokter. Karena Qila hanya takut pada jarum suntik yang akan menusuk kulit mulusnya.
Dan saat Qila akan menikah juga Qila di harusnya untuk suntik tetanus. Awal nya Qila menolak keras dan memilih untuk tidak di suntik. Namun, orang tua dan mertua nya selalu memaksa dirinya agar di suntik terlebih dahulu.
Alhasil Qila pun di paksa dan terpaksa untuk melakukan suntik tetanus pada tubuhnya dengan di temani oleh Indah dan juga Alfina di sebelah nya yang terus menenangkan Qila saat proses penyuntikan akan di mulai. Sedangkan Alzio, hanya menunggu di luar ruangan dan hanya seorang diri.
"Kalau di suntik kamu tenang aja sayang, ada mas yang selalu di samping kamu. Tapi sih seperti nya engga di suntik, hanya periksa biasa aja". Ucap Alzio yakin.
" Bener ya, awas bohong. O'iya, kamu sudah kabari Mama sama Papa? ". Tanya Qila pada Alzio.
" Astaghfirullah mas lupa Sayang. Bentar ya Mas telpon pakai handphone kamu dulu".
"Jangan mas, jangan kasih tau Mama sama Papa dulu. Kita buat suprise aja". Usul Qila yang di setujui oleh Alzio. " Boleh juga".
"Aku gak sabar banget buat kasih tau Mama sama Papa".
______________________________________________
Bersambung...
Tunggu Part Selanjutnya Yaa!!
Kalau kalian suka jangan lupa untuk vote yaa, karena dengan kalian vote berarti kalian mensupport cerita yang saya buat dan vote kalian juga bisa bikin saya tambah semangat buat nulis. Makasih yang sudah vote dan comment. Semoga kalian sehat selalu 🌻
Terima Kasih
Kamis, 23 Juni 2022