12. Weird

268 51 24
                                    

Dasha memperhatikan kucing oranye yang baru saja kering bulunya. Bermain-main dengan benang wol yang jatuh dari meja, lalu meloncat kegirangan karena entah apa itu. Mungkin dia terlalu bahagia ...

"Ah! Kau belum makan, kan?" sontak, Dasha langsung mendudukkan tubuhnya. Memandang lurus ke arah si kucing yang tengah menggeliat nyaman di kaki telanjangnya.

"Aku tidak punya makanan kucing—susu ... yah, habis ... aku mau belanja dulu, kau tetap diam di sini, ya!" Dasha menunjuk kucingnya yang sedang menatapnya. "Ugh, kenapa kau lucu sekaliii~~~ sudah, yaa. Dahh!!*

***

"Iya, jadi begitu. Aku juga kurang tahu apa merk yang bagus ... "

"Sudah coba merk ini?" Ten mengeluarkan satu kaleng kuning makanan kucing dari keranjang belanjanya. "Oh! Ini! Aku ingat dulu di Toronto juga ada, tapi seingatku di Amerika dijual dengan kemasan plastik. Aman untuk anak kucing?"

Ten mengangguk antusias, "Tentu saja! Sejak Louis dan Leon kecil, selalu aku beri yang ini. Tapi kau harus teliti. Untuk umur satu sampai tujuh minggu beli yang kemasan warna oranye, kandungannya beda."

Dasha mengangguk-angguk mengerti. Seperti yang kalian tahu sebelumnya, Dasha baru saja berjalan ke supermarket untuk membeli beberapa barang yang bisa dikonsumsi si kucing.

Dan kebetulan sekali Kun dengan segerombolan anak-anak Cina nya beramai-ramai ke supermarket. Bahkan, mereka membawa kamera, alias sedang setengah syuting juga.

Sebenarnya pada awal, Dasha tidak menyadari keberadaan unit mereka berjalan kesini, Ten dan Hendery yang menyapa duluan. Jadi sekalian saja mereka berdua bertanya apa yang Dasha lakukan di rak-rak 'Pet Needs'.

Semenit kemudian, Dasha kembali ke Ten dengan membawa barang yang ia maksud sebelumnya, "Ini, kan?"

Ten mengangguk, "Iya, yang itu. Dan—oh, Dasha sonbae-nim, aku duluan, ya? semua ini harus segera kami bawa ke dorm. Selamat tinggal," Ten melambaikan tangan, kemudian Dasha membungkuk sopan, "Ah, iya, terimakasih banyak Ten-ssi."

Dasha memandangi kaleng yang ia bawa sejenak, "Memangnya bisa, ya, dimakan oleh anak kucing liar?"

***

Pulang-pulang dari apartemen Dasha yang baru, si sulung bukannya dapat sambutan baik dari adik-adiknya. Tapi mereka ber-lima—iya, berlima. Kan Jisung korban—malah penasaran apa biang kerok si bontot bad mood seharian.

"Apa?!" Bentak Mark ketika Jeno-Jaemin mengepungnya saat ia baru saja masuk lewat pintu belakang. "Hm, mencurigakan ... " Jaemin mengusap dagu, seakan itu ditumbuhi banyak jenggot.

"Kenapa Hyung lewat pintu belakang?" tanya Jeno to the point. Mark gelagapan. Yang ditipu tadi kan Chenle, bukan Jeno atau Jaemin. Tapi mereka malah yang paling pertama memperlihatkan batang hidungnya di depan Mark, lho.

Tapi beruntung, untuk pertanyaan Jeno kali ini dapat terjawab normal. Puji syukur, di jalan belakang dorm ini ada gang yang langsung menuju minimarket sepi. Ya, kalian tahu maksudnya, kan?

"Aku lewat jalan di belakang, memang. Kan supermarket lebih cepat lewat sana," ujar Mark membela diri setelah spa muka manual dan mendadak dalam rangka, 'Kau Harus Menang!'

Jeno mengangguk, "Oke, sekarang belanjaan Hyung di copet, ya?"

"Ya siapa bilang aku belanja? aku tadi ke minimarket, kan hanya ingin beli ramen dan kue ikan. Tentu saja ku makan di sana. Apa yang mau aku bawa pulang?" Mark menaikkan bahu.

Jaemin memicingkan matanya, kemudian mendekatkan bibir licinnya ke telinga Jeno. Berbisik sesuatu.

"Sini, Hyung," giliran Jaemin yang ancang ancang ingin berbisik sesuatu pada Mark. "Awas, ketahuan paparazi, lho."

"UHUY, BISIK BISIK TETANGGA UHUY, UHUY!"

Haechan lagi, Haechan lagi. Setelah kejadian Mark merajuk satu minggu sampai minggat ke dorm 127, tidak usah diceritakan, nanti lama. Pokoknya Haechan itu sumber utama segala masalah di Korea Selatan. Titik.

"Magu Hyung awas ketahuan paparazi. Nanti kau yang susah. Sudah di cap playboy gara-gara dekat dengan dua wanita, nanti Mina Nuna yang menangis memohon padamu—dan ah, paling mentok kau di keluarkan dari agensi. Yahh, paling tidak denda ... "

"Mulutmu, Chan," tutur Jaemin penuh nada kepasrahan sambil menepuk jidat. "Biasalah, kebanyakan makan gorengan, jadi banyak minyaknya. Licin," potong Renjun yang berjalan ke wastafel dengan satu mangkuk kotor bekas makanan.

"Diam, dasar si mulut busa." Ejek Haechan menatap ke arah Renjun. Renjun tidak terima, langsung berbalik badan, "Yang mulut busa itu aku atau kau, hah?!"

"Kau, lah!"

"KAU!"

"YANG MASAK DI DORM KAN KAU?!"

"LALU?!"

"YA MAKANNYA GANTI MENU!"

"HAEC—"

"CUKUP!" Mark dengan wajah frustasi menggebrak meja makan. Ini sebenarnya yang punya masalah Mark atau mereka berdua sih?

"Jangan membuatku tambah pusing, diamlah!" Bentak Mark yang jelas-jelas ditujukan pada Haechan dan Renjun. Biasanya Mark tidak pernah marah—eh, maksudnya se-marah ini, kecuali dengan Haechan. Jadi Haechan sudah kebal, mentalnya sekuat baja kalau menghadapi Mark seperti ini.

"Ya sudah, iya, ahjussi," Haechan dengan muka tengilnya menunduk 90 derajat ke arah Mark, seolah sang kakak adalah paman paman hampir kakek kakek yang dihormati.

Mark lelah, siapapun ambil dia, selamatkan dia.

capitulate.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang